Konten dari Pengguna
Jugun Ianfu dan Luka Pendidikan Perempuan Bumi Putera
27 November 2025 9:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Jugun Ianfu dan Luka Pendidikan Perempuan Bumi Putera
Kisah Jugun Ianfu adalah ruang paling gelap dalam sejarah Nusantara, menunjukkan bagaimana tubuh perempuan dijadikan medan perang ketika pendidikan mereka lemah akibat kolonialisme.rezki ravi
Tulisan dari rezki ravi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Dalam percakapan sejarah, nama Jugun Ianfu selalu muncul sebagai salah satu luka yang paling sulit disembuhkan. Istilah itu memang terdengar lembut—“perempuan penghibur”—tetapi realitas di baliknya sangat keras. Ini bukan sekadar layanan kepada tentara Jepang. Ini adalah sistem perbudakan seksual yang dibangun dengan rapi oleh militer, lengkap dengan administrasi, anggaran, logistik, dan strategi. Dalam dunia akademik, ini disebut military sexual slavery, bentuk eksploitasi tubuh perempuan yang dilembagakan oleh negara.
ADVERTISEMENT
Sistem ini berjalan seperti mesin yaitu dimana tentara butuh rumah penghibur, rumah penghibur butuh perempuan, dan perempuan dicari melalui jaringan yang tersebar dari kota sampai desa terpencil. Tubuh perempuan diseret ke dalam logika perang, dijadikan alat pengaman moral pasukan, dan disulap menjadi objek kontrol negara.
Jebakan yang Dikemas dalam Perekrutan yang Tersusun Rapi
Para perempuan yang kelak disebut Jugun Ianfu tidak datang dengan sukarela. Mereka direkrut melalui cara yang berlapis, yang kadang tampak halus dan kadang sangat kasar.
Ada yang dijanjikan pekerjaan—perawat, penjaga toko, juru masak, atau staf rumah tangga. Dalam dunia yang informasinya tidak merata, janji pekerjaan tampak seperti kesempatan, bukan ancaman. Ketika pendidikan tidak memberikan kemampuan untuk membaca tanda-tanda bahaya, penipuan bisa bekerja seperti arus sungai yang tenang tapi deras.
ADVERTISEMENT
Ada pula yang dipaksa melalui tekanan sosial dan administrasi. Kepala desa diminta mengumpulkan perempuan muda untuk “mengabdi”. Keluarga diberi tahu bahwa anak-anak perempuan mereka “dibutuhkan negara sekutu Jepang”. Kekerasan tidak perlu hadir dalam bentuk pukulan; administrasi bisa menjadi alat paksa yang lebih halus tapi jauh lebih efektif.
Ketika situasi perang semakin genting, Jepang beralih pada penculikan langsung. Perempuan diambil dari rumah, sawah, sekolah. Semakin terdesak militer, semakin hilang batas moral yang tersisa.
Perekrutan ini—baik melalui tipu daya, tekanan sosial, atau kekerasan—terjadi karena perempuan bumi putera berada dalam struktur sosial yang membuat mereka rentan. Mereka adalah orang-orang yang sejak kecil dibesarkan dalam dunia yang tidak menyediakan pendidikan memadai. Kerentanan itu bukan bawaan; ia hasil dari desain kolonial.
ADVERTISEMENT
Mengapa Perempuan Begitu Rentan? Di sinilah Pendidikan Punya Peran Besar
Kerentanan perempuan Bumi Putera pada masa pendudukan Jepang bukan muncul tiba-tiba. Ia adalah hasil panjang dari bagaimana pendidikan kolonial membentuk siapa yang memiliki pengetahuan, siapa yang dipinggirkan, dan siapa yang akhirnya mudah ditarik masuk ke sistem perbudakan seksual seperti Jugun Ianfu. Luka itu bukan hanya luka tubuh; ia adalah luka yang ditanam oleh sejarah pendidikan yang timpang.
Pada masa Hindia Belanda, pendidikan perempuan memang ada, tetapi berdiri seperti jendela kecil di rumah besar yang pintunya dikunci dari luar. Sekolah untuk perempuan priyayi dibuka, tetapi kurikulumnya diarahkan bukan untuk melahirkan warga yang kritis. Mereka diajari bagaimana menjadi “perempuan terhormat” versi kolonial—rapi, patuh, terampil mengurus rumah. Tidak ada ruang untuk mempelajari hak atas tubuh, memahami propaganda perang, atau membaca jebakan kekuasaan. Pendidikan semacam ini membentuk perempuan menjadi terdidik secukupnya bagi kehidupan domestik, tetapi tidak cukup untuk memahami pusaran bahaya yang kelak datang.
ADVERTISEMENT
Bagi perempuan desa, kondisinya lebih gelap. Banyak dari mereka tumbuh tanpa satu pun akses ke bangku sekolah. Pengetahuan mereka datang dari tradisi, dari cerita orang tua, dari tafsir dunia yang tidak pernah bersinggungan dengan politik internasional. Ketika tentara Jepang datang membawa brosur pekerjaan, janji gaji, atau narasi “saudara tua pembebas Asia”, mereka tidak memiliki alat untuk membaca bahwa itu hanyalah kelambu yang menutupi perang dan pemaksaan. Ketidaktahuan yang lahir dari ketiadaan pendidikan menjadi pintu lebar perekrutan—baik lewat bujuk rayu maupun paksaan.
Di sinilah luka Jugun Ianfu menancap, dalam sistem pendidikan yang timpang membuat perempuan jauh lebih mudah diseret masuk ke barak-barak militer. Tanpa pengetahuan tentang hak, tanpa kemampuan menawar keputusan keluarga, tanpa pemahaman tentang kekerasan yang sedang merayap, perempuan akhirnya menjadi sasaran yang paling empuk. Mereka tidak “kurang cerdas”—mereka hanya tidak pernah diberi kesempatan untuk memiliki kecerdasan yang dibutuhkan untuk melawan. Luka ini bukan hanya dialami mereka yang direkrut, tetapi juga seluruh generasi perempuan Bumi Putera yang tumbuh dalam sistem yang mengecilkan ruang intelektual mereka. Ketika tubuh perempuan bisa diambil dan dipaksa, bukan semata-mata karena militer Jepang kuat, tetapi karena pendidikan perempuan lemah—lemah karena dibuat lemah.
ADVERTISEMENT
Kekejaman yang Tak Terlihat dan Luka yang Tak Selesai
Setelah direkrut—entah melalui tipu daya atau kekerasan—para perempuan ditempatkan di rumah penghibur yang dijaga ketat. Di sinilah kekejaman itu berlangsung. Mereka dipaksa melayani tentara, sering kali puluhan dalam sehari. Perlawanan berujung pukulan, hukuman, atau ancaman.
Tubuh mereka diperlakukan seperti barang. Jam istirahat minim. Kekerasan fisik bercampur dengan teror psikologis. Setelah perang berakhir, trauma itu tidak otomatis hilang. Banyak yang pulang dengan rasa malu yang bukan milik mereka, dengan stigma yang tidak mereka minta, dengan keluarga yang tidak tahu cara memeluk luka mereka.
Di titik ini, sejarah Jugun Ianfu bukan hanya tragedi individu. Ia tragedi pendidikan. Ketika perempuan tidak diberi pengetahuan untuk melindungi diri, tidak diberi kesempatan memahami hak tubuh, dan tidak diberi ruang belajar yang setara, kekerasan besar seperti ini bisa terjadi tanpa banyak perlawanan.
ADVERTISEMENT
Pendidikan sebagai Benteng yang Terlambat Hadir
Jika melihat ke belakang, pendidikan perempuan di masa kolonial tidak pernah dirancang untuk menguatkan mereka. Itu sebabnya ketika Jepang datang dengan sistem perekrutan terselubung, perempuan-perempuan bumi putera tidak memiliki alat pengetahuan untuk melawannya. Mereka tidak diberi bahasa untuk berkata tidak. Mereka tidak punya ruang untuk memahami bagaimana kekuasaan bekerja.
Luka Jugun Ianfu kemudian menjadi cermin besar bagi bangsa, pendidikan bukan sekadar mengajar membaca, menulis, menghitung. Ia adalah benteng sosial—perlindungan yang mencegah tubuh perempuan direbut oleh kekuasaan, perang, atau jebakan yang dikemas rapi.
Trauma para korban Jugun Ianfu mengajarkan satu hal penting yaitu tanpa pendidikan yang setara, perempuan akan selalu berada di pinggir sejarah—bukan sebagai penentu arah, tetapi sebagai korban dari keputusan yang dibuat oleh orang lain.
ADVERTISEMENT

