Konten dari Pengguna

Ketika Hutan Ingin Didengar: Makna di Balik Misteri Mata yang Menggelinding

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rhaisya Nuridha Mahpuzh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto oleh Elizaveta Dushechkina dari Pexels: https://www.pexels.com/id-id/foto/wanita-yang-tenang-di-balik-kulit-pohon-di-taman-3727149/
zoom-in-whitePerbesar
Foto oleh Elizaveta Dushechkina dari Pexels: https://www.pexels.com/id-id/foto/wanita-yang-tenang-di-balik-kulit-pohon-di-taman-3727149/

Karya sastra sering menjadi media untuk menyampaikan kritik terhadap kehidupan. Cerpen “Mata yang Ingin Didengar” karya Auranita Gibrani Darmawan. tidak hanya menghadirkan cerita bernuansa misteri, tetapi juga menyampaikan pesan tentang kerusakan hutan akibat ulah manusia. Melalui simbol "mata" yang terus muncul saat pohon ditebang, pengarang mengajak pembaca melihat kembali hubungan manusia dengan alam.

Cerpen ini menceritakan sekelompok pekerja yang membuka lahan dengan menebang pohon-pohon tua. Setiap kali pohon tumbang, muncul sebuah mata yang menggelinding dan tidak pernah berhasil ditangkap. Peristiwa tersebut menjadi pusat konflik sekaligus simbol dalam cerita.

"Kita dapat tugas lagi. Kali ini di hutan lain. Bawa semua alat karena kabarnya pohon di sana udah ratusan tahun."

Dialog tersebut menunjukkan bahwa hutan dipandang sebagai sumber keuntungan, bukan sebagai lingkungan yang harus dijaga.

Permasalahan dalam cerpen adalah hilangnya kepedulian manusia terhadap alam. Para pekerja lebih fokus menyelesaikan target pekerjaan daripada memikirkan dampak penebangan.

"Minimal setengah hektar kita bisa selesai."

Di sisi lain, Bagas justru mempertanyakan kejadian aneh yang terus muncul.

"Mata siapa?"

Pertanyaan itu tidak pernah dijawab secara langsung sehingga menjadi simbol yang mengajak pembaca berpikir.

Cerpen ini menunjukkan bahwa alam seolah memberikan peringatan kepada manusia. Mata yang menggelinding menjadi simbol bahwa setiap kerusakan yang dilakukan akan meninggalkan akibat.

Pesan tersebut diperkuat pada akhir cerita melalui dialog:

"Kok mata mereka bolong, Bos?"

Kalimat ini dapat dimaknai sebagai hilangnya kesadaran manusia terhadap kerusakan lingkungan.

Cerpen ini menggunakan Teori Pengkajian Fiksi dari Burhan Nurgiyantoro (2018). Menurut Nurgiyantoro, makna karya fiksi dibangun melalui unsur-unsur intrinsik, seperti tema, tokoh, latar, alur, dan simbol. Dalam cerpen ini, simbol "mata" menjadi unsur yang paling menonjol karena digunakan pengarang untuk menyampaikan kritik terhadap eksploitasi hutan.

Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan objektif. Analisis difokuskan pada unsur-unsur yang terdapat dalam cerpen, terutama tema, tokoh, dialog, dan simbol, tanpa mengaitkan latar belakang pengarang maupun respons pembaca.

Cerpen “Mata yang Ingin Didengar” menunjukkan bahwa unsur misteri dapat digunakan sebagai media kritik sosial. Simbol mata yang terus menggelinding bukan sekadar menghadirkan suasana horor, tetapi menjadi peringatan atas kerusakan hutan akibat ulah manusia. Melalui tema, tokoh, dialog, dan simbol, pengarang mengajak pembaca untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan menyadari bahwa alam juga memiliki cara untuk "didengar".

Daftar Pustaka

Darmawan, Auranita Gibrani. 2026. Mata yang Ingin Didengar. Harian Kompas, Rubrik Sastra, Maret 2026. Kompas.id

Nurgiyantoro, Burhan. 2018. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.