Konten dari Pengguna

Sisi Gelap "BookTok": Ketika Membaca Berubah Jadi FOMO

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari rhazella nazarena tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Photo by Kindel Media: https://www.pexels.com/photo/a-person-holding-a-stack-of-books-7054519/
zoom-in-whitePerbesar
Photo by Kindel Media: https://www.pexels.com/photo/a-person-holding-a-stack-of-books-7054519/

Dalam beberapa tahun terakhir, platform TikTok berhasil mengubah wajah literasi dunia. Melalui komunitas kreatif yang dikenal sebagai BookTok, membaca buku tidak lagi dicap sebagai hobi yang kuno atau membosankan. Berkat ulasan visual yang estetis, rekomendasi penuh emosi, dan tren pembacaan novel yang masif, toko-toko buku kembali dipadati oleh anak muda dari generasi Z.

Namun, di balik euforia kembalinya minat baca ini, tersimpan sebuah ironi yang jarang dibahas. Alih-alih merayakan substansi isi bacaan, BookTok perlahan menggiring sebagian pembacanya terjebak dalam jebakan overconsumption (konsumsi berlebihan) dan budaya FOMO yang mengkhawatirkan.

Membeli karena Tren, Menumpuk Tanpa Dibaca

Pernahkah kamu melihat rak buku seseorang yang dipenuhi puluhan novel best-seller edisi khusus yang sampulnya sangat cantik, tetapi

sebagian besar halamannya masih bersih tanpa pernah disentuh? Fenomena ini jamak ditemukan di era BookTok.

Banyak orang—terutama anak muda—membeli buku bukan karena dorongan kuat untuk memahami isinya, melainkan akibat rasa takut ketinggalan tren (FOMO). Ketika sebuah novel viral dan berseliweran di FYP (For You Page) dengan ulasan yang hiperbolis, dorongan belanja seketika muncul. Buku dibeli, dipamerkan di media sosial, lalu dibiarkan menumpuk sebagai pajangan kamar. Membaca yang tadinya merupakan aktivitas reflektif, bergeser menjadi sekadar simbol status gaya hidup (aesthetic lifestyle).

Jebakan "Hype": Tidak Semua Buku Viral Itu Bagus

Masalah lain yang muncul dari dominasi algoritma BookTok adalah standar kualitas karya. Buku-buku yang meledak di pasaran sering kali bukan karena kekuatan sastra, kedalaman alur, atau keindahan bahasanya, melainkan karena kebetulan menggunakan trope cerita yang sedang digandrungi (seperti enemies-to-lovers atau dark romance yang marak dibahas) serta strategi pemasaran visual yang masif.

Akibatnya, pembaca sering kali merasa dikecewakan setelah membaca buku yang dipuji setinggi langit di internet. Isinya ternyata dangkal, klise, atau bahkan mengecewakan. Geliat BookTok terkadang mengaburkan batas antara karya sastra yang benar-benar bermutu dengan produk instan pencari cuan penerbit.

Kembali ke Esensi Membaca

BookTok tentu saja memiliki sisi positif yang besar karena berhasil merangkul kembali minat baca jutaan anak muda. Namun, sudah saatnya kita menyadari batas antara hobi literasi dan konsumerisme berkedok hobi.

Membaca seharusnya bukan tentang seberapa banyak tumpukan buku fisik yang berhasil kita beli, atau seberapa cepat kita mengikuti tren bacaan demi konten media sosial. Sastra dan buku diciptakan untuk direnungkan, dipahami, dan merangsang cara berpikir kritis—bukan sekadar barang koleksi yang berakhir sebagai tumpukan debu.

Jadi, sebelum memutuskan check out keranjang belanja buku minggu ini, tanyakan pada diri sendiri: kamu benar-benar ingin membaca isinya, atau sekadar ingin meredakan rasa FOMO?