Terjebak "Doomscrolling": Saat Otak Kita Dibajak Tanpa Sadar

Mahasiswa Sastra Inggris, Universitas Pamulang. Tertarik dengan kajian sastra, bahasa, dan budaya pop.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari rhazella nazarena tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kamu berniat membuka ponsel "hanya lima menit" sebelum tidur, namun tiba-tiba sadar bahwa waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi? Yang lebih parah, isi kepala kita justru dipenuhi oleh rentetan berita buruk, kecemasan global, hingga konten acak yang sama sekali tidak penting.
Fenomena ini sudah akrab dalam keseharian kita dan dikenal sebagai doomscrolling—kebiasaan kompulsif yang menggulir layar ponsel tanpa henti untuk mencari informasi atau konten yang sering kali bernada negatif. Di tengah gempuran algoritma media sosial hari ini, doomscrolling bukan lagi sekadar hobi menghabiskan waktu luang, melainkan bentuk "pembajakan" kesadaran manusia secara massal.
Saat Otak Kita Dibajak oleh Dopamin Instan
Secara biologis, desain aplikasi media sosial saat ini memang diciptakan untuk memicu dopamine loop (siklus dopamin) di dalam otak kita. Setiap kali kita menggulir layar dan menemukan konten baru—entah itu video lucu, skandal selebriti, atau berita krisis ya—otak kita langsung menerima suntikan dopamin kilat.
Masalahnya, algoritma modern sangat menyukai konten provokatif dan mengerikan karena terbukti mencuri perhatian manusia lebih lama (attention economy). Akibatnya, kita terjebak dalam lingkaran setan: merasa cemas dengan informasi yang dikonsumsi, namun jari ini tetap menolak berhenti untuk scroll.
Dampaknya fatal bagi kesehatan mental. Alih-alih mendapatkan hiburan, kita justru menutup hari dengan kelelahan psikologis akut, dada yang sesak oleh kecemasan semu, dan pikiran yang tercerai-berai.
Ancaman Nyata bagi Daya Fokus dan Dunia Literasi
Sebagai seseorang yang bergelut dengan dunia teks dan sastra, dampak paling mengerikan dari doomscrolling yang saya rasakan—dan mungkin juga dirasakan banyak orang—adalah hancurnya rentang perhatian (attention span).
Hari ini, banyak orang merasakan bahwa membaca satu paragraf panjang atau sebuah buku bab demi bab terasa jauh lebih melelahkan dibanding beberapa tahun lalu. Otak kita telah "dilatih" oleh video berdurasi 15 detik atau cuitan pendek untuk menuntut stimulasi instan. Ketika dihadapkan pada bacaan yang menuntut perenungan mendalam (deep reading), otak langsung mengirim sinyal penolakan karena merasa bosan.
Jika kondisi ini dibiarkan, bukan tidak mungkin kemampuan berpikir kritis dan analitis masyarakat kita akan tumpul. Kita menjadi generasi yang pandai menelan informasi secara instan (skimming), namun kehilangan kemampuan untuk memahami konteks yang utuh di balik sebuah permasalahan.
Merebut Kembali Kendali Pikiran
Lantas, haruskah kita memusuhi teknologi? Tentu saja tidak ya. Ponsel dan internet adalah alat yang luar biasa, asalkan kita yang memegang kendali, bukan sebaliknya.
Melawan doomscrolling memang bukan perkara mudah, tapi ini adalah langkah penyelamatan diri yang mendesak. Mulailah dari hal-hal kecil: membatasi waktu layar (screen time), menyingkirkan ponsel setidaknya satu jam sebelum tidur, dan kembali memaksa otak kita untuk fokus membaca lembaran halaman buku fisik secara utuh.
Sebab, di tengah dunia yang bergerak serba cepat dan bising oleh algoritma, kemampuan untuk fokus, berpikir jernih, dan merenungkan sesuatu secara mendalam adalah kemewahan paling mahal yang harus kita pertahankan.
