Konten dari Pengguna

Ghosting: Budaya Menghilang Tanpa Pamit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rheyna Andreani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi seseorang menunggu respons yang tak kunjung datang. Di era digital, kemudahan untuk terhubung ternyata juga diiringi dengan kemudahan untuk menghilang tanpa penjelasan. (Sumber Ilustrasi dari AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seseorang menunggu respons yang tak kunjung datang. Di era digital, kemudahan untuk terhubung ternyata juga diiringi dengan kemudahan untuk menghilang tanpa penjelasan. (Sumber Ilustrasi dari AI)

Dulu, kalau seseorang ingin pergi, setidaknya ada sebuah percakapan yang harus diselesaikan.

Sekarang?

Kadang cukup dengan tidak membalas.

Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada kalimat, “kayaknya kita cukup sampai di sini.” Tidak ada penjelasan panjang yang disusun dengan hati-hati.

Hanya satu balasan yang tertunda.

Lalu tidak pernah datang sama sekali.

Kita menyebutnya ghosting.

Fenomena ini sering dilekatkan pada hubungan romantis. Padahal kenyataannya, ghosting ada di mana-mana. Dalam pertemanan yang tiba-tiba renggang tanpa alasan, dalam grup tugas yang mendadak kehilangan satu anggota menjelang deadline, bahkan dalam komunikasi profesional yang berhenti begitu saja tanpa kabar lanjutan.

Menghilang tanpa pamit perlahan berubah dari sesuatu yang dianggap tidak sopan menjadi sesuatu yang dimaklumi.

Mungkin karena menjelaskan memang melelahkan.

Mengatakan “aku tidak bisa melanjutkan ini” terasa lebih sulit daripada sekadar membiarkan pesan tidak terbalas. Menghadapi percakapan yang tidak nyaman terasa lebih berat daripada berharap waktu akan menyelesaikannya sendiri.

Di sisi lain, teknologi membuat semuanya menjadi jauh lebih mudah.

Tidak ingin berbicara?

Tinggal mute.

Tidak ingin melihat pesan masuk?

Tinggal archive.

Tidak ingin menjelaskan perasaan sendiri?

Tinggal diam lebih lama dari biasanya.

Lucunya, di era ketika kita bisa menghubungi siapa saja hanya dalam hitungan detik, kita juga memiliki kemampuan untuk menghilang dengan cara yang belum pernah dimiliki generasi sebelumnya.

Yang pergi mungkin sudah selesai.

Namun yang ditinggalkan sering kali masih sibuk mencari arti dari sebuah keheningan.

“Apa aku melakukan kesalahan?”

“Apa ada sesuatu yang terlewat?”

“Atau memang semuanya sudah berakhir?”

Sayangnya, tidak semua pertanyaan mendapatkan jawaban.

Dan mungkin di situlah ghosting terasa begitu mengganggu: bukan karena seseorang pergi, tetapi karena kita tidak pernah diberi kesempatan untuk memahami alasan kepergiannya.

Pada akhirnya, ghosting bukan sekadar tentang seseorang yang menghilang tanpa pamit.

Ia adalah potret budaya komunikasi hari ini, cepat untuk terhubung, cepat untuk dekat, dan terkadang terlalu cepat untuk menghilang.

Mungkin ghosting bukan lahir karena kita tidak peduli.

Mungkin kita hanya tumbuh menjadi generasi yang lebih diajarkan cara memulai percakapan daripada cara mengakhirinya.