Konten dari Pengguna

Algoritma Media Sosial Menggantikan Teman Curhat Generasi Digital

Rahmah Lestari

Rahmah Lestari

Mahasiswa Universitas Pamulang Jurusan Akuntansi S1 Prodi Ekonomi dan Bisnis

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rahmah Lestari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Algoritma media sosial memengaruhi kehidupan generasi digital. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Algoritma media sosial memengaruhi kehidupan generasi digital. Foto: Unsplash

Algoritma media sosial kini bukan cuma sistem rekomendasi konten, tetapi juga ruang pelarian emosional bagi banyak orang. Banyak pengguna kini menggantungkan emosi dan hiburan pada media sosial.

Media sosial awalnya hadir untuk mendekatkan manusia. Ironisnya, hari ini justru banyak orang merasa lebih nyaman “didengar” algoritma dibanding manusia lain. Kita curhat di TikTok lewat repost, marah lewat thread X, atau mencari validasi melalui konten “relate banget”. Diam-diam, algoritma sudah menjadi teman paling setia generasi sekarang.

Algoritma Media Sosial dan Generasi Kesepian

Fenomena ini bukan sekadar tren digital biasa. Banyak riset dan diskusi publik menunjukkan bahwa Gen Z kini lebih percaya rekomendasi algoritma media sosial dibanding institusi tradisional seperti media, kampus, bahkan pemerintah. Alasannya sederhana, yaitu algoritma terasa personal.

Ketika kita galau, FYP langsung dipenuhi video motivasi. Saat kita cemas soal karier, muncul konten “cara resign umur 25” atau “kerja remote di luar negeri”. Algoritma media sosial selalu punya jawaban cepat untuk keresahan kita. Sementara dunia nyata sering terasa lambat dan tidak benar-benar mendengar.

Di titik ini, media sosial tidak lagi sekadar platform hiburan. Ia berubah menjadi ruang pelarian emosional. Tidak heran tren seperti “#KaburAjaDulu” sempat viral di Indonesia. Banyak anak muda merasa masa depan di dalam negeri terlalu melelahkan biaya hidup naik, pekerjaan tidak pasti, dan standar sukses makin tidak realistis. Media sosial akhirnya menjadi tempat untuk melampiaskan rasa frustrasi sekaligus mencari harapan baru.

Algoritma media sosial membentuk pola pikir generasi muda. Foto: Unsplash

Namun ada masalah besar yang jarang dibahas yaitu algoritma tidak benar-benar peduli pada kita. Ia hanya peduli pada perhatian kita. Semakin lama kita menonton, semakin besar keuntungan platform.

Karena itu, konten yang ekstrem, emosional, dan memancing kecemasan sering lebih mudah viral. Kita dibuat terus scrolling tanpa sadar sedang digiring masuk ke “gelembung digital” yang makin sempit.

Akibatnya, banyak orang merasa paling benar sendiri. Kita mulai memilih informasi yang sesuai emosi, bukan fakta. Diskusi berubah jadi pertengkaran dan orang mudah tersinggung. Bahkan hubungan sosial menjadi lebih rapuh karena semua hal dibandingkan lewat standar media sosial.

Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) di Media Sosial

Perkembangan media sosial membuat informasi menyebar dengan sangat cepat. Setiap hari, pengguna internet disuguhi tren baru, kabar viral, hingga aktivitas orang lain yang terlihat menarik. Dari sinilah muncul fenomena yang dikenal sebagai Fear of Missing Out atau FOMO.

FOMO adalah rasa takut tertinggal dari tren, informasi, atau pengalaman yang sedang ramai dibicarakan. Banyak orang merasa harus selalu mengikuti apa yang sedang viral agar tidak dianggap ketinggalan zaman. Akibatnya, media sosial menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Tidak sedikit orang yang terus memeriksa ponsel hanya untuk memastikan mereka tidak melewatkan sesuatu. Mulai dari tren TikTok, konser musik, tempat nongkrong baru, hingga gaya hidup tertentu sering kali menjadi sumber tekanan sosial tanpa disadari.

Media sosial juga membuat kehidupan orang lain terlihat selalu menyenangkan. Banyak pengguna membagikan momen terbaik mereka, mulai dari liburan, pencapaian, hingga kehidupan yang tampak sempurna. Padahal, apa yang terlihat di internet belum tentu menggambarkan kenyataan sepenuhnya.

Jika terus dibandingkan, FOMO dapat memengaruhi kondisi mental seseorang. Rasa cemas, minder, hingga kelelahan emosional bisa muncul karena terlalu fokus mengikuti kehidupan orang lain dibanding menikmati kehidupan sendiri.

Bijak dalam Menghadapi Algoritma Media Sosial

Algoritma media sosial memiliki peran besar dalam menentukan konten yang muncul di beranda pengguna. Sistem ini bekerja dengan mempelajari aktivitas pengguna, seperti video yang ditonton, konten yang disukai, hingga topik yang sering dicari. Tujuannya adalah agar pengguna lebih lama menggunakan media sosial dengan menampilkan konten yang dianggap menarik bagi mereka.

Meskipun terlihat membantu, algoritma media sosial juga dapat memberikan dampak tertentu terhadap pola pikir dan kebiasaan seseorang. Konten yang terus muncul secara berulang dapat memengaruhi cara pengguna melihat suatu isu, mengikuti tren, bahkan membentuk opini tanpa disadari. Akibatnya, banyak orang menjadi lebih mudah terpengaruh oleh informasi viral yang belum tentu benar.

Ilutrasi media sosial. Foto: Unsplash

Selain itu, algoritma sering memprioritaskan konten yang mampu menarik perhatian besar, seperti berita sensasional, konflik, atau hiburan berlebihan. Karena terlalu sering melihat konten serupa, pengguna dapat menghabiskan waktu berjam-jam di media sosial tanpa menyadarinya. Kondisi ini dapat mengurangi produktivitas dan membuat seseorang semakin sulit lepas dari kebiasaan bermain media sosial.

Pengaruh algoritma juga dapat membuat pengguna hidup dalam lingkungan informasi yang terbatas. Seseorang akan lebih sering melihat konten yang sesuai dengan minat dan pandangannya sendiri, sehingga kurang terbiasa menerima sudut pandang yang berbeda. Jika tidak disikapi dengan bijak, hal ini dapat membuat masyarakat menjadi mudah terpecah karena hanya melihat informasi dari satu sisi saja.

Oleh karena itu, masyarakat perlu memiliki kesadaran dalam menggunakan media sosial secara lebih sehat dan seimbang. Pengguna perlu membatasi waktu penggunaan internet, memeriksa kebenaran informasi, serta tidak langsung percaya pada semua konten yang muncul di beranda. Selain itu, penting juga untuk tetap fokus pada kehidupan nyata dan tidak terlalu bergantung pada validasi dari media sosial.

Pada akhirnya, algoritma media sosial hanyalah sistem teknologi yang bekerja berdasarkan kebiasaan pengguna. Dampak yang ditimbulkan akan bergantung pada bagaimana seseorang menggunakan media sosial tersebut. Dengan sikap yang lebih bijak dan kritis, masyarakat dapat memanfaatkan media sosial sebagai sarana informasi dan hiburan tanpa terjebak dalam pengaruh negatif algoritma digital.