Konten dari Pengguna

Berhenti Berlari Dilintasan Orang Lain

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ria Gustinah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kita melihat seseorang yang usianya sama dengan kita, tetapi kita melihat kehidupannya lebih maju?

Sumber dokumentasi : Ilustrasi bantuan AI
zoom-in-whitePerbesar
Sumber dokumentasi : Ilustrasi bantuan AI

Ada yang punya rumah lebih dari satu, punya kendaraan lebih dari satu, jabatannya pun jauh diatas kita, karirnya jauh diatas kita, sementara kita masih banyak yang harus dikejar, sebenarnya apa yang harus kita kejar, terkadang kita merenung apa sih yang harus di dapatkan sekarang? tanpa sadar kita membandingkan diri.

Terkadang ada pertanyaan didalam diri kenapa dia bisa, “saya belum bisa sampai kesana, apa yang salah”. Pertanyaan seperti itu terkadang muncul apalagi pada masa sekarang semua orang bisa tahu dari semua media sosial, semua informasi mudah sekali kita dapat. Ketika kita melihat kehidupan orang lain terlihat sempurna tanpa cacat dimata kita. Kita melihat keberhasilan mereka, tidak melihat mereka berproses.

Padahal, tidak semua orang harus melalui hidup dengan proses yang sama. Ada orang mendapat dukungan dari orang tua dan keluarga sejak kecil, Ketika ingin sekolah biaya dan fasilitas sudah tersedia, namun ada juga orang yang harus berjuang sendiri untuk mendapatkan apa yang dicita-citakan, harus berjuang sendiri untuk mendapatkan biaya Pendidikan karena keterbatasan. Ada yang sejak muda harus belajar dengan kaki nya sendiri. Ia harus memikirkan biaya sekolah, sementara ia juga harus memikirkan kebutuhan keluarganya.

Dua orang itu sama sama berlari, tetapi apakah adil kalau kita membandingkan siapa yang lebih cepat sampai ditempat tujuan. Saya rasa tidak.

Seringkali kita melihat hasil akhirnya saja tanpa melihat prosesnya dan kapan memulainya. Kita melihat seseorang berhasil dalam Pendidikan dan karirnya tanpa melihat berapa banyak hari dan malam ia lalui untuk sampai kesana. Kita melihat keberhasilannya bukan perjuangannya.

Setiap orang memiliki perjuangan dan keadaan yang berbeda. Ada orang yang berjuang untuk mendapatkan sesuatu, tetapi ada juga orang berjuang terlebih dahulu hanya untuk mendapatkan kesempatan memulai.

Hal ini lah yang membuat saya berpikir bahwa ukuran keberhasilan tidak seharusnya yang kita lihat seperti di banyak media sosial. Banyak orang memposting keberhasilannya dari 0 nol sampai dia diposisi nya sekarang, dengan melihat keberhasilan orang di media sosial lantas tidak menjadikan diri kita merasa gagal karena tidak sama dengan yang kita lihat. Tidak apa apa yang penting kita tetap berproses.

Mungkin Langkah kita lebih lambat, mungkin jalan yang kita tempuh lebih Panjang dan berbelok, tetapi bukan berarti kita tidak akan sampai disana.

Saya percaya bahwa hidup itu bukan perlombaan, hidup itu harus menjadi contoh yang baik untuk orang lain. bukan berarti siapa yang lebih dahulu sampai di garis finish. Setiap orang mempunyai jalan dan cerita hidup masing masing, bukan siapa yang terkuat dan tercepat sampai di garis akhir. Tetapi dizaman serba media sosial sekarang ini ada sedikit yang menggelitik, ada beberapa postingan yang memposting kehidupannya dari 0 nol tapi lama kelamaan menjadi flexing. Dan saya pikir ini menjadi pengakuan / validasi dari seseorang.

Salah satu pendorong utama perilaku flexing adalah kebutuhan manusia akan validasi. Dalam psikologi, validasi mengacu pada pengakuan dan penerimaan atas emosi, pikiran, dan pengalaman seseorang. Di media sosial, flexing menjadi cara untuk mencari validasi eksternal melalui pujian, likes, komentar positif, dan pengakuan dari orang lain. Dengan memamerkan pencapaian materi atau gaya hidup tertentu, individu berharap mendapatkan pengakuan yang dapat meningkatkan harga diri dan rasa percaya diri mereka. Validasi ini, meskipun bersifat eksternal, dapat memberikan rasa nyaman dan diterima dalam komunitas online.

Sumber dokumentasi : Ilustrasi bantuan AI

Menurut saya Jangan pernah membandingkan diri dengan orang lain yang kamu lihat di media sosial. Setiap orang memiliki perjalanan hidupnya sendiri dan punya masalah.

Setiap orang itu unik, begitu pun kamu. Tidak adanya persaingan dengan orang lain dapat membuat kamu lebih bahagia dan tidak terbebani. Ketika kita melihat bahwa keberhasilan orang lain menjadi beban untuk diri kita sendiri, sebetulnya itu juga sudah salah. Jangan sampai kita menjadi iri atas keberhasilan orang lain.

menurut Psychology Today, crab mentality adalah analogi perilaku egois yang iri atau nggak suka dengan keberhasilan atau kesuksesan orang lain. Kenapa analoginya kepiting?

Kamu pernah melihat banyak kepiting di dalam satu ember? Kalau diperhatikan, biasanya beberapa kepiting akan mencoba naik ke atas untuk keluar. Tapi, kepiting lainnya akan menarik kembali mereka agar tetap berada di dalam ember.

Mungkin ini terlihat seperti solidaritas antarkepiting karena nggak mau temannya ditangkap atau dimakan manusia, ya? Tapi, alih-alih membiarkan temannya untuk kabur dan mencapai kebebasan (meskipun ada risiko mati), kepiting justru memilih untuk mati bersama di dalam ember.

Ingat ungkapan “di atas langit masih ada langit.” Ini berarti akan selalu ada orang lain yang lebih dari kita. Lebih cantik, lebih kaya, lebih cemerlang kariernya, lebih pintar, dan lainnya. Sesekali melihat orang lain boleh, untuk memotivasi diri kalau mereka bisa, kamu juga bisa. Tapi jangan sampai membandingkan, setiap orang punya proses dan waktunya masing-masing.

Saya berpikir kita bekerja keras, berjuang bukan untuk berkembang tetapi ingin terlihat berhasil dan mendapatkan pujian.

Seperti kita membeli sesuatu bukan karena membutuhkan tetapi ingin lebih dianggap mampu. Kita mengejar sesuatu bukan untuk menjadi tujuan hidup kita tetapi kita ingin terlihat berhasil dan tidak ingin tertinggal dari orang lain.

Saya mulai bertanya dalam hati apakah kita sedang membangun kehidupan, ataukah kita sedang menata penampilan kehidupan?

Pertanyaan sederhana yang sangat penting menurut saya, saya pikir pencapaian yang sesungguhnya tidak harus membutuhkan penonton. Mungkin pencapaian kita belum terlihat besar dimata orang lain, tetapi jika kita bandingkan dengan diri kita, mungkin kita sudah lebih jauh mandiri, dan lebih Tangguh.

Pada akhirnya hidup bukan perlombaan siapa yang paling sukses dan berhasil.