Terjebak di Layar: Mengapa Kita Tetap Scroll Meski Sudah Lelah?

Mahasiswa program studi Manajemen Perkantoran Digital Universitas Airlangga dengan minat pada bidang komunikasi digital. Aktif mengkaji isu-isu media sosial, opini publik, dan perilaku komunikasi di era digital.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ria Iswati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah merasa lelah setelah berlama-lama di media sosial, tapi tetap saja lanjut scroll? Rasanya jenuh, mata mulai capek, tapi tangan seperti bergerak sendiri membuka konten berikutnya. Fenomena ini bukan sekadar kebiasaan, melainkan tanda dari sesuatu yang lebih besar: kelelahan digital (digital fatigue) yang sering kali tidak kita sadari.
Di era digital seperti sekarang, media sosial sudah menjadi bagian dari rutinitas harian. Bangun tidur, hal pertama yang dicek adalah notifikasi. Sebelum tidur, layar ponsel kembali menjadi teman terakhir. Aktivitas ini terasa ringan, bahkan menghibur. Namun, tanpa disadari, kita menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mengonsumsi konten.
Data We Are Social (2024) menunjukkan bahwa rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan lebih dari 7 jam per hari di internet, dengan sebagian besar waktu digunakan untuk media sosial. Angka ini bukan hanya menunjukkan tingginya penggunaan teknologi, tetapi juga besarnya paparan informasi yang diterima setiap hari.
Masalahnya, kelelahan digital bukan hanya soal durasi penggunaan, tetapi juga bagaimana platform tersebut dirancang. Media sosial tidak sekadar menjadi ruang interaksi, melainkan sistem yang secara aktif mempertahankan perhatian penggunanya.
Algoritma menjadi salah satu faktor utama. Konten yang muncul di linimasa bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari sistem yang membaca kebiasaan pengguna. Konten yang memicu emosi—baik itu lucu, menyentuh, atau bahkan memancing kemarahan—lebih sering ditampilkan. Tanpa disadari, kita terus ditarik untuk tetap berada di dalam alur tersebut.
Di sinilah muncul paradoks: kita merasa lelah, tetapi tetap bertahan. Bukan karena kita ingin, tetapi karena sistem digital memang dirancang untuk membuat kita terus terlibat.
Selain algoritma, notifikasi juga memainkan peran penting. Setiap notifikasi seolah menjadi “panggilan” kecil yang sulit diabaikan. Rasa penasaran membuat kita kembali membuka aplikasi, meskipun sebelumnya sudah berniat berhenti. Dalam jangka panjang, hal ini membentuk kebiasaan yang sulit dilepaskan.
Fitur infinite scroll semakin memperkuat kondisi ini. Tidak ada batas yang jelas kapan harus berhenti. Berbeda dengan membaca buku atau menonton film yang memiliki akhir, media sosial menawarkan aliran konten tanpa henti. Akibatnya, kita terus mengonsumsi informasi, bahkan ketika sudah merasa jenuh.
Dari sisi psikologis, hal ini juga berkaitan dengan mekanisme dopamine loop. Setiap interaksi seperti like, komentar, atau share memberikan kepuasan sesaat. Namun karena sifatnya sementara, kita terus mencari stimulus berikutnya. Inilah yang membuat kita tetap scroll, meskipun sebenarnya sudah tidak lagi menikmati konten tersebut.
Dampaknya tidak bisa dianggap sepele. Penggunaan media sosial yang berlebihan telah dikaitkan dengan kelelahan mental, penurunan konsentrasi, hingga gangguan kualitas tidur. Artinya, apa yang terlihat sebagai aktivitas santai ternyata memiliki konsekuensi yang cukup serius.
Lebih jauh lagi, fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya memengaruhi cara kita berkomunikasi, tetapi juga membentuk pola perilaku kita sehari-hari. Tanpa disadari, kita menjadi bagian dari sistem yang mendorong konsumsi informasi tanpa henti.
Kelelahan digital seharusnya menjadi sinyal bahwa kita perlu berhenti sejenak. Namun, yang sering terjadi justru sebaliknya: kita terus melanjutkan, seolah tidak punya kendali.
Mungkin sudah saatnya kita mulai lebih sadar. Bukan dengan langsung berhenti total, tetapi dengan memahami kebiasaan kita sendiri. Pertanyaan sederhana seperti “kenapa saya masih scroll?” atau “apakah saya benar-benar menikmati ini?” bisa menjadi langkah awal untuk mengambil kembali kontrol.
Pada akhirnya, media sosial memang tidak sepenuhnya buruk. Ia tetap menjadi ruang informasi dan hiburan. Namun, tanpa kesadaran, kita bisa dengan mudah terjebak di dalamnya. Dan ketika itu terjadi, kelelahan bukan lagi sesuatu yang bisa dihindari, melainkan konsekuensi yang terus berulang.
