Konten dari Pengguna

Kelemahan Logika? Tak Terpisahkan? Inilah Kompasnya

Riana

Riana

Mahasiswi aktif di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 14 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Riana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

gambar ilustrasi sumber: Gemini
zoom-in-whitePerbesar
gambar ilustrasi sumber: Gemini

Apakah kebenaran semuanya membutuhkan bukti atau apa ada kebenaran yang berdiri sendiri? Manusia dalam berupaya memahami realitas sering sekali terobsesi dengan pencarian bukti yang tak berujung. Namun, di balik setiap pembuktian rumit dan bangunan argumen yang kuat, akan selalu ada titik henti mengenai proposisi yang diterima begitu saja tanpa perlu pembuktian lebih lanjut. Inilah paradoks dasar epistemologi, bahwa untuk membuktikan segalanya kita harus menerima sesuatu tanpa bukti. Aksioma bukanlah kelemahan dalam logika, melainkan kompas yang memungkinkan demonstrasi menemukan tujuannya.

Aksioma diartikan sebagai kebenaran yang dianggap layak atau terbukti dengan sendirinya, tanpa memerlukan pembuktian lebih lanjut bagi sistem logika (self evident truth). Sedangkan demonstrasi merupakan soligisme sempurna, menjelaskan objek sedemikian rupa dan bersifat primitif. Demonstrasi dalam logika, sebagai proses tindakan yang menunjukkan kebenaran atau keberadaan yang disertai bukti. Bukti ini tidak bisa ditentang. Jika bukti dapat dibantah maka nilainya turun pada tingkat dialektika bukan demonstrasi. Demonstrasi sangatlah jelas membutuhkan aksioma, itulah alasan mengapa aksioma bersifat tak terpisahkan dalam pembentukan demonstrasi.

Demonstrasi bagian dari proses empiris logis yang menurunkan proposisi lain dari aksioma. Secara teoritis akurasi demonstrasi bergantung pada integritas premis-premis dasarnya. Apabila suatu proposisi yang diklaim sebagai aksioma ternyata terbuka pada ruang skeptisme atau relativitas perbedaan persepsi, pendapat atau penafsiran maka statusnya akan turun menjadi hipotesis dialektis. Oleh karena itu, essai argumentatif ini bertujuan untuk menganalisa secara komprehensif tentang sifat-sifat yang harus dimiliki suatu proposisi agar dapat dianggap sebagai aksioma.

Dalam mekanika berpikir, relasi antara demonstrasi dan aksioma bukan hanya hubungan struktural yang linear, melainkan jaringan yang interpenden dan tanpa adanya penawaran. Demonstrasi mengandung fakta klausa, eksistensi, dan esensi. Demonstrasi selalu bergerak dengan cara membuktikan suatu premis berdasarkan premis sebelumnya.Tanpa adanya aksioma yang bersifat self evident truth, akal manusia akan terjebak di dalam pelarian tak berujung, saat kebenaran terus-menerus membutuhkan pembuktian lain. Maka dari itu, aksioma di sinilah bertindak sebagai interseptor radikal yang memutus rantai tersebut, erat kaitanya dengan prinsip pertama (wajibul wujud) penggerak pertama yang tidak bergerak. Aksioma sebagai prinsip pertama (klausa prima) menjadi jangkar tak tergoyahkan yang memaksa akal untuk berhenti mencari pembenaran tanpa akhir.

Dalam silogistik atau silogisme yang memahami prinsip-prinsip pertama secara langsung disebut nous yang memiliki arti pemahaman infinitif yang diyakini langsung benar. Karena aksioma merupakan titik awal, maka nous tidak memerlukan proses pembuktian atau deduksi (non-demonstratif). Nous menangkap kebenaran yang sifatnya segera (inmediate), artinya kebenaran tersebut tidak memiliki nilai tengah (middle term) yang menjelaskan. Aksioma ini pilihan sadar atau postulat yang menjadi kesepakatan dasar agar komunikasi logis dapat terjadi.

Demonstrasi selalu apodiks atau apodeik. Jika ada pertentangan pada argumen demonstrasi apa pun, maka argumen itu sendiri bukan contoh demonstrasi. Ini terlihat jelas dalam kritik Al-Ghazali terhadap Al-Farabi dan Ibnu Sina. Al-Ghazali (1058-1111) menganggap logika sebagai 'Studi tentang metode demonstrasi dan pembentukan soligisme, tentang kondisi premis pembuktian, cara menggabungkan premis, tentang kondisi untuk definisi yang sehat dan cara mengutarakannya.’ Tetapi, Al-Ghazali juga mengklaim bahwa ‘Keakuratan dalam agama dengan cara penegasan atau penyangkalan, tidak ada di logika.’ Sebagian besar Muslim, tidak mempelajari logika secara serius, seakan-akan Islam tidak ada hubungannya dengan logika. Sering muncul kesan itu secara sekilas, karena terutama dalam sejarah sering menyoroti benturan keras antara pemikiran ortodoks dan filsafat. Sebenarnya penerapan demonstrasi (burhan) dan aksioma-aksioma logis bukanlah ancaman bagi agama, melainkan alat bantu esensial.

Kesan bahwa Al-Ghazali anti logika dilatarbelakangi oleh karyanya yang paling terkenal, Tahafut al- Falasifah. Ia mengkritik Ibnu Sina dan Al-Farabi bukan dikarenakan menggunakan logika, melainkan karena kesimpulan metafisik mereka yang bertentangan dengan akidah. Contohnya, mereka berpendapat ‘Tuhan tidak mengetahui hal-hal partikular, atau alam semesta yang dianggap kekal.’ Padahal Qadim itu bukan kekal. Qadim tidak sama dengan Baqa.

Al-Ghazali beranggapan bahwa mantiq sebagai ‘Prasyarat untuk menguasai ilmu apa pun, hukum Islam termasuk di dalamnya.’ Menurut Gutas (1999), Al-Ghazali adalah sarjana utama yang mengintegrasikan logika dan dialektika ke dalam hukum dan kalam. Memang, Al-Ghazali lebih paham logika Aristotelian. Ia berpendapat, ‘Seandainya para filosof berargumen secara demonstrasi atau burhani, maka tidak akan ada perbedaan tentang ilahi dan matematika.’ Ibnu Rusyd dalam bukunya Tahafut at- Tahafut, mengangkat penafsiran demonstrasi sejajar dengan wahyu. Namun, Al-Ghazali juga mengklaim bahwa para filosof sebagain besar membuat kesalahan dalam metafisika atau teologi. Ia memuji pencapaian para filosof di bidang matematika, karena kesimpulan mereka di ranah tersebut ditarik berdasarkan aksioma-aksioma yang pasti, rasional, dan valid. Tapi, ia mengamati lalu dirasa ada yang janggal disaat para Filosof membahas metafisika. Menurutnya, pendapat itu sama sekali tidak memenuhi syarat silogisme demonstrasi (burhan). Premis-premis yang mereka kemukakan dalam teologi bukanlah aksioma yang mutlak terbukti dengan sendirinya, tetapi sekedar spekulasi dan asumsi, yang dimana asumsi itu setiap sesorang mengemukakan pasti berbeda apa yang dibicarakannya. Jadi, suatu proposisi tidak bisa diangggap sebagai aksioma lagi bila ia menjadi objek perbedaan pendapat atau penafsiran.

Ilmu-ilmu metafisika filosof Islam seperti Al-Farabi dan Ibnu Rusyd tidak sesempurna demontrasi, dan Al-Ghazali mengharapkan para Filosof sepakat satu sama lain tentang metafisika atas dasar demontrasi sempurna. Menariknya, John dari Salisbury (1115/20-11180) rekan Al-Ghazali di Eropa ini memegang pandangan bahwa seseorang harus menguasai dialektika sebelum menjadi ahli demontrasi. Dia beramsumsi bahwasanya hanya matematika yang dapat memulihkan kekuatan metode demontrasi karena angka, angka, dan proposi benar tidak diragukan sebagai lawan dari hal-hal yang dapat berubah. Ia juga meyakani hal yang berubah-ubah itu membuat metode demontrasi melemah dan tidak efektif. Apa yang diyakini tersebut menyerupai catatan Al-Kindi tentang sains, demontrasi, dan matematika. Racher (1966) menangkap pandangan Al-Kindi harus dipahami di sepanjang garis Aristoteles, sebagai dasar demontrasi. Namun, instrumen demontrasi yang unggul bukanlah logika, seperti halnya Aristoteles, tetapi yang unggul yaitu matematika. Jika ini tolak ukur masalahnya, maka ada pergeseran signifikan dalam masalah demontrasi dan matematika antara Al-Kindi di satu sisi serta Al-Farabi dan Ibnu Rusyd di sisi lain. Pergeseran ini bergerak dari keyakinan menurut Al-Kindi bahwa ‘Alam semesta ditulis dalam bahasa matematika, mengarah keyakinan ‘Alam semesta dipahami melalui struktur logika yang rasional' (Al-Farabj), hingga menuju akhir berujung pada ‘Alam semesta harus dibuktikan dengan cara objektif melalaui hukum kausa dan demontrasi murni' (Ibnu Sina).

Penjelasan matematika dan demonstrasi ini dapat diperdebatkan karena demonstrasi selalu membutuhkan aksioma, dan aksioma tidak selalu perlu dalam bentuk matematika. Aristoteles memberikan empat alasan (Posterior Analytics I, 14) untuk mendukung keyakinannya bahwa figur pertama adalah yang paling ilmiah:

79a18 a) ‘. . . ilmu-ilmu matematika, seperti aritmatika, geometri, dan optik, memajukan demonstrasi mereka melalui figur ini . . .’ Aksioma dalam praktik modern tampaknya berbeda dengan cara-cara kuno dan abad pertengahan untuk mengekspresikan kata aksioma terutama dalam matematika. Menurut Anderson dan Johnstone, Jr., kata aksioma dan postulat dapat dipertukarkan di zaman modern. Sebaliknya postulat adalah asumsi unik dalam bidang matematika tertentu seperti geometri sementara aksioma adalah kebenaran umum di beberapa bidang penyelidikan matematika di dunia pra modern. Perbedaan ini tidak lagi tersedia dalam matematika, menurut Recher. Di sini aksioma dalam arti kebenaran yang terbukti dengan sendirinya, aksioma tidak benar-benar membutuhkan persetujuan atau penerimaan dari siapapun. Aksioma berbeda dari postulat yang artinya tuntut dan diminta dalam bahasa Latin masing-masing. Menurut Suppe, istilah aksioma dan postulat dalam bahasa digunakan secara bergantian saat ini meskipun kedua kata ini berbeda sejak zaman Euclid. Suppe juga menemukan proses aksiomatisasi dalam hal ini ia mendefinisikan sebagai metode formal untuk menentukan isi teori gimana seperangkat aksioma diberikan dari mana sisi konten teori dapat diturunkan secara deduktif sebagai teorema. Oleh karena itu teori semacam itu berdiri dari serangkaian aksioma bersama dengan penutupan atau konsekuensinya. Teorema, menurut Suppe, keluar dari tiga deduksi logis yang semuanya bisa bersifat formal dalam arti menggunakan kalkulus untuk menambah aksiologis semi formal dalam arti menggunakan pendekatan matematis untuk mengidentifikasi himpunan aksioma dan informal dalam arti memanfaatkan geometri euclididean ntuk mendeteksi persentase aksiomatik. Namun penjelasan sebab tentang proses aksiomatisasi permasalahan dan reduktif karena menerima begitu saja bahwa teorema hanyalah masalah geometri, matematik ke tematik atau kalkulus seolah-olah tidak ada kebenaran atau aksioma yang terbukti dengan sendirinya yang terletak di luar 3 disiplin akademik seperti linguistik atau semantik. Faktanya ada aksioma dalam semantik seperti semua bahasa memiliki strukturnya sendiri atau mistik dan makna memiliki aspek logisnya sendiri, semantik formal Selain itu perlu juga untuk membedakan antara aksioma dan teorema. Aksioma itu mutlak tanpa perlu pembuktian. Sedangka teorema itu wajib dibuktikan. Aksioma bisa diibaratkan aturan main yang mendikte batas realitas sebuah disiplin ilmy akademik, sedangkan teorema adalah fakta-fakta baru yang diekstraksi secara logis dari dalam arena permainan tersebut. Teorema bisa diartikan kebenaran turunan, sedangkan aksioma yaitu kebenaran dasar.

Bernard Bolzano (1781-1848) berpendapat bahwa beberapa kebenaran dasar tidak memerlukan bukti tunggal, dan kebenaran lain didasarkan pada kebenaran dasar itu. Butuh adanya pemikiran yang menelan satu kenyataan absolut secara mutlak (aksioma) agar tidak gila bertanya tapi tanpa menemukan jawaban yang tidak memiliki ujung. Dari satu titil absolut itulah, kita mengurai dan mengenyam semua pengetahuan dan teknologi yang kita miliki saat ini.

Bolzano mengklaim ‘Saya percaya bahwa ada beberapa jenis kesimpulan sederhana selain silogisme.’ Dengan kata lain, inferensi tidak selalu berarti silogisme, dan aksioma tidak selalu berupa rumusan matematika, postulat, dan teorema. Aksioma dalam bidang akademik selain logika dan matematika juga itu berlaku.

Aksioma tidak memiliki tempat yang cukup dalam burhan atau demontrasi meskipun ahli logika Muslim telah mengklaim bahwa burhan adalah mitra dari demonstrasi Aristoteles. Namun, demonstrasi dalam logika Aristoteles membutuhkan aksioma untuk menciptakan silogisme yang sempurna. Situasi ini terlihat jelas dalam catatan inovatif Baqir Sadr tentang akar demonstrasi. As-Sadr (1989) mengemukakan ‘Prinsip kausalitas adalah landasan di mana semua upaya demonstrasi di semua bidang pemikiran manusia bersandar. Ini karena demonstrasi dengan bukti untuk suatu hal tertentu berarti bahwa jika bukti itu masuk akal, itu adalah penyebab pengetahuan tentang hal yang menjadi objek demonstrasi ... Dengan demikian, menjadi jelas bahwa setiap upaya demonstrasi bergantung pada penerimaan (hal. 309) dari prinsip kausalitas; jika tidak, itu adalah upaya yang sia-sia dan tidak berguna. Bahkan demonstrasi penyangkalan prinsip kausalitas, yang dicoba oleh beberapa filsuf dan ilmuwan, juga bertumpu pada prinsip kausalitas ... prinsip kausalitas adalah ... hukum filosofis rasional di atas eksperimen, karena semua teori ilmiah bergantung padanya.’

Akun Sadr menarik dan menantang karena beberapa alasan. Pertama, cara dia mendefinisikan demonstrasi adalah dalam bentuk silogisme hipotetis, yaitu, dalam arti menempatkan bukti yang kuat sebagai persyaratan untuk sesuatu menjadi objek setan atau tidak memiliki satu definisi tunggal yang baku. Ini berarti bahwa demonstrasi tidak pernah membahas bukti yang tidak masuk akal meskipun gagasan tentang suara dan tidak sehat mungkin berubah seiring waktu. Misalnya, teori heliosentrisme Coper-nicus tidak memiliki bukti yang kuat sebelum penemuan teleskop dan penemuan Galileo atas empat bulan Jupiter. Dengan kata lain, teknologi yang ada mungkin memainkan beberapa peran untuk menentukan apakah suatu bukti masuk akal atau tidak sehat. Selain itu, gagasan tentang bukti yang kuat berbeda dengan kebenaran atau aksioma yang terbukti dengan sendirinya. Di satu sisi, akar linguistik dari kata ‘bukti’ jelas yang berarti ‘jelas bagi mata atau pikiran dalam bahasa Latin. Dengan kata lain, bukti berarti seperangkat informasi atau fakta yang menentukan apakah suatu proposisi valid atau benar. Di sisi lain, kebenaran keluar dari kata trēowth atau trīewth dalam bahasa Inggris Kuno yang keduanya relatif sama dalam artinya dengan ‘keteguhan, kesetiaan.’ Kebenaran umumnya berarti keadaan atau kualitas keberadaan dengan cara yang sama dengan realitas atau fakta. Kedua, kepatuhan terhadap prinsip kausalitas menentukan keberhasilan upaya untuk membangun demonstrasi belum lagi demonstrasi untuk menolak prinsip kausalitas itu sendiri. Jika ini masalahnya, maka Sadr secara tidak langsung menyetujui kontradiksi karena menerima prinsip kausalitas untuk menyangkal prinsip kausalitas itu sendiri, dengan kata lain, secara tidak langsung mendukung pandangan bahwa ada beberapa kontradiksi, dan bukan tidak mungkin bahwa nilai kontradiksi tersebut benar. Bukti yang kuat ini pasti berbeda dari aksioma yang kebenarannya tidak dapat disangkal. Oleh karena itu, Baqir Sadr tampaknya mengembangkan catatan demonstrasi non-Aristoteles yang dasarnya bukan aksioma tetapi bukti yang kuat.

Namun, murid-murid dan pengikutnya tidak akan setuju dengan dugaan dan interpretasi semacam ini terhadap pemikiran Sadr. Akibatnya, mereka perlu menjelaskan bagaimana ‘demonstrasi penyangkalan prinsip kausalitas itu bertumpu pada prinsip kausalitas, tidak mengarah pada kontradiksi? Mengingat bahwa sebagian besar, sarjana Muslim menganggap prinsip Aristoteles tentang non-kontradiksi tanpa syarat, kemungkinan Sadr akan berpikir bahwa semua kontradiksi adalah salah, dan pandangan ini mengarah pada ilmiah. Asumsi keberadaan tanpa hukum ini. Itulah sebabnya asumsi seperti itu adalah semacam kepercayaan pada keseruan yang tidak ada ruang untuk itu dalam tatanan umum alam semesta. Sekali lagi, para pemikir ini keliru karena ingin menemukan rahasia persyaratan untuk suatu sebab dan untuk mengetahui melalui eksperimen batas-batas kausalitas dan luasnya batasan-batasan tersebut. Kausa adalah aksioma realitas yang paling keras kepala. Kita tidak bisa hidup sedetik pun, tidak bisa berpikir selangkah pun, tidak bisa mengucapkan kata sepatah pun tanpa tunduk pada hukum sebab-akibat (kausalitas). Mempertanyakan kausalitas dengan akal sama leluconnya dengan menggunakan mata untuk membuktikan mata itu tidak ada.

Namun, cara Sadr membuat definisi kausalitas bersifat reduktif karena ia menempatkan beberapa batasan yang hanya dapat dikonfirmasi oleh eksperimen ilmiah yang dapat mengkonfirmasi hukum umum eksistensi. Genus kausalitas, dalam pandangan saya, adalah ‘prinsip’ sementara diferensialnya adalah ‘penyebab penjelasan untuk segalanya’. Dengan demikian, seseorang dapat mendefinisikan kausalitas sebagai prinsip yang menyatakan bahwa ada sebab untuk segalanya. Gagasan ‘segalanya’ agak rumit dalam agama karena mencakup dan mencakup kekuatan pengendali manusia super, yaitu Tuhan. Namun, individu-individu religius cenderung berpandangan bahwa tidak ada alasan penjelasan bagi Tuhan kecuali Dia sendiri, dan Muslim dapat mengetahui dan berpikir tentang Sifat-sifat, Nama, dan Perkataan Ilahi tetapi bukan esensi-Nya. Oleh karena itu, definisi kausalitas Sadr pasti reductio ad absurdum. Di sisi lain, Sadr menjelaskan prinsip kausalitas dalam hubungannya dengan kebetulan. Dia berpendapat bahwa ‘Prinsip kausalitas, dalam arti ketidakmungkinan kebetulan. Artinya, jika kebetulan mungkin, maka tidak mungkin bagi ilmuwan alam untuk mencapai penjelasan umum tentang banyak fenomena yang muncul dalam eksperisinya.” Klaim ini tetap mengajukan pertanyaan. Dengan cara apa yang mungkin Mungkinkah, misalnya, ketidakmungkinan kebetulan merupakan makna bagi prinsip kausalitas? Bagaimana mungkin penjelasan umum mengenai berbagai fenomena bergantung pada ketidakmungkinan? Dianalogikan sebagai berikut, kita tidak bisa membuat rumah di atas lautan pasir yang selalu berubah bentuk, kita butuh batu yang kokoh dan menolak untuk gerak. Ketidakmungkinan adalah batu kokoh tersebut. Alam semesta kita bisa pahami justru karena ia diikat dengan larangan-larangan (kemustahilan) mutlak yang tidak bisa dilanggarnya.

Sadr menafsirkan prinsip kausalitas sebagai hal yang berbeda dari teori ilmiah eksperi-mental sehubungan dengan klaimnya bahwa prinsip kausalitas adalah hukum filosofis rasional yang lokasinya berada di atas eksperimen. Dia tampaknya mengabaikan perlunya aksioma untuk demonstrasi serta dia menarik garis antara aksioma dalam arti kebenaran yang terbukti dengan sendirinya dan pembuktian dalam arti menguji proses atas kebenaran suatu fakta atau klaim. Dengan demikian, menempatkan kausalitas sebagai akar dari setan-stration adalah bermasalah karena dianggap remeh bahwa semua hal di alam semesta adalah koheren serta bebas dari paradoks. Sadr tampaknya melewatkan penjelasan Aristoteles bahwa prinsip non-kontradiksi memang mendahului prinsip kausalitas, dan bukan sebaliknya.

Aristoteles menawarkan penjelasan yang agak berbeda mengenai empat penyebab dalam buku I Metafisika, 'Jelas kita harus memperoleh pengetahuan tentang sebab-sebab asli (karena kita mengatakan bahwa kita tahu setiap hal hanya ketika kita berpikir kita mengenali penyebab pertamanya), dan sebab-sebab dibicarakan dalam empat pengertian. Dalam salah satu dari ini yang kami maksud adalah substansi, yaitu esensi (karena ‘mengapa’ akhirnya dirujuk pada rumus, dan ‘mengapa’ akhir adalah sebab dan prinsip); di yang lain materi atau substratum, di yang ketiga sumber perubahan, dan di yang keempat penyebab yang bertentangan dengan ini, itu demi yang dan kebaikan (karena ini adalah akhir dari semua generasi dan perubahan).’ Dengan kata lain, Aristoteles menyarankan kita untuk tidak berhenti mengidentifikasi penyebab pertama tetapi mengambil langkah lebih lanjut dengan mengenali empat penyebab subjek. Penyebab formal berkaitan dengan substansi, dan esensi adalah bagian tak terpisahkan dengan substansi, dan esensi adalah bagian tak terpisahkan dari substansi tersebut pada kesempatan ini. Penyebab material ada hubungannya dengan substratum atau materi. Penyebab yang efisien berkaitan dengan asal usul perubahan mengenai suatu subjek; dan penyebab terakhir berkaitan dengan akhir perubahan pada subjek yang sedang dieksplorasi. Seseorang dapat menyederhanakan keempat penyebab ini menjadi dua pasangan atau kelompok. Di satu sisi, penyebab formal dan material berpasangan karena kepeduliannya pada materi dan substansi termasuk esensi. Di sisi lain, penyebab yang efisien dan akhir berbagi fokus mereka pada perubahan pada suatu subjek. Sama seperti yang mirip dengan penjelasan logika Aristoteles, kita tidak dapat hanya fokus pada satu bagian dari buku tertentu karena Aristoteles menyebarkan penjelasannya tentang empat penyebab ke dalam berbagai bagian dari buku-bukunya.

Mengingat bahwa Sadr berpendapat mendukung kausalitas tidak memiliki batasan kecuali ranah material yang terbatas, dan eksperimen ilmiah dapat mengkonfirmasi kausalitas sebagai hukum umum keberadaan, maka ia seharusnya membahas empat sebab Aristoteles dalam kerangka sifat terbatas dan konstan dari alam material. Seandainya Sadr berpendapat mendukung untuk menarik garis ketat antara prinsip ledakan William dari Soisson (ex contradictione quodlibet), yaitu prinsip ini mengatakan bahwa dari setiap kontradiksi, semua proposisi mengikuti, dengan demikian, menolak semua kontradiksi diperlukan, dan prinsip Aristoteles tentang

non-kontradiksi, maka penjelasannya tentang kausalitas mungkin telah menemukan landasan yang lebih rasional. Jika tidak, para cendekiawan Muslim cenderung secara sewenang-wenang mencampur antara domain terbatas dan konstan di satu sisi dan domain tak terbatas dan tidak konstan di sisi lain. Catatan Sadr mengabaikan kemungkinan kebenaran lainnya. Menurut Zhenzhen, Aristoteles mempertahankan kebenaran dalam urutan kausalitas, tetapi Plato, sebaliknya, memegang kebenaran dalam bentuk matematis.

Dengan kata lain, kebenaran tidak terbatas dalam bentuk kausalitas tetapi bisa juga dalam bentuk matematika. Sadr mengabaikannya, dan dia lebih lanjut mengklaim bahwa pikiran manusia segera menerima prinsip kausalitas, prinsip non-kontradiksi, dan harmoni antara sebab dan akibat. Namun, adalah kontradiktif untuk berpendapat bahwa demonstrasi terhadap prinsip kausalitas; juga membutuhkan prinsip kausalitas. Dalam pandangan saya, kontradiksi seperti itu bukanlah yang benar atau bukan dialetheia kecuali Sadr mungkin telah menyetujui gagasan paradoks referensi diri. Jenis paradoks ini, menurut Baronett, telah mengarahkan beberapa orang untuk berdebat mendukung dialetheia, sementara beberapa orang lain mendukung gagasan bahwa tidak ada pernyataan yang benar atau salah. Catatan Sadr mungkin terlihat seperti inavasi logika Aristoteles, tetapi sebenarnya tidak. Menurut Stein, kausalitas adalah inti dari teori demonstrasi ilmiah seperti yang terlihat dalam Analisis Posterior Aristoteles yang berarti bahwa, dalam silogisme atau demonstrasi yang sempurna, istilah tengah (middle term) harus memilih penyebab demonstrasi. Pada kesempatan kali ini, Aristoteles menjelaskan dalam Posterior Analytics bahwa ada beberapa skenario mengenai jangka menengah. Pertama, jika jangka menengah keluar dari kebutuhan, maka kesimpulannya juga harus berasal dari kebutuhan. Kedua, jika jangka menengah tidak muncul karena kebutuhan, maka itu mungkin binasa dan seseorang tidak tahu alasan dan pemahaman mengenai deduksi. Ketiga, jika kesimpulan diperlukan, maka tidak ada yang menghalangi jangka menengah menjadi kebutuhan meskipun jangka menengah dikonfirmasi untuk menjadi tidak perlu, karena seseorang dapat menyimpulkan kebenaran dari non-kebenaran dan non-kebutuhan. Kebutuhan perlu didomenstrasikan untuk mengungkapkan dirinya sendiri, akibatnya kebutuhan tidak akan muncul dalam silogisme yang tidak sempurna seperti dialektika atau jadali dan retorika. Jika silogisme demontrasi memggunakan premis 100% pasti dan mutlak (aksioma), akan tetapi dialektika menggunakan premis yang berupa opini yang diakui umum. Sedangkan retorika menggunakan argumen yang tidak mempedulikan validitas logika yang ketat, yang terpenting itu audiensnya percaya.