Konten dari Pengguna

Ketika Krisis Iklim Memangsa Rakyat Miskin

Riana

Riana

Mahasiswi aktif di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Riana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber: gemini
zoom-in-whitePerbesar
sumber: gemini

Potret kemiskinan di Indonesia bukan lagi sekadar persoalan kekurangan konsumsi harian, melainkan telah menyentuh taraf ekstrem berupa kehabisan makanan yang mengancam keselamatan jiwa. Penderitaan akibat ketidakmampuan mengelola rasa lapar dan himpitan ekonomi ini bahkan pernah mendorong terjadinya tindakan tragis bunuh diri. Pahitnya realitas ini tampak sangat kontras ketika sebagian kecil warga hidup dalam gelimang kelimpahan, sementara mayoritas rakyat harus berjuang keras di tengah kekurangan.

Meskipun pertumbuhan ekonomi nasional sempat mencatatkan capaian sebesar 6,1% dengan Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai Rp6.422,9 triliun pada tahun 2010, angka-angka makro ini belum mampu mengikis ketimpangan. Penyokong utama pertumbuhan tersebut sebagian besar didorong oleh konsumsi kelompok masyarakat berpendapatan tinggi yang bermain di pasar modal dan deposito, alih-alih penguatan sektor industri produksi yang sanggup menyerap banyak tenaga kerja.

Kesenjangan Struktural dan "Kemiskinan Nurani

Kegagalan strategi pembangunan di masa lalu yang terlalu berfokus pada sektor industri terpusat tanpa menyertakan sektor pertanian telah melahirkan kantong-kantong kemiskinan struktural baru. Struktur sosial masyarakat Indonesia pun bersifat dualistik dan dikotomik, di mana kelompok masyarakat yang sangat kecil menguasai bagian terbesar kekayaan nasional, sedangkan mayoritas rakyat hanya memperoleh porsi yang amat terbatas.

Ketimpangan kesejahteraan ini terlihat nyata antara masyarakat pedesaan dan perkotaan, baik dari indikator tingkat melek huruf, kelayakan hunian, maupun indeks mutu hidup. Di sisi lain, penanganan kemiskinan kian memprihatinkan akibat munculnya kemiskinan nurani ketika dana program perbaikan nasib rakyat miskin tergerus oleh praktik korupsi. Padahal, BPS mencatat bahwa dinamika jumlah penduduk miskin sangat rentan terhadap gejolak ekonomi, seperti saat angka kemiskinan melonjak menjadi 39,30 juta jiwa (17,75%) akibat kenaikan harga BBM pada tahun 2006.

Perubahan Iklim: Beban Berganda bagi Masyarakat Rentan

Masalah kemiskinan dan kesenjangan sosial kini kian diperparah oleh ancaman global baru, yaitu perubahan iklim akibat aktivitas antropogenik seperti pembakaran bahan bakar fosil dan alih guna lahan. Sebagai negara kepulauan dengan jumlah penduduk yang besar dan kemampuan ekonomi yang masih terbatas, Indonesia berada pada posisi yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim.

Emisi gas rumah kaca, terutama dari sektor kehutanan yang menyumbang 60% dan sektor energi sebesar 25% pada inventarisasi nasional 1996, telah meningkatkan konsentrasi gas di atmosfer dan memicu pemanasan global. Peningkatan suhu udara di Indonesia tercatat mencapai 0,3°C per dekade sejak tahun 1990, yang disertai variasi curah hujan ekstrem dan fenomena El Niño yang memicu kekeringan berkepanjangan. Peningkatan frekuensi bencana ini memberikan dampak sosial dan ekonomi yang katastropik, terutama bagi kelompok masyarakat yang memiliki tingkat kerentanan (vulnerability) tinggi.

Ancaman Piring Nasi: Sterilitas Padi hingga Krisis Pangan

Dampak perubahan iklim menghantam langsung sektor vital tempat rakyat miskin menggantungkan hidupnya, yaitu pertanian dan ketahanan pangan. Peningkatan suhu udara, meskipun relatif kecil, sangat memengaruhi tanaman padi karena dapat membuat bagian reproduktif (spikelet) menjadi steril sehingga produktivitas panen menurun drastis.

Anomali iklim akibat kekeringan dan banjir bahkan pernah memaksa Indonesia mengimpor beras secara masif pada tahun 1991 (600.000 ton) dan 1994 (lebih dari 1 juta ton) demi menjaga ketersediaan pangan. Kondisi ini mengancam ketahanan pangan nasional dan secara langsung meningkatkan angka kemiskinan di daerah-daerah yang bergantung pada sektor agraris.

Kesehatan dan Bencana di Pesisir

Ancaman tidak berhenti di sektor pertanian. Proyeksi kenaikan muka air laut setinggi 60 cm berpotensi merusak wilayah pesisir Indonesia yang membentang lebih dari 80.000 km. Abrasi pantai, intrusi air asin ke lahan pertanian dan pemukiman, serta hilangnya tempat tinggal mengancam jutaan jiwa masyarakat pesisir yang tergolong rentan.

Dari segi kesehatan masyarakat, perubahan iklim meningkatkan risiko terjadinya wabah penyakit menular berbasis air (water-borne diseases) serta penyakit berbasis vektor seperti malaria dan demam berdarah. Risiko kematian dan penyakit serius ini dihantui ancaman malnutrisi bencana yang paling parah mengincar golongan lanjut usia dan masyarakat miskin di perkotaan maupun pedesaan.

Mencari Jalan Keluar: Menagih Keadilan Sosial dan Ekologis

Kesenjangan sosial dan krisis iklim bukanlah dua masalah terpisah, melainkan saling berkelindan dan memperbesar penderitaan masyarakat rentan. Mengatasi kemiskinan tidak cukup hanya dengan mengejar angka pertumbuhan ekonomi makro semata, melainkan memerlukan pemerataan akses terhadap sumber daya ekonomi dan keadilan sosial yang riil. Perlindungan terhadap ekosistem lingkungan hidup serta peningkatan kapasitas adaptasi masyarakat harus menjadi prioritas utama agar seluruh rakyat Indonesia dapat hidup secara layak dan bermartabat.