Mencari Tuhan Tanpa Kitab Suci: Intelektual dari 'Tarzan' versi Ibnu Tufail

Mahasiswi aktif di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Riana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ratusan tahun sebelum peradaban Barat mengenal novel Robinson Crusoe karya Daniel Defoe atau kisah Mowgli dalam The Jungle Book, dunia Islam pada era keemasan Andalusia abad ke-12 telah melahirkan sebuah mahakarya fiksi-filsafat yang monumental. Novel alegoris tersebut berjudul Hayy ibn Yaqzan (artinya "Yang Hidup, Anak dari Yang Terjaga"), buah pena dari seorang filsuf, dokter, dan ilmuwan serba bisa bernama Ibnu Tufail.
Lewat narasi renyah yang mengawinkan kisah petualangan dengan kedalaman pemikiran, Ibnu Tufail mengajukan pertanyaan mendasar yang sangat provokatif: Dapatkah seorang manusia yang terisolasi sejak bayi di pulau tak berpenghuni, tanpa bantuan bahasa, kitab suci, maupun tradisi agama, menemukan keberadaan Tuhan dan mencapai puncak spiritualitas hanya dengan kekuatan akal budinya?
Dari Dokter Istana Andalusia hingga 'Menjodohkan' Ibnu Rusyd dengan Karya Aristoteles
Sebelum masuk ke dalam inti novelnya yang spektakuler, mari mengenal sosok di balik mahakarya ini. Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad Ibnu 'Abdul al-Malik Ibnu Muhammad Ibnu Ibnu Tufail, sementara masyarakat Eropa melatinkannya menjadi Abubacer. Lahir di Cadix (Guadix), Provinsi Granada, Andalusia pada sekitar tahun 506 Hijriyah (1110 Masehi), Ibnu Tufail tumbuh dari keluarga suku Arab terkemuka, yaitu suku Qais.
Fasilitas dan status keluarganya membuat Ibnu Tufail mudah mengecap pendidikan terbaik. Ia mempelajari ilmu kedokteran di Seville dan mendalami filsafat di Kordoba. Dalam bidang keagamaan, ia berguru kepada ulama hadis dan fikih terkemuka Imam Abu Muhammad ar-Rasyati serta mufasir Al-Qur'an ternama Imam Abdul Haq bin Athiyah. Sementara di panggung filsafat, ia menimba ilmu dari filsuf rasionalis murni Andalusia, Ibnu Bajjah.
Karier profesional Ibnu Tufail sangat cemerlang. Dimulai sebagai dokter praktik di Granada, ia kemudian diangkat menjadi sekretaris gubernur Granada, lalu sekretaris pribadi Gubernur Gueta dan Tangier. Puncak kariernya tercapai saat ia ditarik ke Marakesy (Maroko) pada tahun 1163 Masehi untuk menjabat sebagai dokter istana dan Qadhi (hakim syariah yang memutuskan perkara dan mengawasi publik) di bawah Khalifah Abu Ya'qub Yusuf dari Dinasti Al-Muwahhidun.
Di istana yang sangat mengagungkan ilmu pengetahuan tersebut, Ibnu Tufail memegang peran kunci. Salah satu kontribusi sejarah terbesarnya adalah ketika ia memperkenalkan filsuf muda Ibnu Rusyd (Averroes) kepada Khalifah. Karena faktor usia dan kesibukan birokrasi, Ibnu Tufail menyarankan agar Ibnu Rusyd yang diberi tugas mengulas dan meringkas karya-karya Aristoteles yang rumit. Saat meletakkan jabatannya pada tahun 1182 Masehi, Ibnu Tufail merekomendasikan Ibnu Rusyd sebagai penggantinya. Ibnu Tufail wafat pada tahun 1185 Masehi di Marakesy dan dimakamkan dengan penghormatan tinggi yang dihadiri langsung oleh Sultan Al-Mansur.
Meskipun kesibukan pemerintahan membuat karya tulisnya tidak banyak, satu-satunya novel yang tersisa darinya yaitu Hayy ibn Yaqzan, sudah lebih dari cukup untuk mengukir namanya dalam sejarah pemikiran dunia.
Bayi dalam Peti dan Rusa Betina di Pulau Faq-faq
Kisah Hayy ibn Yaqzan ditulis Ibnu Tufail atas permintaan seorang kawan yang ingin mengetahui intisari filsafat Timur (Asrar al-Hikmat al-Masyriqiyyah). Agar ajaran filsafat dan mistisisme yang rumit dapat dicerna masyarakat luas, Ibnu Tufail mengemasnya dalam bentuk roman fiksi.
Cerita dimulai dari lahirnya seorang bayi bernama Hayy hasil pernikahan rahasia antara seorang putri raja dengan pria bernama Yaqzhan. Demi menyelamatkan bayinya dari ancaman sang raja yang tirani, sang putri menaruh bayinya di peti kayu lalu menghanyutkannya ke laut seraya berdoa memohon perlindungan Allah.
Arus laut membawa peti tersebut tersangkut di pesisir Pulau Faq-faq, sebuah pulau tropis terpencil yang subur tanpa penghuni manusia maupun binatang buas. Suara tangisan bayi Hayy terdengar oleh seekor rusa betina yang baru saja kehilangan anaknya. Rusa tersebut lantas mengadopsi Hayy, menyusui, mengasuh, serta melindunginya.
Seiring berjalannya waktu, Hayy tumbuh dengan mengamati fenomena alam di sekitarnya:
Masa Kanak-kanak (Usia 0–7 Tahun): Hayy belajar berjalan dan menirukan suara rusa. Ia menyadari kelemahan fisiknya dibanding hewan lain yang memiliki taring, tanduk, dan bulu tebal. Menggunakan rasionya, Hayy membuat pakaian penutup tubuh dari daun kurma dan kulit burung mati, serta meruncingkan ranting pohon menjadi tongkat pemukul untuk membela diri.
Pembedahan Jantung Rusa dan Rahasia Jiwa: Ketika rusa yang mengasuhnya mati karena usia tua, Hayy merasa sangat bersedih. Karena belum mengenal konsep kematian, ia menduga ada bagian organ tubuh ibunya yang terhambat. Menggunakan batu tajam, Hayy membedah dada sang rusa hingga menemukan jantung. Saat membelah rongga kiri jantung yang ternyata kosong, Hayy berkesimpulan bahwa pendorong utama kehidupan (al-ruh) berupa zat hangat berbentuk uap panas telah meninggalkan jasad tersebut, sehingga tubuh fisiknya menjadi kaku.
Penemuan Api dan Eksperimen Sains (Usia hingga 21 Tahun): Hayy menemukan kobaran api dari gesekan kayu/pohon. Ia takjub akan sifat api yang memberi hangat dan cahaya. Ia mencoba membakar ikan laut dan menemukan bahwa rasanya sangat lezat. Hayy menyadari bahwa tubuh hewan hidup selalu memancarkan panas uap, lalu ia melakukan observasi anatomi pada hewan hidup dan mati hingga mencapai keahlian setingkat pakar fisika. Ia juga mendirikan rumah batu bertali pintu, menjinakkan hewan buas untuk kendaraan, serta membuat peralatan berburu.
Tiga Tangga Pencarian Keutamaan Pengetahuan
Melalui perjalanan hidup Hayy, Ibnu Tufail menggambarkan tiga tingkatan utama pencarian pengetahuan manusia:
Tahap Pengetahuan Empiris (Sains Indrawi): Berawal dari pengamatan indra. Hayy belajar bertani, memanfaatkan bahan alam, menguasai api, dan membedah anatomi organ hewan untuk memahami hukum-hukum alam fisik.
Tahap Pengetahuan Rasional (Filsafat Logis): Setelah meneliti benda bumi dan pergerakan benda-benda langit, Hayy menyimpulkan bahwa alam semesta ini bergerak secara teratur. Secara akal murni, mustahil alam ini ada tanpa ada sebab. Ia pun meyakini adanya Penggerak Utama dan Pencipta Yang Wajib Ada (Wajib al-Wujud) yang Mahakuasa dan Mahabijaksana.
Tahap Pengetahuan Mistis / Tasawuf (Musyahadah): Setelah akalnya membuktikan adanya Tuhan, Hayy melatih batinnya dengan mengasingkan diri (tafrid), melepaskan diri dari dorongan materi, dan berdzikir merenungkan Sang Pencipta. Pada puncaknya, ia mencapai tahap Musyahadah, penyaksian batiniah secara langsung terhadap keagungan Allah tanpa hijab (tirai penghalang).
Bangunan Filsafat: Metafisika, Alam, dan Takdir Jiwa
Di balik kisah fiksi yang memikat ini, Ibnu Tufail menyelipkan konsep-konsep filsafat Islam yang sangat mendalam:
Tiga Argumen Pembuktian Adanya Tuhan : Ibnu Tufail merumuskan tiga pembuktian rasional bahwa Allah itu ada: Argumen Gerak (Al-Harakat): Alam semesta ini bergerak. Jika alam ini baharu (baru diciptakan), maka pasti ada Pencipta yang menggerakkannya dari tiada menjadi ada. Jika alam ini qadim (kekal), gerak abadi tersebut tetap membutuhkan Penggerak Abadi yang mengubah potensi materi menjadi aktual.
Argumen Materi (Al-Madat) dan Bentuk (Al-Shurat): Segala yang ada tersusun dari materi dan bentuk. Bentuk tidak mungkin berdiri sendiri tanpa penggerak. Maka, pasti ada Pencipta Yang Mahakuasa yang memberikan bentuk pada materi.
Status Alam: Serentak Kadim dan Baharu : Ibnu Tufail memecahkan perdebatan mengenai status alam dengan dua sudut pandang:
Kadim (Kekal secara Waktu): Alam diciptakan Allah sejak azali tanpa didahului jarak waktu (taqaddum zamani). Analoginya seperti cahaya yang selalu ada bersamaan dengan matahari sebagai sumbernya.
Baharu (Baru secara Esensi): Dilihat dari hakikat keberadaannya, alam adalah akibat (ma'lul) yang bergantung penuh pada Dzat Allah sebagai Sebab Utama ('illat). Tanpa Allah, alam tidak akan pernah eksis.
Tingkatan Jiwa dan Tiga Nasib Manusia Pascamati. Ibnu Tufail membagi jiwa manusia (an-nafs) menjadi tiga tingkat: jiwa tumbuhan (al-nafs al-nabatiyyah), jiwa hewan (al-nafs al-hayawaniyyah), dan jiwa manusia berakal (al-nafs al-natiqah). Manusia adalah entitas dualistik yang terdiri atas jasad fisik yang fana dan roh yang abadi.
Setelah kematian jasad, Ibnu Tufail mengelompokkan nasib jiwa manusia menjadi tiga: Sengsara Abadi: Jiwa manusia yang mengetahui keberadaan Tuhan tetapi semasa hidupnya mengabaikan-Nya dan hanya menuruti hawa nafsu jasad. Setelah mati, jiwanya merindukan Tuhan namun terhalang, sehingga mengalami penderitaan batin abadi.
Bahagia Abadi: Jiwa manusia yang mengenal Tuhan dan senantiasa menyucikan jiwanya hingga akhir hayat. Setelah meninggal, jiwanya akan terus bersatu (da'im al-ittishal) dalam kenikmatan spiritual menyaksikan keagungan Ilahi (musyahadah).
Fana / Musnah: Jiwa manusia yang tidak pernah mengenal atau mendengar tentang Tuhan (seperti orang yang tidak berakal). Jiwanya hancur bersamaan dengan rusaknya jasad materi, sama seperti nasib binatang (al-baha'im).
Kala Akal Murni dan Agama Wahyu Berjabat Tangan
Puncak alegori roman ini terjadi ketika Hayy dewasa bertemu dengan Absal, seorang pencari kebenaran dari pulau seberang yang dipimpin Raja Salaman. Jika masyarakat Raja Salaman beragama secara formal dan ritualistis, Absal memilih pergi ke pulau terpencil untuk melakukan meditasi spiritual.
Awalnya mereka tidak bisa berkomunikasi karena Hayy belum mengenal bahasa manusia. Setelah Absal mengajarkan bahasa, keduanya saling berbagi pengalaman hidup:
Absal menjelaskan kebenaran yang ia peroleh dari Agama Wahyu (kitab suci dan ajaran para nabi).
Hayy memaparkan kebenaran yang ditemukannya murni melalui Akal Logis dan Penyaksian Batin.
Melalui novel alegoris Hayy ibn Yaqzan, Ibnu Tufail berhasil membuktikan bahwa filsafat dan agama, akal dan wahyu, serta sains dan spiritualitas bukanlah dua hal yang berseteru. Akal budi manusia yang jujur dan jernih, jika digunakan untuk merenungkan alam semesta, pada akhirnya akan selalu bermuara pada pengakuan akan Keagungan Sang Pencipta.
Dengan kemasan narasi fiksi yang memikat, Ibnu Tufail berhasil mewariskan pemikiran filsafat Islam kelas dunia yang tetap segar, relevan, dan menginspirasi pembaca sepanjang zaman.
