Konten dari Pengguna

Stop FOMO! Jaga Kewarasanmu dengan Filosofi Ibnu Tufail

Riana

Riana

Mahasiswi aktif di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Riana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: gemini
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: gemini

Pernahkah kalian merasa lelah secara mental padahal seharian cuma rebahan sambil scrolling? Baru bangun tidur, belum mandi bahkan sekedar cuci muka pun tidak dilakukan, nyawa ibaratnya belum terkumpul 100% tapi tuh tangan gatel langsung otomatis buka HP. Terus nih, tanpa sadar satu jam, dua jam terlewatkan dengan sia-sia, terjebak doomscrolling (kebiasaan terus-menerus). Bukannya merasa segar buat mulai hari, kalian malah ngerasa cemas, tanpa semangat, burnout, insecure lihat pencapaian orang lain yang terlihat sangat luar biasa, atau malah pusing akibat debat kusir di kolom komentar yang sebenernya tidak ada hubungannya sama hidup kalian. Kalau kalain pernah ngerasa begini, welcome to the club! Sebagai bagian dari Gen Z. Gen Z memang generasi yang paling terkoneksi secara digital, tapi ironisnya, kita juga yang paling rentan terkena krisis mental health. Tanpa kita sadari, setiap hari Gen Z sedang terjebak dalam laboratorium raksasa bernama algoritma. Selamat kalian adalah Gen Z sejati yang lagi dijajah sama algoritma.

Jujur aja, kita ini generasi yang paling banyak tahu informasi tapi mungkin yang paling sedikit bener-bener paham. Tiap hari jari kita scrolling ribuan data, tapi otak kita sering kali cuma jadi penampung sampah visual. Kita disuapi tren yang seragam, standar kecantikan, hingga berita konflik yang membuat cemas, seolah-olah kita disetir, seakan kendali atas kebahagiaan kita ada di tangan teknologi mesin. Dampaknya? Kita jadi mudah banget ikut-ikutan tren tanpa tahu itu beneran bagus buat kita atau tidak. Timbulnya jadi hilang kemampuan buat berpikir jernih karena otak kita sudah dipenuh sama informasi yang lewat sekilas tanpa tahu kebenarannya, lalu nyatanya kurang akurat, salah informasi, terus dihujat, endingnya mental health terganggu deh. Pernah nggak sih kalian ngerasa pengen log out dari semua kebisingan ini?

Nah, di sinilah kita butuh obat penawar yang mungkin tidak pernah kalian sangka sebelumnya yaitu filsafat klasik dari Ibnu Tufail, yang sebenarnya sudah dibocorkan sejak abad ke-12. Di tengah hiruk-pikuk digital yang mengancam mental health ini, kita sebenarnya butuh jeda untuk menoleh ke belakang. Melalui kisah legendaris Hayy Ibn Yaqzan karya Ibnu Tufail, ia mengajarkan bahwa untuk menemukan kebenaran dan ketenangan, manusia harus berani menggunakan scientific thinking. Sebuah kemampuan berpikir ilmiah untuk mengamati, meragukan, dan menyimpulkan realitas dengan akalnya sendiri. Bukan sekadar mengekor, terbawa arus pada apa yang sedang viral di FYP kita. Masalah utama kita sekarang adalah sering banget menelan mentah-mentah apa yang lewat di FYP. Algoritma itu didesain buat kita addicted atau kecanduan bukan membuat kita pinter. Dia tahu kelemahan kalian dan bakal terus ngasih konten yang memicu emosi, entah itu rasa iri, marah, atau sedih.

Ibnu Tufail menciptakan karakter fiksi bernama Hayy Ibn Yaqzan, seorang anak yang hidup sendirian di pulau terpencil tanpa ada manusia lain, tidak sekolah, tanpa guru, tidak memiliki banyak buku dan jelas banget dong tanpa internet yang jaringannya sampai 5G itu. Tapi kerennya, Hayy ini bisa paham tentang Tuhan, alam semesta, sampai hakikat kebahagiaan, dan dia pinter banget loh. Tidak ada tuh ngerasa kesepian, anxiety disorder, insecure yang mengganggu mental health seperti yang dialami kebanyakan Gen Z saat ini. Rahasianya? Dia tidak terpengaruh gangguan tren. Dia mengamati alam dengan cara scientific thinking, alias tidak mudah percaya sebelum liat buktinya sendiri. Terkadang sikap skeptis di era gempuran AI ini sangat diperlukan. Kalau kita terapin sekarang, artinya kita harus mulai skeptis sama apa yang diliat di layar. Jangan karena semua orang bilang “A” itu keren, lantas kalian langsung ikut-ikutan stres pengen punya “A”. Coba deh tanya ke diri sendiri: “Gue beneran butuh ini, atau algoritma cuma lagi manipulasi emosi gue?”

Hayy Ibn Yaqzan tidak punya influencer buat diikuti, tidak memiliki feed buat dibanding-bandingin. Dia hanya memiliki kemampuan untuk mengamati, meneliti, dan merenungkan apa yang dia lihat. Kalau Hayy hidup di zaman sekarang, dia mungkin bakal jadi orang yang paling waras. Kenapa? Karena dia nggak bakal langsung percaya sama apa yang viral. Dia akan nanya, "Kenapa ini viral? Apa buktinya kalau ini bener? Apa dampaknya buat jiwaku kalau aku konsumsi konten ini?" Nah, daripada kalian terus-menerus menjadi korban feed, alangkah lebih baiknya kita belajar sedikit tips dari filsuf zaman dulu tersebut, Ibnu Tufail. Kedengarannya kuno? Jangan salah, cara dia mikir pakai scientific thinking justru bisa jadi life hack (trik, jalan pintas, atau metode cerdas) paling ampuh biar kalian tetep waras di tahun ini.

Menerapkan scientific thinking ala Ibnu Tufail di zaman sekarang itu bukan berarti kalian harus jadi ilmuwan yang pakai jas putih di labolatorium dengan mikroskop mahal. Kalian hanya butuh mata yang melek, pikiran terbuka dan sedikit keberanian buat mempertanyakan segalanya. Ini soal gimana kalian menjadi ilmuwan buat hidup kalian sendiri. Sebelum kalian merasa cemas gara-gara tren lifestyle (gaya hidup) yang mahal, coba deh observasi dulu secara kritis. Apakah itu realitas, atau cuma jualan algoritma? Dengan mulai mempertanyakan segala sesuatu dan tidak hanya jadi penonton pasif, kamu sebenarnya lagi bangun benteng buat melindungi mental health kalian. Belajar untuk tidak membiarkan kode-kode mesin itu mendikte kapan kalian harus merasa bahagia atau sedih. Jadi, yuk mulai sekarang, coba deh sesekali jadi "Hayy Ibn Yaqzan" di tengah riuhnya dunia digital kita.

Jauh sebelum ada YouTube edukasi atau utas viral di X, tiktok, dan Instagram, seorang filsuf jenius bernama Ibnu Tufail udah punya cheat codenya. Lewat mahakaryanya, Hayy Ibn Yaqzan, dia tidak nawarin kelas berbayar. Dia cuma nyuruh kita satu hal yaitu ubah semestamu jadi laboratorium, dan jadilah ilmuwan untuk hidupmu sendiri. Bagi Hayy, semesta adalah laboratorium terbuka tanpa dinding. Dia nggak nunggu disuapi informasi, dia membedah realitas. Dia mengamati api, membedah anatomi secara harfiah dan menghubungkan logika antara satu kejadian dengan kejadian lainnya. Bagi kita Gen Z, Hayy adalah simbol dari independent learner (pembelajaran mandiri) yang hakiki. Dia membuktikan kalau scientific thinking (berpikir ilmiah) itu bukan soal seberapa banyak buku yang kalian baca, tapi seberapa tajam cara kalian melihat dunia, dengan segala kerumitannya adalah tempat belajar paling keren yang pernah ada.

Di zaman sekarang, laboratorium kita mungkin bukan lagi hutan belantara, tapi rimba informasi digital. Menggunakan lensa Ibnu Tufail, kita bisa melatih otot berpikir ilmiah kita dengan cara yang asyik. Hayy tidak langsung percaya sama apa yang dia lihat. Dia eksperimen dulu. Kita pun harusnya gitu, kalau ada info viral, jangan buru-buru percaya. Audit dulu, mana datanya? Siapa sumbernya? Apa tujuannya? Berpikir ilmiah itu seperti menyusun puzzle. Ibnu Tufail mengajarkan kita kalau segala sesuatu di semesta itu saling terhubung. Tugas kita adalah nyari polanya, bukan hanya nelan potongannya. Hayy belajar dari hal-hal kecil di sekitarnya dengan observasi empiris. Kalian bisa meniru dengan mulai mengamati fenomena di sekitarmu. Kenapa harga kopi makin mahal? Kenapa orang lebih suka belanja lewat live streaming? Jadikan itu data untuk kalian analisa, bukan hanya sekadar lewat di timeline.

Penerapan pola pikir ilmiah atau scientific thinking itu tidak harus ribet seperti mengerjakan skripsi. Ini cuma soal gimana kalian memproses informasi. Ibnu Tufail lewat tokoh Hayy mengajarkan kepada kita buat pakai observasi dan eksperimen. Observasi dengan penerapan ketika kalian liat konten yang bikin ngerasa down, sadari itu. "Oh, konten ini bikin gue ngerasa nggak berharga." Analisislah Kenapa kalian ngerasa gitu? Apa iya hidup kalian seburuk itu, atau cuma karena kalian lagi dibandingin sama editan 15 detik orang lain? Dengan mulai mikir pakai logika sains kayak gini, kalian sebenernya lagi narik kendali atas mental health kalian sendiri. Tidak lagi jadi budak tren, tapi jadi bos atas pikiran kalian sendiri. Belajarlan untuk milih mana yang fakta dan mana yang cuma bumbu media sosial yang mengandung hoax.

Stop Autopilot (sistem kendali otomatis) Scrolling. Mulailah bertanya “Kenapa?” pada hal-hal yang biasanya kalian anggap biasa saja. Lalu uji hipotesismu, misalnya punya teori kalau tidur 8 jam bikin mood lebih oke? Jangan cuma dibayangin, coba lakuin selama 3 hari dan catat perubahannya. Setelah selesai, selamat, kalian baru saja melakukan riset!. Kata Ibnu Tufail secara tidak langsung ingin bilang dengan makna tersirat menyatakan bahwa kalau setiap individu punya kapasitas untuk jadi ilmuwan. Hargai proses, bukan cuma hasil. Hayy butuh waktu puluhan tahun buat paham semesta. Jangan instan. Nikmati proses bingungmu, karena di situlah otak kalian lagi dianalogikan seperti sedang berolahraga.

Ibnu Tufail sebenernya ngajarin kita soal pentingnya "menyepi" buat dapet kejernihan berpikir. Di era sekarang, ini namanya Digital Detox. Hayy Ibn Yaqzan dapat pencerahan karena dia punya jarak sama kebisingan dunia. Kita nggak perlu pindah ke hutan, kok. Cukup dengan kasih jarak antara kalian dan HP kalian selama beberapa jam sehari. Kasih waktu buat otak kalian memproses realitas yang sebenernya. Seperti ngobrol sama temen secara langsung atau sekadar ngeliatin langit tanpa ada gangguan notifikasi. Cara ini terbukti ampuh buat sembuh dan nurunin tingkat kecemasan demi terjaganya mental health. Saat kalian berhenti dengerin "suara" algoritma, kalian baru bisa dengerin "suara" hati kalian sendiri. Cobalah untuk duduk diam selama 15 menit tanpa gadget sama sekali. Perhatikan napasmu, lihat warna daun di luar jendela, atau perhatikan sejenak orang-orang di sekitarmu. Ibnu Tufail percaya bahwa observasi langsung tanpa gangguan alat digital adalah kunci berpikir jernih. Saat kamu lepas dari layar, kamu sedang melatih otakmu untuk kembali fokus pada realitas, bukan ekspektasi maya.

Aturlah jam pertama dan Jam terakhir kalian. Ibnu Tufail memulai hari dengan mengamati matahari dan alam. Tirulah ini dengan tidak menyentuh HP pada 60 menit pertama setelah bangun tidur dan 60 menit sebelum tidur. Tujuannya agar pikiran kalian tidak langsung disuapi sampah visual dan kecemasan orang lain sebelum sempat menyapa diri kalian sendiri.

Kurasi lingkungan digital secara sadar. Hayy Ibn Yaqzan sangat selektif terhadap apa yang ia pelajari. Di dunia digital, kalian adalah apa yang kalian follow. Kalian bisa Unfollow atau mute akun yang memicu rasa insecure, debat kusir, atau toxic produktivitas. Sisakan akun yang benar-benar memberimu ilmu atau inspirasi nyata, bukan sekadar pamer kemewahan. Digital Detox bukan hanya soal mematikan HP, tapi mematikan fungsi otomatis di otak kita yang suka ikut-ikutan tanpa berpikir kritis. Jangan FOMO ya. Cara kita menjaga kewarasan ya salah satunya dengan Digital Detox. Saat kita meletakkan HP, kita sebenarnya sedang menjemput kembali kendali atas kebahagiaan kita sendiri. Dengan begitu, mental health akan selalu terjaga keseimbangannya.