Konten dari Pengguna

Tidak Selalu Laki-laki, Lalu Siapakah Musuh Perempuan Sebenarnya?

Riani

Riani

Mahasiswa aktif Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Riani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Shutterstock/phipatbig
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Shutterstock/phipatbig

Sering kali kita sebagai perempuan merasa bahwa laki-laki itu bisa menjadi pelindung sekaligus ancaman karena marak terjadi kejahatan dan kekerasan yang dilakukan oleh laki-laki kepada perempuan. Bahkan, sampai saat ini angka korban kekerasan yang dialami perempuan masih tinggi, yaitu 21.062 berdasarkan data KemenPPPA per 1 Januari 2025.

Namun, siapa sangka bahwa musuh perempuan itu bukan hanya laki-laki, justru kita juga perlu menyoroti sisi yang sering diabaikan, yaitu pikiran diri sendiri dan perempuan lain, yang bisa menjadi ancaman. Sudah tidak asing bagi kita mendengar kalimat “Perempuan lebih mendahulukan perasaan atau naluri daripada logikanya.” Nyatanya ketika perempuan hanya mengandalkan logika tanpa diiringi nalurinya, maka disadari atau tidak hal itu akan menyakiti orang lain termasuk sesama perempuan.

Ketika kita membuka media sosial atau di kehidupan sehari-hari, kita akan menjumpai perempuan yang mengomentari perempuan lain. Baik karena berbeda pemikiran, fesyen, kegemaran, sampai warna kulit. Seolah-olah ada standar yang ditetapkan entah oleh siapa bahwa perempuan yang ideal adalah perempuan yang memiliki warna kulit putih atau kuning langsat, sehingga akhirnya mendiskriminasi perempuan yang memiliki warna kulit sawo matang.

Dikutip dari Liputan 6, perempuan mampu mengeluarkan 16.000 kata per hari, oleh karena itu perempuan disebut cerewet dan selalu ada saja topik yang dibahas. Mengapa sesama perempuan bisa menjadi musuh? Berikut alasannya!

1. Hal Kecil Bisa Menjadi Gosip Besar

Perempuan ketika berkumpul dengan temannya tidak pernah luput untuk menggosip tentang mereka maupun orang lain. Ketika mereka mendapat informasi yang menarik tentang perempuan lain, mereka kadang buru-buru menyebarkan gosip tanpa mengecek kebenaran faktanya. Lebih parahnya, hal kecil yang dilakukan oleh perempuan lain yang mereka bicarakan bisa menjadi gosip besar yang tersebar kemana-mana dengan menyebarkan pikiran negatif. Misalnya, ada tetangga perempuan yang tiap hari pulang larut malam, dan digosipkan bahwa tetangganya bukan perempuan baik-baik. Padahal, kalau dicek dulu kebenarannya, bisa jadi memang perempuan itu bekerja sampai malam atau shift malam.

2. Pura-Pura Paham dan Baik

Ini berbahaya, ketika seorang perempuan sudah menggantungkan kepercayaan pada perempuan lain dan ternyata orang yang dipercayainya selama ini memakai topeng palsu di wajahnya, maka perdebatan akan meledak sewaktu-waktu. Tidak semua perempuan yang paham kondisi perempuan lain akan menasihati dengan baik. Realitanya, kadang ada yang manis di depan tapi membicarakan kelemahan dan kekurangannya di belakang, juga sering berpura-pura menasihati tapi sebenarnya ia sedang merendahkan.

3. Iri pada Kebahagiaan Orang Lain

Ketika teman, tetangga, keluarga, atau bahkan artis perempuan yang sedang bahagia bisa jadi justru perempuan lain merasakan hal sebaliknya. Misalnya, ketika melihat artis perempuan punya banyak bisnis, pasti muncul kalimat seperti,“Iyalah dia bisa punya banyak bisnis karena sudah kaya dari lahir dan dia pewaris, bukan perintis kayak aku,” itulah yang sering terjadi pada perempuan. Alih-alih ikut senang dengan kebahagiaan orang lain, justru timbul rasa iri dan membandingkan diri, yang akhirnya merasa tersaingi.

Fenomena ini menunjukkan bahwa bukan hanya hubungan perempuan dan laki-laki yang rumit, tetapi hubungan antar perempuan pun terkadang kurang baik.

Lantas, Kenapa Pikiran Perempuan Bisa Jadi Musuh Bagi Dirinya?

Menurut Ketua Program Studi Pendidikan Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa FKKMK UGM, dr. Ronny Tri Wirasto, Sp.KJ., menjelaskan bahwa perempuan cenderung berpikir mendalam dalam banyak hal dan hal ini yang bisa memicu stres pada dirinya. Pada dasarnya, perempuan jauh lebih memandang ke depan daripada laki-laki, walaupun pada kenyataannya tidak semua perempuan yang menerapkannya.

Perempuan mampu merencanakan hal apa yang harus dikerjakannya, kapan tenggat waktunya, dan dampak dari pekerjaan atau rencananya apa. Biasanya, perempuan lebih memikirkan pada hal-hal yang berdampak panjang. Atau, kebanyakan perempuan jadi orang yang tidak enakan karena berpikir suatu saat mereka juga akan meminta bantuan orang lain, maka mereka harus bisa membantu orang lain juga. Banyak pemikiran perempuan yang kadang tanpa sadar mengarah pada terganggunya kesehatan mental.

Lalu, Perempuan Harus Bagaimana?

Belajarlah untuk mengontrol pikiran, emosi, ucapan, dan tindakan. Kita tidak pernah tahu ucapan atau tindakan kita bisa menyakiti orang lain dan bisa membuat trauma bagi mereka. Mungkin menurut kita sepele, tapi bagi orang yang tersakiti maka hal itu adalah masalah yang besar.

Lebih bijak dalam memutuskan sesuatu, jangan terpancing berita atau gosip yang belum jelas kebenarannya, dan berbahagialah dengan kebahagiaan orang lain, meskipun itu kadang tidak mudah. Musuh terbesar perempuan bukan untuk ditakuti atau justru jadi stereotip baru kalau kita perlu waspada pada sesama perempuan. Justru yang perlu kita sadari adalah belajar menguatkan dan menjaga kepercayaan sesama perempuan.

Lebih bijak juga dalam mencerna tulisan dan pembicaraan orang lain, jangan mudah percaya begitu saja, tapi cerna kalimatnya dengan baik.