Kebijakan Makan Bergizi Gratis: Efektif Menopang Pendidikan di Indonesia?

Dosen Ilmu Pemerintahan Sekolah Tinggi Pembangunan masyarakat (STPM) Santa Ursula
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Andrianto Umbu Ndjandji tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kebijakan Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah gagasan dari Pemerintahan Prabowo sebagai langkah strategis untuk mewujudkan visi Indonesia yang maju, mandiri, dan berkeadilan. Program MBG merupakan implementasi konkret dari agenda besar Indonesia Emas 2045 serta mendukung misi ketujuh dari delapan Astra Cita, yakni memperkuat pembangunan SDM. Inisiatif ini menunjukkan bahwa isu gizi tidak dapat dipisahkan dari agenda pembangunan nasional. Dengan menyasar kelompok rentan seperti anak-anak dan ibu hamil, MBG bertujuan untuk menurunkan angka gizi buruk serta memperbaiki kualitas hidup masyarakat di wilayah tertinggal dan termiskin kelompok yang selama ini kerap luput dari jangkauan layanan dasar negara.
Dalam konteks Indonesia, tantangan gizi buruk dan ketimpangan akses pendidikan masih menjadi masalah struktural yang serius. Ketimpangan ini tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik anak, tetapi juga pada perkembangan kognitif dan emosional yang memengaruhi kemampuan belajar dan partisipasi dalam pendidikan. Data dari Badan Pusat Statistik (2023) menunjukkan tingginya tingkat anak tidak sekolah serta rendahnya capaian nutrisi pada kelompok rentan, seperti anak usia sekolah, balita, dan ibu hamil.
Masalah ini menegaskan perlunya intervensi yang tidak sektoral dan terfragmentasi, melainkan berbasis pendekatan holistik yang mengintegrasikan layanan pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial secara simultan. MBG hadir sebagai solusi intersektoral yang menjawab tantangan tersebut melalui pemberian makanan bergizi langsung di sekolah, yang tidak hanya meningkatkan status gizi anak, tetapi juga memperkuat kehadiran siswa, retensi pendidikan, dan pemerataan kesempatan belajar. Dalam jangka panjang, program ini memiliki potensi besar sebagai investasi sosial negara yang mendukung tumbuhnya generasi produktif dan kompetitif di tengah dinamika global. Berikut ini tingkat anak tidak sekolah menurut jenjang pendidikan menurut (Badan Pusat Statistik, 2023)
Secara kuantitatif, cakupan MBG sangat luas, yakni menyasar sekitar 82 juta jiwa, meliputi 44 juta anak usia sekolah, 30 juta balita, 4 juta santri, dan 4 juta ibu hamil. Program ini dirancang untuk menjangkau 439.000 satuan pendidikan dengan dukungan sekitar 48.000 dapur layanan atau unit distribusi. Proyeksi kebutuhan bahan pangan tahunan menunjukkan skala yang sangat besar: 1,9 juta ton beras, 5,6 juta ton protein hewani, 3,3 juta ton buah-buahan, dan 1,8 juta ton sayuran. Tuntutan logistik yang kompleks ini menegaskan perlunya sistem distribusi nasional yang terkoordinasi, fleksibel terhadap geografis Indonesia yang beragam, dan mampu menjamin standar mutu serta keamanan pangan.
Hasil studi komparatif yang disarikan dari beberapa negara pelaksana program makanan sekolah memberikan gambaran praktik terbaik. India dengan program Mid-Day Meal Scheme menjangkau lebih dari 120 juta siswa melalui sistem dapur sentral berbasis desa dan keterlibatan komunitas. Brasil mengembangkan model Programa Nacional de Alimentação Escolar yang menekankan pangan lokal dan pertanian organik, sedangkan Nigeria melibatkan mitra internasional seperti WFP dalam program National Home Grown School Feeding. Ketiga negara tersebut menghadapi tantangan berbeda, mulai dari kontaminasi makanan, ketimpangan urban-rural, hingga ketergantungan pada donor luar. Namun, praktik-praktik tersebut memberikan pelajaran berharga mengenai pentingnya pendekatan berbasis komunitas dan penguatan sistem pengadaan pangan lokal.
Di Indonesia, hasil evaluasi awal terhadap MBG menunjukkan hasil positif sekaligus beberapa kendala. Studi kualitatif di Kota Ende, misalnya, mencatat bahwa alokasi anggaran MBG berdampak pada peningkatan asupan gizi dan motivasi belajar siswa. Namun, juga ditemukan potensi efek substitusi anggaran, di mana pendanaan untuk MBG berisiko mengurangi alokasi untuk peningkatan kualitas guru atau fasilitas pendidikan. Selain itu, hasil survei lapangan menunjukkan adanya kendala teknis seperti ketidaksesuaian menu dengan Angka Kecukupan Gizi (AKG), rendahnya variasi menu antar wilayah, serta kebingungan pihak sekolah akibat belum adanya panduan teknis yang seragam dan sistematis.
Temuan lain menunjukkan bahwa MBG berkontribusi pada peningkatan Indeks Massa Tubuh (IMT) dan penurunan prevalensi anemia di kalangan anak sekolah dasar. Penelitian oleh (Ucu Agustini)menyebutkan bahwa asupan energi harian anak meningkat hingga 20–30% pasca implementasi program, yang berdampak langsung pada stamina dan fokus saat belajar. Namun, rendahnya daya terima terhadap menu sayur dan ketidaksesuaian porsi dengan kebutuhan gizi lokal masih menjadi catatan penting dalam pelaksanaan program.
Tantangan yang dihadapi di wilayah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal) semakin mempertegas pentingnya integrasi sistemik. Infrastruktur dapur, kualitas SDM pelaksana, dan ketersediaan bahan baku lokal menjadi kendala besar. Oleh karena itu, MBG harus diintegrasikan dalam strategi pembangunan sekolah, bukan berdiri sebagai program tersendiri. Pendekatan ini akan memungkinkan sekolah menjadi pusat layanan komunitas yang menyediakan pendidikan, gizi, dan layanan dasar lainnya secara terpadu.
Sebagai bentuk penguatan kebijakan, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) perlu mencakup enam elemen strategis yang saling terintegrasi dan berkelanjutan. Pertama, peningkatan kualitas menu harus dilakukan dengan berlandaskan pada prinsip gizi seimbang serta mempertimbangkan budaya dan preferensi makanan lokal agar makanan yang disediakan tidak hanya sehat tetapi juga dapat diterima oleh peserta didik. Kedua, sistem logistik dan distribusi perlu diperkuat melalui pendekatan partisipatif yang melibatkan komunitas lokal serta pemanfaatan teknologi digital untuk memastikan efisiensi, ketepatan waktu, dan transparansi.
Ketiga, koordinasi antarlembaga baik di tingkat pusat maupun daerah harus ditingkatkan, disertai dengan pelibatan aktif masyarakat sipil agar pelaksanaan program mencerminkan kebutuhan riil dan aspirasi lokal. Keempat, kampanye edukasi gizi harus digencarkan melalui berbagai saluran komunikasi, termasuk media massa, media sosial, dan integrasi dalam kurikulum pendidikan agar tercipta kesadaran kolektif mengenai pentingnya pola makan sehat. Kelima, proses monitoring dan evaluasi wajib dilakukan secara berkala dengan pendekatan berbasis data spasial dan longitudinal, sehingga dampak program dapat dipantau secara akurat dan kebijakan dapat disesuaikan secara responsif.
Terakhir, integrasi program MBG dengan kurikulum sekolah melalui pendekatan Shokuiku yakni pendidikan gizi berbasis konteks budaya dan praktik harian akan mendorong terbentuknya kebiasaan makan sehat sejak dini sekaligus memperkuat keterhubungan antara pembelajaran di kelas dan pengalaman nyata siswa di kehidupan sehari-hari.
