Konten dari Pengguna

Bayangkan Jika Sampah Jakarta Tidak Lagi Berakhir di Bantargebang

Ribath Ridwanulloh

Ribath Ridwanulloh

mahasiswa semester akhir

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ribath Ridwanulloh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap dini hari, ketika sebagian besar warga Jakarta masih terlelap, antrean truk sampah mulai bergerak menuju TPST Bantargebang di Kota Bekasi. Satu per satu truk datang membawa muatan yang sama: sisa makanan, plastik kemasan, kertas, dedaunan, hingga berbagai limbah rumah tangga yang telah bercampur menjadi satu.

Rutinitas itu berlangsung tanpa jeda. Hari ini, besok, pekan depan, bahkan bertahun-tahun lamanya.

Yang menarik, sebagian besar isi truk tersebut sebenarnya bukanlah sampah dalam arti sesungguhnya. Ia adalah sumber daya yang salah tempat.

Data menunjukkan TPST Bantargebang menerima sekitar 7.000–8.000 ton sampah setiap hari. Timbunan sampah yang telah terakumulasi diperkirakan mencapai lebih dari 55 juta ton, sementara komposisi terbesar berasal dari sampah makanan (sekitar 43 persen) dan plastik (sekitar 28 persen). Artinya, lebih dari dua pertiga material yang selama ini memenuhi Bantargebang sebenarnya masih memiliki peluang untuk dimanfaatkan kembali apabila dipilah dan diolah secara tepat.

Persoalan ini menunjukkan bahwa Indonesia sesungguhnya tidak sedang mengalami krisis sampah. Yang kita hadapi adalah krisis dalam mengelola sumber daya.

Sampah Organik: Tambang yang Terabaikan

Ketika mendengar istilah sampah organik, yang terbayang biasanya adalah sisa nasi, kulit buah, sayuran busuk, atau makanan basi. Padahal, limbah tersebut menyimpan kandungan karbon, nitrogen, dan protein yang dapat dimanfaatkan kembali.

Salah satu teknologi yang berkembang pesat adalah biokonversi menggunakan larva Black Soldier Fly (BSF). Larva ini mampu mengurai limbah organik dalam waktu singkat sekaligus mengubahnya menjadi biomassa berprotein tinggi yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ikan, unggas, maupun bahan baku industri pakan. Sisa penguraiannya (frass) juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik.

Keunggulan biokonversi bukan hanya pada kemampuannya mengurangi volume sampah, tetapi juga karena menghasilkan nilai ekonomi. Sampah yang sebelumnya hanya menimbulkan bau dan emisi metana dapat berubah menjadi komoditas yang memiliki pasar.

Bayangkan apabila setiap pasar tradisional, kawasan permukiman, rumah makan, hingga kawasan industri pangan memiliki fasilitas biokonversi skala lokal. Ribuan ton limbah organik tidak lagi perlu menempuh perjalanan puluhan kilometer menuju Bantargebang. Volume sampah yang masuk ke tempat pemrosesan akhir dapat ditekan sejak dari sumbernya.

Plastik Bukan Musuh, Selama Dikelola dengan Benar

Sementara itu, plastik sering dianggap sebagai penyebab utama pencemaran lingkungan. Padahal, persoalan utamanya bukan pada plastik itu sendiri, melainkan pada cara kita mengelolanya.

Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia telah mengembangkan teknologi pemanfaatan limbah plastik sebagai campuran aspal jalan. Plastik tertentu yang sebelumnya sulit didaur ulang dapat dicacah dan dicampurkan ke dalam campuran aspal panas sehingga meningkatkan ketahanan jalan sekaligus mengurangi timbulan sampah.

Teknologi ini memang bukan solusi untuk seluruh jenis plastik, tetapi menunjukkan satu hal penting: limbah dapat kembali memasuki rantai produksi apabila dikelola dengan inovasi yang tepat.

Konsep yang sama juga berlaku pada material lain seperti kertas, logam, kaca, hingga tekstil. Seluruhnya memiliki peluang untuk kembali menjadi bahan baku industri apabila sistem pemilahan berjalan baik.

Dari Tempat Pembuangan Menjadi Kawasan Industri Hijau

Selama puluhan tahun, paradigma pengelolaan sampah di Indonesia masih didominasi pola "kumpul–angkut–buang". Akibatnya, Bantargebang terus menerima beban baru setiap hari.

Padahal, banyak negara telah beralih menuju ekonomi sirkular, yaitu sistem yang mempertahankan nilai material selama mungkin melalui penggunaan ulang, daur ulang, dan pemulihan energi.

Dalam konsep tersebut, Bantargebang tidak lagi dipandang sebagai tempat akhir, melainkan sebagai pusat pemanfaatan sumber daya. Limbah organik diproses melalui biokonversi menjadi pakan ternak dan pupuk. Plastik yang sesuai spesifikasi dimanfaatkan menjadi campuran aspal atau didaur ulang menjadi produk baru. Sampah yang tidak dapat didaur ulang diolah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF) sebagai bahan bakar alternatif industri semen. Gas metana dari timbunan sampah ditangkap untuk menghasilkan listrik sehingga tidak lepas ke atmosfer sebagai gas rumah kaca. Dengan pendekatan terpadu seperti ini, hanya sebagian kecil residu yang benar-benar berakhir di landfill.

Mengubah Cara Pandang

Pemerintah sebenarnya telah menetapkan target pengurangan sampah melalui pendekatan ekonomi sirkular dan peningkatan daur ulang. Namun, berbagai kajian menunjukkan partisipasi masyarakat dalam memilah sampah dari sumber masih menjadi tantangan utama. Tanpa pemilahan, teknologi secanggih apa pun akan bekerja jauh di bawah kapasitas optimalnya.

Karena itu, investasi terbesar bukan hanya membangun fasilitas pengolahan modern, tetapi juga membangun budaya baru.

Rumah tangga perlu mulai memilah sampah. Pasar tradisional dapat menjadi sentra biokonversi. Pelaku usaha didorong menggunakan material daur ulang. Pemerintah daerah memperkuat bank sampah dan insentif ekonomi bagi masyarakat yang mengurangi timbulan sampah.

Transformasi seperti ini memang membutuhkan waktu. Namun, manfaatnya jauh melampaui pengurangan volume sampah. Ia menciptakan lapangan kerja hijau, mengurangi emisi gas rumah kaca, meningkatkan ketahanan pangan melalui produksi pakan lokal, serta memperkuat industri berbasis ekonomi sirkular.

Foto: dibuat dengan generate AI: ChatGPT

Mungkin persoalan terbesar Indonesia bukan karena kita menghasilkan terlalu banyak sampah. Persoalannya adalah kita terlalu lama memandang sampah sebagai akhir dari sebuah barang.

Padahal, setiap kulit buah dapat menjadi pupuk. Setiap sisa makanan dapat menjadi pakan. Setiap plastik yang dikelola dengan tepat dapat memperpanjang umur jalan. Bahkan setiap ton sampah yang berhasil diolah berarti satu ton yang tidak lagi menambah tinggi gunungan Bantargebang.

Teknologinya sudah tersedia. Inovasinya terus berkembang. Yang kini dibutuhkan adalah keberanian untuk mengubah cara berpikir.

Ketika sampah diperlakukan sebagai sumber daya, Bantargebang tidak lagi dikenal sebagai gunung sampah terbesar di Indonesia. Ia dapat menjadi simbol keberhasilan transformasi menuju ekonomi hijau—tempat di mana limbah tidak berakhir sebagai beban, melainkan kembali memberi manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.

Referensi:

1. Data dan pengelolaan TPST Bantargebang serta kajian kapasitas.

2. Kajian ekonomi sirkular dan target pengelolaan sampah nasional.