Konten dari Pengguna

Ketika Penyakit Tidak Lagi Diobati, tetapi Dicegah Sejak Tingkat Gen

Ribath Ridwanulloh

Ribath Ridwanulloh

mahasiswa semester akhir

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ribath Ridwanulloh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayangkan seorang bayi baru lahir menjalani pemeriksaan sederhana beberapa tetes darah. Dari pemeriksaan tersebut, dokter dapat mengetahui apakah ia berisiko mengalami kanker tertentu, penyakit jantung, diabetes, atau kelainan genetik puluhan tahun sebelum gejala pertama muncul. Bayangkan pula seorang pasien kanker tidak lagi menjalani kemoterapi yang menyerang seluruh tubuh, melainkan menerima terapi yang dirancang khusus berdasarkan profil genetik sel kankernya.

Apa yang dahulu terdengar seperti cerita fiksi ilmiah kini mulai menjadi kenyataan berkat perkembangan bioteknologi kesehatan.

Selama beberapa dekade, dunia kedokteran berfokus pada pengobatan setelah penyakit muncul. Kini paradigma itu perlahan bergeser menuju predictive, preventive, personalized, and participatory medicine (P4 Medicine), yaitu pendekatan yang memanfaatkan informasi biologis setiap individu untuk memprediksi risiko penyakit, mencegahnya lebih dini, dan memberikan terapi yang paling sesuai.

Salah satu tonggak terbesar dalam revolusi ini adalah teknologi CRISPR-Cas9, sebuah metode penyuntingan gen yang memungkinkan ilmuwan mengubah urutan DNA secara lebih presisi. Teknologi ini telah membuka peluang pengobatan berbagai penyakit genetik seperti anemia sel sabit dan beta talasemia, yang selama bertahun-tahun hanya dapat ditangani melalui terapi suportif atau transplantasi sumsum tulang.

Kemajuan lain juga terjadi pada bidang terapi gen. Berbeda dengan obat konvensional yang umumnya mengendalikan gejala, terapi gen bertujuan memperbaiki akar penyebab penyakit dengan mengganti atau memperbaiki gen yang mengalami kerusakan. Pendekatan ini memberikan harapan baru bagi pasien dengan penyakit langka yang sebelumnya tidak memiliki pilihan pengobatan efektif.

Di sisi lain, perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mempercepat analisis data genom dalam jumlah besar. AI membantu peneliti mengidentifikasi mutasi genetik, menemukan kandidat obat baru, hingga mendukung dokter dalam memilih terapi yang paling sesuai bagi setiap pasien. Kolaborasi AI dan bioteknologi mempercepat proses yang dahulu membutuhkan waktu bertahun-tahun menjadi jauh lebih singkat.

Inovasi tidak berhenti di tingkat molekuler. Teknologi bioprinting tiga dimensi (3D bioprinting) mulai digunakan untuk mencetak jaringan biologis menggunakan sel hidup sebagai "tinta". Meski organ manusia yang sepenuhnya fungsional masih dalam tahap pengembangan, berbagai penelitian telah berhasil menghasilkan jaringan kulit, tulang rawan, dan model organ yang digunakan untuk penelitian serta pengujian obat.

Pandemi COVID-19 menjadi bukti nyata pentingnya investasi di bidang bioteknologi. Pengembangan vaksin berbasis mRNA dalam waktu kurang dari satu tahun menunjukkan bagaimana riset molekuler mampu mengubah respons dunia terhadap ancaman kesehatan global. Platform yang sama kini dikembangkan untuk vaksin influenza, malaria, bahkan beberapa jenis kanker.

Di tengah perkembangan tersebut, Indonesia memiliki tantangan sekaligus peluang. Sebagai negara dengan populasi besar dan keanekaragaman genetik yang tinggi, Indonesia memiliki potensi menjadi pusat penelitian bioteknologi di kawasan Asia Tenggara. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan. Sebagian besar bahan baku farmasi, alat diagnostik canggih, hingga teknologi terapi mutakhir masih bergantung pada impor.

Ketergantungan ini bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga menyangkut ketahanan kesehatan nasional. Ketika rantai pasok global terganggu, sebagaimana terjadi pada masa pandemi, negara yang tidak memiliki kapasitas riset dan produksi sendiri akan lebih rentan menghadapi krisis.

Karena itu, pembangunan bioteknologi kesehatan tidak cukup hanya dengan menghadirkan teknologi baru. Diperlukan investasi jangka panjang pada penelitian, laboratorium, sumber daya manusia, regulasi, serta kolaborasi antara perguruan tinggi, rumah sakit, industri, dan pemerintah.

Di sisi lain, perkembangan bioteknologi juga membawa tantangan etika. Penyuntingan gen pada embrio manusia, perlindungan data genom, hingga kesenjangan akses terhadap terapi berbiaya tinggi menjadi isu yang harus diantisipasi. Kemajuan ilmu pengetahuan harus berjalan beriringan dengan prinsip kehati-hatian, keadilan, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia.

Masa depan kesehatan tidak lagi hanya bergantung pada kemampuan mengobati penyakit, tetapi juga pada kemampuan memahami penyebabnya hingga ke tingkat molekuler. Bioteknologi menawarkan kesempatan untuk mengubah pendekatan tersebut menjadi lebih presisi, lebih efektif, dan lebih berorientasi pada pencegahan.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah bioteknologi akan mengubah dunia kesehatan. Perubahan itu sudah berlangsung. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah Indonesia akan menjadi pelaku utama dalam revolusi tersebut atau sekadar menjadi pengguna teknologi yang dikembangkan oleh negara lain.

Foto: dibuat dengan AI (ChatGPT)