Berawal Dari Pengemudi Hingga Jadi Kepala Regu Damkar

Memberitakan informasi yang menarik dan patut diketahui publik
Tulisan dari MataRakyatNews tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hassanudin (56) adalah Kepala Regu Pos Pemadam Kebakaran (Damkar) Joglo Sektor Kembangan, Jakarta Barat. Dia memulai karirnya sebagai "Sang Penakluk Api" sejak usia 28 tahun. Keinginannya untuk menjadi seorang petugas damkar patut diapresiasi. Karena, usaha dan kerja keras dia untuk menjadi Kepala Regu bukan suatu hal yang mudah.
Awalnya, Hassanudin memutuskan untuk ikut seleksi. Namun, ketika itu seleksi yang di buka oleh Dinas Kebakaran Pemprov DKI hanya untuk pengemudi, bukan petugas Damkar. Namun, Hassanudin tetap memutuskan untuk mengikuti seleksi tersebut. Setelah lolos seleksi, ia bertugas sebagai pengemudi mobil Damkar diwilayah Jakarta Timur disalah satu pos disana Setelah empat tahun lamanya, dirinya dipindahkan ke Pos Damkar Joglo Sektor Kembangan tempat dimana ia bertugas sekarang.

Namun, ia tetap menjabat sebagai pengemudi mobil Damkar. Selama hampir 16 tahun bekerja sebagai pengemudi, Hassanudin mendapatkan promosi untuk menjadi Kepala Regu. Diapun mengikuti pendidikan selama enam bulan lamanya di Pusat Diklat Damkar di Ciracas, Bogor. Setelah selesai diklat, ia diangkat menjadi Kepal Regu Damkar Pos Joglo Sektro Kembangan hingga saat ini dengan membawahi delapan orang dalam dua tim.
Hassanudin mengaku, menjadi seorang sopir damkar juga dibutuhkan teknik dan kemampuan khusus. Misalnya, harus memahami medan atau lokasi kebaran ketika titik api tidak terjangakau dengan maksimal.

"Jadi pengemudi Damkar itu harus tahu dan bisa ngatur posisi mobil jauh dekat, depan belakang dari titik lokasi (kebakaran). Kita juga harus tahu dimana lokasi sumber air terdekat dari lokasi kebakaran. Jadi gak asal nyetir gak asal parkir," katanya saat ditemui kumparan (kumparan.com) di Jakarta, Sabtu (4/11).
Hasan (sapaan akrab Hassanudin) mengaku, tak jarang turut serta membantu petugas Damkar yang berada dilokasi terdepan. Menurut dia, dalam melakukan tugasnya, dibutuhkan konsentrasi tinggi dan kepakaan terhadap medan kebakaran. Karena, jangan sampai risiko yang tidak diinginkan atau kemungkinan terburuk menimpa seorang petugas itu sendiri.
"Jadi pada saat dilokasi kita harus pahami medan, tanya warga setempat apa ada korban terjebak di dalam. Jika ada, maka kita prioritaskan evakuasi. Jika tidak, maka kita fokus padamkan api," ujar Hasan.

Hasan mengaku, pengalaman berkesan dan menantang sebagai petugas damkar ketika memadamkan kebakaran di pabrik Swallow di Cengkareng, Jakarta Barat. Ketika itu, kata Hasan, api baru bisa dipadamkan setelah tujuh hari lamanya. Ketika itu, api sulit dipadamkan karena tertiban oleh pelapon dan besi-besi atap yang menutupi titik-titik panas.
"Kejadian itu tujuh tahun lalu. Ketika itu lebih dari 20 mobil dalamkar dikerahkan. Saat itu juga banyak korban yang sudah ke cor sama cairan plastik, jadi kita juga kesulitan evakuasi," ucap pria yang dua tahun mendatang akan pensiun.

Namun, Hasan mengaku, tak jarang dirinya dan petugas damkar lainnya itu dicibir karena lamanya sampai dilokasi kebakaran. Menurutnya, hal itu seharusnya dapat dimaklumi oleh masyarakat melihat kondisi kota Jakarta yang saat ini sudah sangat padat. Sehingga, kata dia, dibutuhkan waktu paling tidak 15 menit untuk bisa sampai dilokasi pasca laporan masuk.
"Tapi pasti kita usahakan secepat mungkin. Karena kita kan nggak mau juga kalau api sampai menjalar, terus kerugian membesar. Apalagi lagi kalau sampai ada korban jiwa, pokoknya jangan sampai," ujarnya.

Rifky (29) salah satu anak buah Hassanudin mengaku, sebelum menjadi seorang petugas damkar, dirinya merupakan relawan untuk Barisan Relawan Kebakaran (Balakar). Ia bertugas sebagai Balakar disalah satu pos damkar di Cengkareng. Setelah menjadi relawan selama dua tahun, ia mendapatkan kesempatan untuk menjadi petugas damkar dengan ikut seleski yang dibukan oleh Dinas Damkar Pemprov DKI Jakarta pada tahun 2014.
"Saya tertarik jadi damkar mungkin karena dulu saya pas mahasiswa ikut Mapala dikampus. Jadi jiwa saya tertarik untuk menjadi orang yang bekerja dibidang sosial. Salah satunya damkar," ujarnya.
Berdasarkan data statistik di JakartaFire.net angka kebakaran ditahun 2017 cenderung menurun dibandingkan tahun lalu. Sepanjang tahun 2016, titik lokasi kebakaran di Ibu Kota mencari 800 lebih. Namun, hingga Oktober 2017, kebakaran tercatat baru 100an. Kebanyakan kebakaran terjadi karena instalasi buruk yang mengakibatkan korsleting listrik.
