Inovasi dan Kreatifitas Menentukan Keberhasilan Berbisni

Memberitakan informasi yang menarik dan patut diketahui publik
Tulisan dari MataRakyatNews tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

JAKARTA, Kumparan.com - Persaingan bisnis diera digital saat ini sangat kompetitif. Ditengah persaingan usaha yang kuat, masih terdapat peluang-peluang investasi yang menjanjikan keuntungan materi. CEO JUNI Records Adrianto Pratono berpendapat, persoalan investasi dalam dunia bisnis tidak melulu soal uang, tapi juga identik dengan sumber daya manusia (SDM). Menurut dia, peluang bisnis perlu diawali dengan komitmen dan gagasan yang matang dari SDM yang dimiliki. Kemudian, inovasi juga menjadi hal utama untuk dapat menjamin bahwa bisnis yang dilakukan memiliki daya saing yang kuat melalui SDM yang kreatif. Sehingga, terdapat pertukaran informasi yang kraetif yang dapat dijadikan inovasi untuk memuluskan peluang bisnis yang dijalankan.
"Soal inovasi kita dapatkan dari pembelajaran melalui SDM internal kita, karena investasi itu melulu soal uang. Jadi, kalau didunia label music itu bagaimana kita bisa mengembangkan kreatifitas artis yang kita punya itu agar terdeleveri dengan baik dan memberikan pengaruh positif," katanya dalam talkshow seleksi calon wartawan Kumparan.com di Jakarta, Sabtu (30/9).
Untuk memastikan bahwa artis yang dilabelnya dapat diterima publik, menurut Adrianto, perlu diketahui melalui semangat, ketertarikan, dan pasionitas dari artis itu sendiri. Kemudian, lanjutnya, apa yang dipromisikan melalui artis tersebut tentu perlu diperdengarkan terlebih dahulu.
"Biasa (kalau lagu) kita dengarkan dulu seperti apa lagunya. Tapi yang paling penting, kita harus tau apakah artis kita itu sejalan dengan pasion dari label kita. Jadi, tidak hanya sekadar berhubungan dengar artis kita, tapi juga ada proses simbiosis mutualisme antara kita," kata Adrianto.
CEO Restoran Upnormal Sarita menyatakan, banyak orang yang ingin berbisnis itu terkendala dengan persoalan modal. Menurut dia, jika orang yang melakukan bisnis hanya berpandang untuk mendapatkan keuntugan semata, maka bisnis yang dijalankan belum tentu akan berhasil. Dia mengaku, awal dari keinginannya membuka warung upnormal tidak pada keuntungan semata. Tetapi, bagaimana melihat peluang bisnis yang menjanjikan dari sisi yang berbeda.
"Kita tahu bahwa warung Indomie itu banyak dimana-mana. Tapi, ketika awal 2014 kita belum lihat ada warung indomie yang menyediakan kebutuhan saat ini. Nah, jadi kita putuskan untuk buat warung indomie yang ada wifi, colokan, dan kebutuhan exis mahasiwa untuk update di instagram," katanya.
Dia menjelaskan, dalam berbisnis perlu diawali dengan visi dan inovasi yang menyeluruh. Artinya, bukan hanya terkait launching menu baru, tapi juga berkaitan dengan kebutuhan zaman. Dia menjelaskan, kebanyakan orang saat ini tidak hanya ingin makan, tapi juga ingin menjajaki dunia kuliner yang up to date di media sosial.
"Jadi, inovasinya kita bangun bukan dari keinginan orang ingin maka. Tapi juga terkait kebersamaan, exis, dan kampanye tentang Indonesia keren. Karena, makanan-makanan yang kita sajikan basicnya dari Indonesia. Maka kita ingin bangkitkan semangat Indonesia keren," ujar Sarita.
CEO Kitabisa.com Muhammad Afatih mengaku, kesulitan dalam mengembangkan dunia bisnisnya yang berkaitan dengan crowdfounding. Menurut dia, pengembangan bisnis didunia crowdfounding dilakukan melalui inovasi dengan melihat cara kerja crowdfounding lainnya. Karena, menurut dia, kebanyakan crowdfounding itu melakukan invosasi dengan melihat kerja crowdfounding lainnya tetapi dari sisi yang berbeda.
"Jadi kita (kitabisa.com berinovasi dengan melihat cara kerja crowdfounding lainnya, tapi tidak dengan menjiplak secara terang-terang. Tatepi kita lihat dari sisi yang berbeda, kemudian kita konversi dengan sesuatu hal yang baru," ujarnya.
Dia mengaku, keinginannya untuk mebuat sebuah portal galang dana secara online karena saat ini sudah tidak efektif lagi jika galang dana dipinggir jalan atau dilampu merah. Kemudian, dia melihat, peluang bisnis crowdfounding pernah menjadi viral di Amerika yang kemudian menjadi potensi publik untuk beramal.
"Jadi, saya putuskan untuk buat crowdfounding kitabisa.com di Indoneisia. Jadi, bisnis kita akan berjalan jika kita memiliki inovasi berbeda dari yang biasanya ditawarkan oleh kebanyakan orang," katanya.
