Konten dari Pengguna

Menelusuri Museum Perumusan Naskah Proklamasi yang Merambah Konten Digital

Ricad Saka

Ricad Sakaverified-green

Great mind will bring you to the glorious things

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ricad Saka tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menelusuri Museum Perumusan Naskah Proklamasi yang Merambah Konten Digital
zoom-in-whitePerbesar

Memahami sejarah Bangsa Indonesia secara keseluruhan diperlukan bahan bacaan yang tidak sedikit. Selain itu, banyak kalangan anak-anak lebih memilih untuk memahami sejarah secara visual karena dinilai lebih efektif dan mudah dipahami.

Menelusuri Museum Perumusan Naskah Proklamasi yang Merambah Konten Digital (1)
zoom-in-whitePerbesar

Museum Perumusan Naskah Proklamasi kini sudah bertransformasi menjadi museum digital. Hampir di setiap sudut ruangan disediakan tutorial digital untuk pengunjung agar dapat memahami peristiwa sejarah, khususnya ketika perumusan teks proklamasi dilakukan oleh para pahlawan nasional saat itu. Gedung yang memyimpan cerita sejarah krusial Bangsa Indonesia itu terlihat rapi, bersih, dan terawat.

Dengan suasana historis dan adanya lagu-lagu nasional yang diputar sebagai latar, membuat bangunan itu nampak kental dengan kondisi saat perumusan naskah proklamasi ole para tokoh pahlawan yang terlibat dalam perumusan.

Menelusuri Museum Perumusan Naskah Proklamasi yang Merambah Konten Digital (2)
zoom-in-whitePerbesar

"Selain adanya multimedia visual, setiap tahunnya kami juga membuat komik para pahlawan yang kala itu terlibat dalam perumusan teks proklamasi. Karena kita tahu, kalau museum itu enggak boleh ketinggalan zaman," kata Wahyuni selaku Edukator Museum Perumusan Naskah Proklamasi saat ditemui kumparan (kumparan.com) di Jakarta, Kamis (9/11).

Menelusuri Museum Perumusan Naskah Proklamasi yang Merambah Konten Digital (3)
zoom-in-whitePerbesar

Setiap tahunnya, Wahyuni dan petugas pengelola museum lainnya melakukan pameran dari hasil-hasil karya digital seperti video animasi, multimedia visual, dan komik-komik para pahlawan yang ikut dalam proses perumusan teks proklamasi.

"Jadi, pengunjung bisa nonton video yang berdurasi kurang lebih lima sampai lima belas menit dan komik-komik yang menceritakan sejarah mengenai perumusan naskah proklamasi. Dari museum yang ada, baru museum kita yang ada platform digitalnya," ujarnya.

Menelusuri Museum Perumusan Naskah Proklamasi yang Merambah Konten Digital (4)
zoom-in-whitePerbesar

Wahyuni melanjutkan, anak-anak sekolah yang berkunjung ke Museum Perumusan Naskah Proklamasi lebih tertarik melihat video-video tersebut. Cara mengakses video itu dengan mengunduh terlebih dahulu aplikasi Siji di playstore smartphone.

"Nanti, ketika sudah diunduh, kita scan platform atau gambaran peristiwa yang ada di dinding-dinding museum ini. Setelah di-scan, video akan muncul kemudian," kata Wahyuni.

Menelusuri Museum Perumusan Naskah Proklamasi yang Merambah Konten Digital (5)
zoom-in-whitePerbesar

Dia mengaku, masih banyak anak-anak bangsa yang belum mengetahui secara luas pahlawan-pahlawan nasional. Apalagi, peristiwa perumusan teks proklamasi adalah peristiwa dadakan. Sehingga, tidak ada dokumentasi baik foto atau video yang menggambarkan suasana saat itu.

"Maka, kita berinisiatif untuk membuat animasi-animasi foto dan video. Karena peristiwa di sini serba mendadak dan tak terencanakan," katanya.

Menelusuri Museum Perumusan Naskah Proklamasi yang Merambah Konten Digital (6)
zoom-in-whitePerbesar

"Pahlawan kita ini banyak, bukan Soekarno-Hatta saja. Tapi ratusan. Banyak anak-anak yang belum mengetahui pahlawan seperti Iwa Kusumasumantri, Soetardjo Kartohadikusumo, dan pahlawan lain yang terlibat dalam peristiwa sejarah perumusan teks proklamasi yang merupakan bagian peristiwa penting dari sejarah Indonesia," ucap Wahyuni. 

Awalnya, bangunan yang saat dijadikan Museum Perumusan Naskah Proklamasi dibangun pada tahun 1927 oleh arsitektur Belanda yang bernama J.F.L Blankenberg. Ketika perang dunia pertama pecah, bangunan tersebut diperuntukan untuk Konsulat Jenderal Inggris di Indonesia. 

Bahkan, sampai pada masa pendudukan Jepang, bangunan itu dijadikan rumah dinas bagi Laksamana Muda Tadashi Maeda, selaku Kepala Penghubung Angkatan Laut dan Angkatan Darat Jepang. 

Menelusuri Museum Perumusan Naskah Proklamasi yang Merambah Konten Digital (7)
zoom-in-whitePerbesar

"Hingga saat ketika Jepang menyerah kepada sekutu, pada tanggal 16 Agustus 1945, Soekarno bersama Hatta dan Ahmad Soebardjo sepulang dari Rengasdengklok datang ke sini dengan para tokoh pemuda Indonesia untuk meminta izin kepada Laksamana Muda Tadashi Maeda untuk mengumpulkan Anggota PPKI di rumahnya guna membahas persiapan kemerdekaan Bangsa Indonesia," jelas Wahyuni. 

Tanpa melalui proses perdebatan, Maeda sontak memberikan izin itu kepada Soekarno. Setelah diizinkan, kata Wahyuni, Laksamana Maeda pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua untuk beristirahat.

Menelusuri Museum Perumusan Naskah Proklamasi yang Merambah Konten Digital (8)
zoom-in-whitePerbesar

"Jadi, enggak ada istilah bantuan dari Jepang. Setalah dikumpulkan anggota PPKI, dilakukan pembahasan terkait naskah proklamasi. Setelah berdiskusi dengan para tokoh pemuda, akhirnya naskah proklamasi disetujui dan kemudian diketik oleh Sayuti Melik. Setelah selesai diketik, naskah itu ditandatangani oleh Soekarno-Hatta di atas piano didekat tangga," tutur Wahyuni. 

Menelusuri Museum Perumusan Naskah Proklamasi yang Merambah Konten Digital (9)
zoom-in-whitePerbesar

Hingga tahun 1981, gedung itu menjadi aset pemerintah RI melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan saat itu. Dan pada tanggal 24 November 1991 gedung yang terletak di Jalan Imam Bonjol Nomor 1 ini ditetapkan sebagai Museum Perumusan Naskah Proklamasi melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. 

Menelusuri Museum Perumusan Naskah Proklamasi yang Merambah Konten Digital (10)
zoom-in-whitePerbesar

Menurut Wahyuni, pekerjaannya sebagai edukator museum adalah suatu hal yang mulia. Karena, lanjut dia, memberikan informasi mengenai kejadian sejarah dan tokoh-tokoh pahlawan yang terlibat di dalamnya adalah sesuatu pekerjaan yang penuh bakti kepada negara.

"Ini hanya setetes saja dari seluruh rangkaian sejarah bangsa kita. Masih banyak pekerjaan besar lainnya yang berkontribusi dan berbakti kepada kemajuan bangsa kita" ujarnya. 

Menelusuri Museum Perumusan Naskah Proklamasi yang Merambah Konten Digital (11)
zoom-in-whitePerbesar

Dia mengaku, pengunjung museumnya saat ini tetap ramai peminat. Selain studi tour dari sekolah SD, SMP, dan SMA, masih banyak juga warga lain yang berkunjung ketika hari libur. Biasanya, kata Wahyuni, puncak kunjungan masyarakat terbesar di museumnya saat menjelang hari kemerdekaan 17 Agustus. 

"Kita tetap ramai. Untuk tahun 2016 total pengunjung kita sekitar 24 ribu orang. Untuk tahun 2017, sejak Januari hingga Oktober sudah tercatat total itu 18 ribu orang lebih," katanya.

Menelusuri Museum Perumusan Naskah Proklamasi yang Merambah Konten Digital (12)
zoom-in-whitePerbesar

Dia menambahkan, sejarah perjuangan untuk memerdekakan Bangsa Indonesia dilakukan dengan semangat besar dan penuh tumpah darah. Sebelum kemerdekaan Indonesia dikumandangkan, sejumlah tokoh pahlawan nasional yang tergabung dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) melakukan pertemuan guna merumuskan naskah proklamasi.

"Maka, yang terpenting bagi kita sebagai penerus bangsa itu jangan sesekali melupakan sejarah bangsa kita sendiri," tutupnya.