Konten dari Pengguna

Lebaran Haji di Kampung: Antara Tradisi, Gotong Royong, dan Air Mata Kurban

Richal Faruq ahfa

Richal Faruq ahfa

Mahasiswa ilmu hadist UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Richal Faruq ahfa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ketika seorang anak bahagia bisa lebaran bersama keluarga dikampung halaman. Foto : unsplash.com
zoom-in-whitePerbesar
ketika seorang anak bahagia bisa lebaran bersama keluarga dikampung halaman. Foto : unsplash.com

Setiap Idul Adha, kampung selalu punya cara sendiri untuk menghidupkan makna kurban. Tak hanya tentang menyembelih hewan, tetapi tentang gotong royong, kebersamaan, dan rasa syukur yang tulus dari hati paling dalam.

Di kampung saya, di pelosok Jawa Tengah, suara takbir mengalun sejak malam sebelum hari H. Anak-anak membawa obor keliling desa, para ibu sibuk menyiapkan bumbu gulai dan sambal kecap, sementara para bapak menyusun terpal dan bambu di lapangan kecil dekat mushala—tempat penyembelihan akan digelar esok harinya.

Gotong Royong yang Masih Hidup

Tak ada sistem outsourcing atau jasa potong hewan. Semuanya dikerjakan bersama. Dari yang menyembelih, menguliti, memotong, menimbang, hingga membungkus. Bahkan anak-anak pun ikut membantu membagikan daging dari rumah ke rumah.

Ini bukan sekadar rutinitas. Ini adalah simbol gotong royong yang masih hidup. Di kota, mungkin Idul Adha berarti beli hewan lewat aplikasi, lalu menonton live streaming saat disembelih. Tapi di kampung, kurban adalah soal turun tangan, bukan sekadar menonton.

Tangis dan Syukur dari Mereka yang Pertama Kali Berkurban

Tahun ini, ada satu hal yang membuat saya tercekat. Seorang ibu janda, yang sehari-hari berjualan sayur keliling, akhirnya bisa berkurban seekor kambing kecil. Bukan lewat tabungan, tapi hasil patungan bersama tiga teman sesama pedagang sayur.

Saat namanya disebut sebelum penyembelihan, ia menutup wajah dengan jilbab, menangis. "Saya enggak nyangka, Mas. Baru tahun ini bisa ikut kurban. Itu pun bareng-bareng," katanya terbata.

Air mata yang jatuh bukan karena sedih, tapi karena rasa syukur yang tak bisa diucap dengan kata-kata.

Lebaran Haji: Bukan Hanya Tentang Daging

Di kampung, daging memang penting. Tapi lebih penting lagi adalah rasa kebersamaan. Daging kurban dibagi rata, tanpa memandang status sosial. Bahkan yang menyumbang hewan sering kali tidak mengambil jatah daging, karena sudah "lebih dari cukup" di rumahnya.

Setiap orang merasa dihargai, diberi, dan dilibatkan. Tidak ada yang merasa lebih tinggi karena memberi, atau lebih rendah karena menerima.