Konten dari Pengguna

Fenomena "Kabur Aja Dulu": Privilese?

Ricky Bryan DP Tampubolon
Dosen Akuntansi IPB University
26 Februari 2025 11:03 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Ricky Bryan DP Tampubolon tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber: https://www.shutterstock.com/image-photo/happy-man-backpack-standing-arms-beach-2532922347
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: https://www.shutterstock.com/image-photo/happy-man-backpack-standing-arms-beach-2532922347
ADVERTISEMENT
Belakangan ini, media sosial diramaikan dengan tagar #KaburAjaDulu. Kalau saya lihat, tagar ini berisikan keluhan anak muda tentang peliknya hidup di negeri ini. Ekonomi suram lah, biaya hidup melambung lah, kerja susah lah, masa depan nggak jelas lah. Lalu apa yang mereka lakukan untuk menghadapi itu? Kabur sementara alias liburan. Kalaupun mau kabur, memang kamu bisa kabur ke mana? Memang semudah itu pindah negara? Atau jangan-jangan, ini cuma curhatan kalangan tertentu yang memang punya privilese buat pergi?
ADVERTISEMENT

Kabur Kalian Itu Mahal, Bung!

Bagi sebagian orang, pilihan “kabur” yang jadi fenomena ini terlihat gampang dilakukan. Punya uang, punya tabungan, bisa urus visa, beli tiket. Setelah itu, ya tinggal unggah momen ke bandara dan mendarat di negara tujuan. Jadilah itu #KaburAjaDulu. Tapi buat masyarakat yang gaji UMR, jangankan kabur, mereka memikirkan mau makan apa besok saja sudah membuat pusing.
Saya lihat mereka ini lupa bahwa mayoritas anak muda Indonesia tidak punya akses untuk kabur ala-ala ke luar negeri. Mereka yang hidupnya pas-pasan itu, hanya bisa mimpi saja bekerja dari kafe di luar negeri sambil minum kopi mahal. Mereka sudah pusing dan kesulitan dengan urusan bayar kontrakan, cicilan, dan harga sembako yang kadang naik kadang turun.
ADVERTISEMENT
Bagi saya ini adalah fenomena lucu. Sama seperti anak SMA yang bolosnya bukan ke warnet, tapi ke Eropa. Yang lain bolos main PES di rental PS, kelompok yang sedikit ini bolosnya berfoto aesthetic di depan Menara Eiffel. Saya lantas berpikir, kalau bisa bolos sampai Eropa, bukankah itu justru menunjukkan mereka ini bukan sembarang anak SMA? Sama saja dengan #KaburAjaDulu, kalau bisa kabur, bukankah itu justru tanda kalau hidup mereka tidak segelap yang mereka keluhkan?

Kabur Ala Liburan Berkedok Penderitaan

Saya melihat (banyak dari) mereka yang bilang "kabur" sebenarnya cuma mau liburan mewah dengan bumbu keresahan. Mewah karena liburannya ini ke luar negeri, bukan ke luar kecamatan. Dibilang hidup susah di Indonesia, tapi bisa nongkrong di kafe mewah sambil minum kopi seharga setengah gaji buruh harian. Katanya mau lari dari kehidupan yang menyesakkan, tapi update Instagram story masih rajin. Tidak lupa pula pasang caption yang membuat kebanyakan orang bergaji UMR ingin ada di posisi mereka.
ADVERTISEMENT
Coba bayangkan ini: ada dua orang yang sama-sama bilang "cape banget, pengen kabur". Yang satu benar-benar kabur, kaburnya pun ke rumah kontrakan petak yang bocor tiap hujan. Yang satu lagi juga kabur, tapi ke kafe di Amsterdam sambil nyeruput latte. Nah, yang mana yang benar lari dari kesulitan, dan yang mana yang cuma flexing dengan kemasan baru?

Dimana Rasa Empati?

Fenomena ini justru memperlihatkan bahwa "kabur" ini adalah soal privilese, bukan keresahan. Keresahan itu hanya bumbu saja, biar caption-nya unik. Orang yang hidupnya benar-benar sulit mana punya akses untuk kabur ala-ala alias liburan. Mereka semampunya bertahan dan berusaha di tanah air.
Sebelum kamu bilang "kabur aja dulu", coba lihat sekitar. Banyak anak muda lain yang masih berjuang untuk bisa sekolah, cari kerja, supaya bisa hidup dengan layak. Bukannya dikasih semangat, malah kabur sendiri? Kok kayak tidak ada solidaritasnya?
ADVERTISEMENT
Saya juga tidak bilang kita harus pasrah dengan keadaan. Tapi, daripada sibuk kabur (yang sebenarnya juga cuma mau liburan), kenapa tidak tinggal di Indonesia dan jangan buang-buang uang ke negara orang? Lebih baik kaburnya ke Bali atau ke Danau Toba, uangnya juga untuk sesama bangsa Indonesia. Mulailah juga membantu orang sekitar yang butuh bantuan. Mereka yang punya kesempatan lebih juga bisa berbagi—buka peluang kerja, berikan info berguna, atau minimal jangan membuat yang lain makin down.
Jadi, fenomena #KaburAjaDulu ini sebenarnya bukan soal kekecewaan, justru ini menunjukkan kesenjangan. Yang bisa kabur adalah mereka yang mampu. Coba putar lagi lagu legendaris ini, dari God Bless dengan judul Rumah Kita. Lalu dengar bagian ini:
ADVERTISEMENT
"Lebih baik di sini, rumah kita sendiri. Segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa, semuanya ada di sini, rumah kita."
Indonesia ini rumah kita. Kalau semua orang pergi, siapa yang mau berjuang untuk membuat tempat ini lebih baik? Sebelum teriak "kabur aja dulu", coba pikir lagi: benar pengen kabur, atau cuma mau flexing karena bisa?