Konten dari Pengguna

Ekologi ikan Hiu dan ikan Paus (Part One)

Ricky Suwarno

Ricky Suwarno

CEO dan Pendiri Karoomba Asia. Anggota Asosiasi untuk Kecerdasan Buatan China (CAAI)

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ricky Suwarno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh: Ricky Suwarno

5 april 2019

Sejak kecil, saya selalu tertarik untuk Mengamati ekologi hubungan manusia dengan alam atau lingkungan. Kata “Eco” berasal dari bahasa Yunani kuno, yang berarti rumah atau lingkungan.

Ikan Hiu adalah ikan tulang rawan. Dan ikan paus adalah binatang mamalia. Meskipun morfologi mereka serupa, karena berada di lingkungan yang sama. Yang disebut "evolusi konvergensi" dalam biologi

Dunia yang beraneka ragam membutuhkan budaya yang beragam juga. Seperti halnya keanekaragaman spesies yang didukung oleh "ekologi" alam, untuk menjaga keseimbangan ekosistem.

Kali ini, hubungan ekologi yang saya maksudkan adalah hubungan negara antara dua raksasa di dunia ini. Amerika Serikat dengan China. Jika yang terlihat cuma perang dagang China-AS, atau bagaimana Amerika memprovokasi masalah keamanan di jalur Laut China Selatan. Berarti anda hanya melihat cabang pohon. Tetapi, bila anda dapat melihat titik balik dalam hubungan AS-China, berarti anda telah dapat melihat pohon secara keseluruhan.

Karena wawasan Anda, baru dapat benar-benar memahami faktor politik dalam negeri yang mempengaruhi kebijakan politik luar negeri antar dua adidaya. Faktor antara mereka yang ingin turun dari bus, dan mereka yang terjepit ke dalam bus.

Saya selalu mengumpamakan hubungan Cina-AS sebagai hubungan antara ikan hiu dan ikan paus. Memang, Akan lebih banyak perbedaan dan konflik antara Cina dan Amerika Serikat di masa depan. Dan banyak orang mudah melihat momentum konfrontasi yang serius antara Cina dan Amerika Serikat.

China dan AS bukan dua perusahaan yang saling bersaing. Melainkan, dua spesies yang berbeda. Ekosistem tempat mereka hidup dan tinggal jauh lebih rumit.

Dahulu kala, ada ikan hiu raksasa. Namanya, Megalodon. Seperti yang ditayangkan dalam film hollywood di liburan musim panas tahun lalu. Yang dibintangi oleh Jason Statham dan Li Bing Bing. Meg raksasa ini sekitar tiga kali lipat dari hiu putih. Makanan kesukaan Meg adalah ikan paus kecil. Tetapi, Ketika ikan paus kecil bertumbuh besar, ia berevolusi menjadi paus raksasa. Sehingga, Sulit bagi Meg menangkap ikan paus kecil lagi. Kurangnya makanan membuat Megalodon yang dulunya kuat dan hebat, menjadi punah.

Dari cerita diatas, memberikan saya beberapa inspirasi. Pertama, meskipun ikan paus dan ikan hiu adalah raksasa adidaya di lautan, mereka sebenarnya adalah dua spesies yang sama sekali berbeda. Ikan Hiu adalah ikan tulang rawan. Dan ikan paus adalah binatang mamalia. Meskipun morfologi mereka serupa, karena berada di lingkungan yang sama. Yang disebut "evolusi konvergensi" dalam biologi.

Ikan Hiu tidak bisa berubah menjadi ikan paus. Dan ikan paus tidak bisa berubah menjadi hiu.

Sama sepertinya, karakter suatu negara ditentukan oleh sejarah dan budayanya. Meskipun Cina dan Amerika Serikat adalah dua ekonomi terbesar di dunia. Cina tidak akan menjadi AS. Sama seperti Amerika Serikat tidak bisa menjadi Cina. Ini adalah kenyataan.

Inspirasi kedua, setiap spesies akan berevolusi terus-menerus. Sesuai dengan perubahan lingkungan eksternal. Yang pandai beradapsi akan bertahan. Menjadi kuat dan menang.

Kepunahan Megalodon, bukan karena ikan paus tumbuh lebih besar dan cepat. Tetapi karena tidak beradaptasi dengan perubahan lingkungan.

Jika kekuatan Amerika Serikat menurun, masalah utamanya terletak pada orang Amerika Serikat sendiri. Demikian pula, jika perekonomian China tidak berhasil mencapai kenaikannya, masalah utama juga ada di Cina sendiri. Dan tidak ada yang bisa disalahkan.

Inspirasi ketiga, spesies teratas dalam ekosistem sulit untuk saling memusnahkan. Saat ini, paus dan hiu hidup berdampingan. Seganas apapun Hiu putih, tidak dapat memusnahkan ikan paus. Walau mereka hanyalah paus biru yang sangat jinak.

Oleh karena itu, kekuatan negara raksasa ini, pada akhirnya akan mencapai keseimbangan. Tentu saja, keseimbangan ini datang dari perjuangan keras. Persaingan antara dua adidaya Amerika Serikat-China bisa diibaratkan, Seperti kutipan teori The Red Queen hypothesis yang dinamai Lewis Carrol dalam karakternya “Alice in wonderland”.

“My dear, here we must run as fast as we can, just to stay in place. And if you wish to go anywhere, you must run twice as fast as that.”

Singkatnya, untuk bisa berkompetitif dan bertahan hidup, anda harus terus berlari untuk mempertahankan kedudukan dan kekuatan yang sama seperti sekarang.

BERSAMBUNG....

Untuk mempelajari lebih lanjut tentang perkembangan teknologi terkini, bisa menelusuri: https://artificialintelligenceindonesia.com/