Kisah Hidup Elon Musk: Pria Idealis dengan Masa Kecil yang Kelam

CEO dan Pendiri Karoomba Asia. Anggota Asosiasi untuk Kecerdasan Buatan China (CAAI)
Tulisan dari Ricky Suwarno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Elon Musk. Public figur yang selalu menjadi pembahasan kontroversial. Sebenarnya, Elon Musk bukan seorang pengusaha, melainkan seorang idealis. Mempunyai cita-cita yang tinggi dengan menggunakan cara bisnis untuk mencapai visi dan cita-citanya. Oleh karena itu, saya berharap kita dapat mempelajari cara berpikirnya yang sangat sederhana dan tepat. Sehingga terinspirasi dari pengalaman hidupnya yang pahit dan sukses.
Waktu kecil, Elon Musk adalah seorang anak yang sangat fokus. Bahkan kelewatan fokus. Dan dia suka membaca. Ketika berusia 10 tahun, dia telah membaca hampir semua buku di toko buku dekat rumahnya.
Saking seringnya tenggelam dalam dunianya sendiri, dia sering tidak dapat mendengar orang lain berbicara dengannya. Akibatnya, kedua orang tuanya maupun dokter mengira dia memiliki masalah pendengaran. Sehingga, dia diminta menjalani operasi untuk menghilangkan amandel. Demi meningkatkan pendengarannya.
Pada tahun 2000, Elon Musk berlibur ke Brazil dan Afrika Selatan. Pada saat itu, banyak orang mencurigai kemampuannya di PayPal. Elon Musk mungkin akan diusir keluar dari perusahaan. Dalam liburannya, dia terkena penyakit malaria. Sakit parah dan sangat serius. Akibatnya, Dia harus diangkut kembali ke AS untuk perawatan darurat. Dia harus tinggal di unit perawatan intensif ICU. Selama beberapa hari dan hampir meninggal.
Setelah sembuh dari malaria, Elon Musk menyimpulkan sambil bergurau. “Liburan hanya membawa malapetaka dan akan merenggut nyawamu”. Terus terang, Saya tidak tahu apakah ini alasan mengapa ia akhirnya menjadi orang yang gila kerja. Workaholic.
Elon Musk memiliki lima anak, yakni kembar dua dan kembar tiga. Dan semuanya dari hasil bayi tabung. Memang kemungkinan kelahiran bayi kembar lewat bayi tabung jauh lebih besar dari biasanya. Alasan memilih metode ini, karena anak pertama dengan mantan istrinya, Justin, meninggal dalam usia sepuluh bulan. Mereka sangat sedih.
Sampai kemudian, Elon Musk memutuskan untuk menyelesaikan masalah dengan bantuan teknologi. Lewat proses In Vitro Fertilization (IVF) atau bayi tabung dan akhirnya lahirlah kelima anak ini.
Elon Musk hidup dalam kegelapan di masa kecilnya. Ayahnya berperilaku sangat jelek terhadapnya. Namun, tidak banyak detail publik dalam hal ini. Tetapi dari usaha Elon Musk berusaha memutuskan hubungan dengan ayahnya, dan sangat ingin melarikan diri dari Afrika Selatan datang ke Amerika Serikat. Bisa diketahui betapa masa kecilnya tidak bahagia dan jarang kasih sayang.
Saya pernah menemui Elon Musk sekali dalam suatu acara seminar di Shanghai. Orangnya agak sedikit pemalu. Introver. Tetapi tubuhnya sangat tinggi dan kekar. Mungkin sekitar 190 sentimeter tingginya. Namun, ketika dia masih kecil, badannya sangat pendek. Sehingga sering di-bully sama teman-temannya. Bahkan, pernah dilempar dari tangga. Akibatnya dia harus dirawat di rumah sakit selama beberapa minggu.
Perjalanan hidupnya sangatlah sulit. Baik di lingkungan sekolah maupun di rumah. Mungkin membaca adalah cara terbaik baginya untuk melarikan diri dari kenyataan.
Cerita waktu kecil Elon Musk membuat saya mengingat satu film Hollywood yang sangat terkenal di tahun 2015, The Imitation Game, yang mendapatkan penghargaan skenario adaptasi terbaik di Penghargaan Academy ke-87. The Imitation Game adalah film yang bagus, dibintangi oleh Benedict Cumberbatch, yang lebih dikenal sebagai 'Juan Fu' di kalangan penggemarnya di Tiongkok yang memiliki arti 'si keriting yang terberkati'.
Kata 'juan' dalam bahasa Mandarin, berarti keriting. Merujuk pada rambut Cumberbatch dalam aktingnya yang sangat sukses untuk serial Sherlock Holmes. Sedangkan, 'fu' berarti diberkati, merujuk kata pertama untuk terjemahan Tiongkok untuk 'Holmes' atau 'fu er mo si'. Jika disatukan artinya menjadi 'si keriting yang diberkati'.
Dalam film The Imitation Game, ia memainkan peran sebagai pakar matematika dengan logika yang luar biasa yang dikenal sebagai 'bapak ilmu komputer', si Alan Turing. Mungkin, bagi yang mengerti Alan Turing, pasti mengakui kehebatannya.
Namun, sayangnya kehidupan usia tua Alan Turing sangat menyedihkan. Karena masyarakat waktu itu tidak bisa toleransi terhadap homoseksualitas. Alan Turing dianiaya karena orientasi seksualnya dan dipaksa untuk melakukan apa yang disebut 'pengebirian narkoba' untuk mengekang kebutuhan fisik dan mentalnya.
Sampai pada tahun 1954, Alan Turing mengakhiri hidupnya dengan memakan apel yang mengandung sianida.
Setelah mendapatkan penghargaan skenario terbaik, Graham Moore, seorang penulis skenario muda berusia 33 tahun, mengatakan sesuatu yang sangat terkesan dalam hati. Dia mengatakan, "Sayangnya, Alan Turing tidak pernah memiliki kesempatan untuk berbicara di hadapan sekelompok orang seperti ini”.
Dan saya sangat beruntung memiliki kesempatan ini. Ini mungkin hal paling tidak adil yang pernah saya lihat. Jadi dalam waktu singkat ini, saya ingin mengatakan, “Ketika saya berusia 16 tahun, saya juga pernah ingin mengakhiri hidup ini. Karena saya merasa saya sangat aneh. Dan sangat berbeda dari yang lain. Saya tidak memiliki rasa memiliki atau diterima dalam masyarakat. Tetapi, akhirnya sekarang saya berdiri di sini.”
Jadi, dalam kesempatan ini, saya ingin mengatakan kepada anak-anak yang selalu merasa berbeda, merasa sangat aneh, atau merasa bahwa mereka tidak diterima di dunia ini. Ya, kalian pasti memiliki kesempatan dan saya berani berjanji, jagalah eksentrik kalian dan pertahankan perbedaan kalian. Kemudian, ketika giliran kalian berdiri di atas panggung ini, tolong teruskan dan sampaikan informasi ini kepada yang lainnya. Terima kasih!
Salah satu kesaksian pemenang Oscar yang paling mengesankan saya. Ini mengingatkan saya pada banyak orang. Banyak teman atau start up dan ilmuwan seperti Elon Musk. Yang di-bully dan tidak bahagia selama masa kecil mereka.
Jika kamu sendiri merasa sangat aneh dan berbeda dari orang lain, maka tulisan ini juga diberikan kepada kamu. Ricky berharap suatu hari kamu juga dapat menciptakan sesuatu yang akan membuat hidup kamu dan orang di sekitarmu menjadi lebih baik.
Just like grandma says, seperti kutipan Roman Lorenz, “Hanya ada satu kepahlawanan sejati di dunia ini, dan itu adalah masih mencintai kehidupanmu setelah melihat wajah asli kehidupan nyata". Mungkin ini adalah inspirasi terbesar yang diberikan Elon Musk kepada kita semua.
