Konten dari Pengguna

Singo Ulung sebagai Identitas Budaya Masyarakat Bondowoso

Rico Ramadhan

Rico Ramadhan

Mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Jember

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rico Ramadhan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Foto: Dokumentasi Penulis
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto: Dokumentasi Penulis

Bondowoso adalah salah satu kota kecil yang terletak di provinsi Jawa Timur. Sebelah timur kota ini berbatasan dengan Kabupaten Banyuwangi, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Probolinggo, sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Situbondo dan sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Jember. Bondowoso terletak pada ketinggian 2.300 mdpl. Hawa di Bondowoso sangat sejuk dan masih asri. Kabupaten ini mempunyai julukan Kota Tape, karena kota ini merupakan daerah penghasil tape yang enak dan berkualitas.

Bondowoso menawarkan keindahan alam yang masih asri dan sangat indah. Terletak pada dataran tinggi membuat kota ini mempunyai banyak destinasi wisata yang menarik untuk dikunjungi, seperti Kawah Ijen, Kawah Wurung, Batu Solor dan beberapa tempat lainnya. Tempat wisata tersebut biasanya ramai dikunjungi oleh para wisatawan domestik dan mancanegara. Selain menawarkan keindahan alamnya, Bondowoso juga mempunyai beberapa kebudayaan yang unik dan menarik, contohnya adalah tari Singo Ulung, tari Ojung, dan tari Topeng Konah.

Asal-usul Singo Ulung

Singo Ulung adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari Kabupaten Bondowoso. Tarian ini terus dilestarikan oleh masyarakat Desa Blimbing dari generasi ke generasi. Berdasarkan tradisi lisan masyarakat Bondowoso, Singo Ulung adalah gelar yang disandang oleh seorang bangsawan dari Blambangan Banyuwangi yang bernama Juk Seng.

Pada suatu hari Juk Seng melakukan perjalanan ke arah barat dan tiba di hutan yang dipenuhi oleh tumbuhan belimbing. Kedatangan Juk Seng menarik perhatian seorang tokoh yang tinggal disana, yaitu Jasiman. Kedua tokoh ini melakukan adu kesaktian. Dalam adu kesaktian itu, keduanya seimbang. Akhirnya mereka memilih untuk berdamai dan bersama-sama membangun desa di wilayah tersebut yang dinamakan Desa Blimbing.

Singo Ulung atau Juk Seng diangkat sebagai Demang di Desa Blimbing, dan Jasiman turut mendampingi Singo Ulung dalam kepemimpinannya. Mereka berdua bersama-sama bergotong-royong dalam membangun Desa Blimbing dengan kesaktian yang mereka miliki demi kemaslahatan desa tersebut. Berkat kerja keras yang mereka lakukan, dalam waktu dekat Desa Blimbing menjadi desa yang subur dan Makmur.

Singo Ulung dan Jasiman dianggap sebagai tokoh yang berjasa bagi masyarakat Desa Blimbing. Bahkan hingga saat ini masyarakat Desa Blimbing masih menghormati kedua tokoh tersebut. Untuk mengenang jasa sekaligus menjaga warisan leluhur, masyarakat Desa Blimbing merefleksikannya dalam bentuk tarian Singo Ulung.

Pementasan Singo Ulung

Singo Ulung biasanya dipentaskan di Alun-alun Bondowoso dalam rangka memperingati Harjabo atau Hari Jadi Bondowoso. Selain dipentaskan dalam acara Harjabo, Singo Ulung juga dipentaskan pada acara bersih desa. Salah satu desa yang menampilkan tarian Singo Ulung dalam acara bersih desa, yaitu Desa Blimbing.

Pada pementasan Singo Ulung biasanya ditarikan oleh dua orang penari. Satu orang di depan dan satu orang di belakang. Tari Singo Ulung biasanya ditampilkan dalam gerakan yang atraktif dan diiringi oleh gamelan khas Desa Blimbing.

Singo Ulung dan Derasnya Arus Modern

Masa yang semakin modern membuat minat yang dimiliki oleh para generasi muda untuk mempelajari kesenian daerahnya semakin menurun. Para generasi muda pada masa kini lebih tertarik untuk mempelajari budaya asing seperti budaya barat, k-pop, dan lain sebagainya. Pemuda-pemudi di Bondowoso terus berusaha untuk merawat dan melestarikan kesenian Singo Ulung ini dengan melakukan latihan yang diadakan pada hari-hari tertentu dan menampilkannya pada acara-acara tertentu. Penampilan Singo Ulung ini tentunya merupakan bukti dari eksistensi Singo Ulung pada masa modern ini.