Konten dari Pengguna

Gaya Koboi di Masa Pensiun

ridarman bay

ridarman bay

Saya seorang pensiun dosen.

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari ridarman bay tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada seorang teman yang berkata “Tak lama lagi saya pensiun,” Saya tanya, “Kapan pensiunnya,” “2026,” ujarnya sambil tertawa lirih. Saya pun tersenyum kecut. Waktu itu masih 2024 akhir.

Awalnya saya menyimpulkan, tak lama lagi dia bebas dari tugas sehari-hari. Ternyata masih dua tahun lagi. Bagi saya, dia pensiun atau tidak, kondisi kawan ini tetap seperti itu. Sesungguhnya, pertemanan saya dengan dirinya akan tetap erat dan gembira. Kapan pun dan bagaimana pun.

Memang banyak tingkah laku beberapa kawan jelang dan saat purnatugas. Ada yang melaluinya dengan tenang dan biasa-biasa saja. Dan ada pula yang agak overacting, berucap kesana kemari bahwa tidak lama lagi dia bakal mengakhiri masa dinasnya.

Kalau saya amati, ada teman ketika kerja biasa-biasa saja, tapi setelah pensiun penampakannya sedikit berubah. Waktu masih dinas jadi pria stabil, setelah purnatugas gaya dan performanya jadi muda amat. Penampilan kayak koboi.

Fenomena ini unik, seolah-olah mereka ingin menunjukan waktu yang hilang selama puluhan tahun terkekang seragam dan aturan kantor yang kaku. Kayaknya ada upaya untuk “lahir kembali” dalam sosok yang lebih bebas dan ekspresif.

Sebetulnya apa itu masa pensiun?. Menurut literatur, pensiun atau purnatugas adalah seseorang yang sudah tidak bekerja lagi karena usianya sudah lanjut dan harus diberhentikan, ataupun atas permintaan sendiri (pensiun muda).

Sementara itu, menurut Turner & Helms (dalam Hurlock, 2002) pensiun adalah peran baru dalam hidup seseorang yang berhenti dari pekerjaan formal dan tidak bekerja lagi, serta mengalami perubahan ekonomi berupa pendapatan yang jauh berkurang dari sebelumnya.

Dibutuhkan aspek kesiapan mental dalam menghadapi perubahan sosial serta membutuhkan penerimaan diri yang baik, sehingga tidak menimulkan depresi, frustasi dan stres pada diri individu.

Selain mendatangkan manfaat positif, ternyata pensiun juga berpengaruh negatif pada seseorang.

Menurut Ikhsan Bella Persada, seorang psikolog, pensiun dapat menyebabkan perasaan kehilangan kekuasaan, status, atau pengaruh yang mampu menyebabkan demotivasi, kemarahan, penarikan diri dan perasaan tidak berguna.

Seringkali, mereka yang terbiasa memiliki staf dan pengaruh luas di kantor akan merasa “syok” saat mendapati rumah yang sepi tanpa agenda teratur. Mereka merindukan rutinitas yang dulu sering dijalani, namun kini justru sangat mahal rasanya.

Mungkin karena adanya dampak negatif itu, maka beberapa teman yang akan dan telah pensiun memiliki perangai yang agak berbeda dari sebelumnya dan kebanyakan lain dari yang lain.

Memang tidak semua sama dalam menyongsong hadirnya masa pensiun. Ada yang menerima dengan Ikhlas dan lapang dada, dan ada pula yang berusaha memperpanjang masa kerja kendati secara legal.

Prinsipnya tidak semua siap menghadapi pensiun. Masih ada yang berpikir, selagi badan sehat, ya bekerja. Tidak peduli umur sudah kepala enam, batas akhir durasi kerja, yang penting tetap kerja.

Sesungguhnya, masa pensiun niscaya akan kita hadapi juga. Ibarat ombak pasti ke bibir pantai. Tinggal kita saja yang harus menyikapi dengan arif dan bijaksana. Ambil positif hadirnya pensiun, makin taat beribadah, dan jadikan masa-masa itu untuk berbuat baik kepada sesama.*