Konten dari Pengguna

Paradoks Kejujuran di Era AI: Karya Asli Pun Dituduh Mesin

ridarman bay

ridarman bay

Saya seorang pensiun dosen.

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari ridarman bay tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam waktu berdekatan, setidaknya ada tiga pihak yang mempersoalkan tulisan saya, dua teman dan satu lagi platform media sosial. “Tulisan ini bikinan sendiri atau ada bantuan AI,” itu tanya mereka.

Pertanyaan yang simple dan ringan saja. Tapi bagi saya cukup menohok sanubari. Pasalnya saya sudah mulai menulis sejak tahun 1994. Saat itu AI belum masif digunakan, dan banyak yang sudah saya karang. Pakai mesin tik lagi, yang penuh dengan tipe x.

AI singkatan dari artificial intelligence atau disebut juga kecerdasan buatan. Menurut laman Deppublish Store, Andreas Kaplan dan Michael Haenlein memberi makna AI adalah kemampuan suatu sistem dalam menafsirkan data eksternal dengan benar, belajar dari data tersebut, dan menggunakan pembelajaran untuk mencapai suatu tujuan dan tugas tertentu melalui adaptasi yang fleksibel.

Sedangkan Kusumadewi mengatakan AI adalah sebuah studi yang membuat atau menjadikan perangkat komputer bisa melakukan sesuatu seperti manusia. Perangkat komputer ini dirancang agar bisa mengerjakan objek yang dilakukan individu, hingga kelak menggantikan orang.

AI sudah muncul pada tahun 1956. Namun baru di era 2000, para ahli memanfaatkan teknologi ini untuk membantu insan guna kemajuan di bidang teknologi komputer hingga era perkembangan algoritma.

Teknologi AI diyakini dapat memecahkan masalah kompleks dengan kecerdasan layaknya manusia. Hal ini dapat dilakukan melalui algoritma ML (machine learning) dan jaringan deep learning.

Dari beberapa pengertian, para ahli sepakat bahwa AI sangat berguna bagi persona dan menolong manusia melakukan pekerjaan menjadi lebih mudah dan memudahkan.

AI tidak saja meringankan atau menyederhanakan tugas, editing, tapi juga bisa mengecek keaslian sesuatu. Mengecek orisinilitas atau plagiasi tulisan, misalnya.

Dalam menilai karya tulis, AI sudah punya pola sendiri. Itu sebab, tulisan karya asli seseorang akan dideteksi AI-generated apabila ditemukan alur tulisan itu yang sesuai dengan format AI. Celaka gak, padahal tulisan tersebut bikinan asli seseorang.

Maknanya, penulis yang jujur menghasilkan naskahnya akan di klaim hasil campur tangan AI, walaupun itu persentasenya dibawah 30 persen, karena terpapar ada model mesin di produknya.

Sesungguhnya, AI dirancang untuk menopang manusia dalam menulis yang rapi dan enak dibaca. Tapi faktanya, AI merusak kejujuran penulis dalam menghasilkan karyanya lantaran pola tulisan tersebut terdeteksi sama dengan prototipe AI.

Ini menimbulkan persoalan serius bagi seorang penulis. Penulis yang sudah bagus menulis bisa dituduh menggunakan AI sehingga mengakibatkan integritas penulis menjadi tercemar.

Dulu karya bagus diakui sebagai hasil kerja keras dan penulisnya diacungi jempol. Sekarang, karya bagus justru dianggap hasil AI. Ironis, semakin baik hasil tulisan, semakin dicurigai!

Semua terjadi karena kelakuan AI Detector. Alat ini bisa mendeteksi tulisan, bikinan AI atau tidak. Celakanya, sistem ini tidak bisa membedakan tahun dibikinnya satu tulisan. Akibatnya, AI Detector bisa mendeteksi tulisan sebagai AI-generated pada tulisan yang dibuat tahun 90-an, jauh sebelum AI berkibar, lantaran struktur karya tersebut mirip dengan paradigma mesin.

Saya pernah tes pakai AI Detector. Ternyata tulisan saya disebutkan 100 persen karya AI. Bukan main, 100 persen loh karangan asli saya dikatakan buatan mesin.

Timbul pertanyaan, AI-Detector itu solusi atau sumber fitnah baru. Sebab, AI menuduh karya manusia sebagai hasil robot—bahkan naskah lama (pra-AI) bisa kena tuduh. Analogi sederhana: “hakim buta” yang hanya menilai dari pola, bukan konteks atau sejarah.

Kondisi ini menimbulkan frustasi bagi penulis, terutama yang sudah punya nama besar dan berpengalaman puluhan tahun. Rasa kecewa karena tidak dihargai sebagai penulis yang jujur. Lebih jauh hal ini akan menimbulkan krisis kepercayaan di dunia pendidikan, penerbitan, bahkan sosial kemasyarakatan.

Kesalahan deteksi AI ini mestinya sudah diantisipasi oleh pembuat program AI. Keberadaan AI jangan sampai menimbulkan kecaman baru di tengah masyarakat. Ianya harus tetap sebagai mesin di koridor alat bantu. Bukan pihak yang memvonis: AI-generated atau tidak.

Sesungguhnya, AI hanya alat; sedangkan adab, kejujuran, dan refleksi tetap kunci literasi sehat dari manusia.

Ketika tulisan orang makin jernih dan matang, ia justru kian dicurigai sebagai buatan mesin, padahal AI belajar dari kepiawaian manusia itu sendiri.*