Ketika Janji Terhalang Materi

mahasiswa universitas pamulang
Tulisan dari ridho febriansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
8 Juni 2021. Hari ini, hari yang sama di mana aku merasakan dua hal yang berbeda pada hatiku. Sakit dan sedih. bahagia dan senang akan ingatan pada janji kita. Keluh kisahku lebih tepatnya 5 tahun yang lalu, di mana aku dipertemukan seorang gadis cantik baik hati dari keluarga kaya raya.
Senin 1 Januari 2014. Namaku Muhammad Zaka, biasa dipanggil Zaka, tetapi teman-teman sekolah memanggil ku dengan nama Habib, aku bingung mengapa aku dipanggil dengan nama seseorang yang ahli dalam ilmu agama, akhirnya aku bertanya pada temanku. Sahel namanya. Dia adalah sahabat karibku sekaligus teman kelasku.
"El kenapa si lu sama anak-anak manggil gua Habib?" Tanyaku kepada Sahel ketika sedang makan di kantin sekolah. Namun dia diam tidak merespon ku sembari menikmati soto, makan siangnya.
Ketika dia menghabiskan makannya dia berkata padaku," dari (HR. Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah), barang siapa yang meninggalkan salat maka dia telah kafir.” Dia berbicara sembari menggerakan tangannya layaknya seorang Ustaz yang sedang melakukan ceramah di depan para jemaah pengajian.
Aku bingung mengapa dia melakukan hal demikian di hadapan para siswa, siswa yang melihat aksinya tersebut terheran dan ada juga yang bertepuk tangan. Sedangkan aku yang melihatnya sedikit tersipu malu dan tertawa kecil.
Sebelum aku sempat menanyakan mengapa dia melakukan hal tersebut, dia langsung berkata padaku, “itu lah yang lu sering lakuin Bib sama anak-anak, kalau anak-anak ada sedikit kesalahan dan menolak ajakan lu, pasti lu ngasih nasihat pake hadis segala, maka dari itu anak-anak sepakat manggil lu Habib.” Dia menjelaskan sambil menepuk dan mengelus punggungku.
Setelah aku mendengar penjelasannya. Barulah aku paham, mengapa anak-anak memanggilku dengan nama Habib, memang si aku terkadang ketika memberi tahu seseorang selalu menggunakan hadis dalam islam, apalagi jika itu anak tidak mau dengar sama sekali atau keras kepala, tetapi jika kepada temanku yang berbeda agama aku tidak melakukannya, karena aku masih memiliki sifat toleransi yang tinggi terhadap sesama umat beragama.
Setelah aku melamun sembari mencerna penjelasan si Sahel, azan zuhur pun terdengar di kumandangkan, segera aku mengajak Sahel untuk solat berjamaah di masjid sekolah.
“ Ayu El salat kan lu tadi udah ceramah dengan begitu indah di depan para siswa.” Ejek ku sambil mengulurkan tangan untuk dia bangun dari tempat duduk.
Dia merespon tanganku sembari berdiri dari tempat duduknya, ayu Bib tetapi lu imamnya ya.” Sambil tertawa dia mengejekku kembali. Kemudian kami pun berangkat ke masjid untuk menunaikan ibadah salat zuhur secara berjamaah.
Selepas sekolah aku biasanya nongkrong terlebih dahulu di warung Budeh bersaman teman-temanku sekadar untuk merokok, ngopi, bermain game, terkadang juga sekalian mengerjakan tugas sekolah. Setelah pulang aku biasanya membantu Ayahku berbelanja sembako di pasar lama untuk kebutuhan warung. Ayahku adalah seorang pensiunan karyawan swasta, beliau yang berjuang untuk menafkahi kelima anggota keluarganya. Aku mempunyai 5 anggota keluarga, Ibuku adalah seorang pensiunan guru dan dia sekarang hanya menjadi ibu rumah tangga mengurusi pekerjaan rumah. Aku memiliki 2 saudara, abangku saudara tertua laki-laki yang sekarang kini sudah menikah dan mempunyai 3 anak, dan saudara perempuanku yang baru saja menikah dengan pria keturunan Ambon. Tinggal lah aku anak bungsu yang sedang menginjak bangku kelas 3 SMAN Kota Tangerang, aku beruntung dapat bersekolah di sini karena bebas anggaran bulanan untuk mengurangi biaya orang tuaku, aku lah satu-satunya anak yang masih tinggal di sebuah rumah sederhana bersama Ayah dan Ibuku pasangan yang sama-sama berasal dari Suku Betawi asli, kedua saudara ku sudah tinggal di rumah baru mereka.
Ibuku selalu berpesan kepadaku “ jadilah anak yang sukses Zak, jangan melihat keatas, lihatlah kebawah, kita dari keluarga sederhana jangan gengsi. ” Beliau selalu mengatakannya ketika aku hendak berangkat ke sekolah. Memang aku berambisi untuk menaikan derajat keluarga ku.
Senin 25 maret 2014. Pagi ini aku merasa gelisah, aku terlambat bangun pagi akibat bergadang main game bersama Sahel. Jam menunjukkan pukul 06.00 wib, segera aku bangun dan langsung mandi.
Ibuku terus memarahiku “ sukurin lu telat, lagian begadang terus kaya ada artinya aja!!.” Beliau terus memarahiku sampai aku selesai mandi sembari memasak untuk sarapan. Aku menghiraukan perkataan beliau, yang ada di pikiranku hanya terlambat sekolah. Setelah aku selesai salat, berpakaian dan membereskan peralatan sekolahku.
Aku langsung menghampiri Ibuku dan mencium tangannya dan berangkat sekolah, aku tidak sarapan, Ibuku langsung memarahiku lagi, “makan dahulu Zak nanti sakit mag lu kambuh!!.” Sembari dia menonton acara tv rutinnya yaitu ceramah pagi.
Aku hanya memakan roti dan minum air putih untuk sekadar menganjal perutku, “ maaf Bu Zaka udah telat” jawabku singkat sembari mengeluarkan sepeda motorku.
Aku langsung menancapkan penuh gas sepeda motor supra tua yang aku beri nama Jago, peninggalan Kakek ku yang diwariskan secara turun temurun. Setibanya di sekolah benar saja, yang dipikiranku sepanjang jalan, aku telat, segera aku memakirkan sepeda motorku di halaman sekolah, Guru BK meneriaki sekumpulan siswa yang telat. “ cepat berkumpul buat barisan!!.” Sambil dia memegangi rotan di tangan kanannya.
Bergegas aku berlari menuju barisan, terdengar suara di telinga kiri ku. “ woi Bib lu telat juga”, sembari dia menepuk bahuku. Aku kaget dan menoleh, “ ah ternyata lu El, iya nih gara-gara kita main game kemaleman.” Sambil aku menuliskan agenda nama-nama yang terlambat sekolah.
Setelah semua siswa menulis agenda, kami disuruh berdiri dan menunggu hingga upacara selesai. Hampir 10 menit kami berdiri, tiba-tiba pintu gerbang sekolah terbuka, masuklah mobil Avanza keluaran terbaru berwarna hitam, awalnya aku dan Sahel mengira itu kepala sekolah, “ mampus El kepala sekolah datang lagi.” Bisik ku kepada Sahel. “ waduh abis dah kita push up 100 kali”, bisik Sahel kembali.
Mata kami tertuju kepada Avanza hitam itu, berharap itu bukan kepala sekolah. Sepasang Suami Istri keluar dari mobil itu, hati kami lega ketika dia bukan kepala sekolah. Aku mengira mungkin itu hanya wali murid yang datang karena ada keperluan. Pintu belakang terbuka, muncul seorang Perempuan cantik, putih, mancung, dari tinggi tubuhnya aku mengira dia mungkin seumuran denganku, akan tetapi yang membuatku bingung yaitu dia menggunakan seragam sekolah, pikirku dia adalah murid pertukaran pelajar.
Rasa penasaranku aku luapkan kepada Sahel “ El itu Cewek cakep banget dari sekolah mana ya,” sembari aku terus melihat Perempuan itu sambil menunjuk kearahnya. Sahel yang sedang berjongkok, bangun dan melihat Perempuan yang aku tunjuk “ busettt Bidadari surga mana itu Bib?”, tanyanya kepadaku sambil melihatnya tanpa berkedip sekalipun. Aku yang melihat sahel langsung menutup matanya, “ merem El, fokus amat lu nanti jadi zina mata, istigfar,” kataku kepada sahel sambil aku menutup matanya. Sahel menyingkirkan tanganku lalu berkata “ mungkin dia Ustazah yang dikirim oleh Allah swt untuk lu Bib,” ejeknya kepadaku.
Aku menghiraukan omongan Sahel, seketika Perempuan itu berjalan melewati kerumunan para siswa yang terlambat, para siswa melihat Perempuan itu seperti singa yang ingin menerkam sang mangsa, fokus tidak berkedip, melamun, ada juga yang menggodanya dengan rayuan yang receh. “ Neng namanya siapa ya, aa boleh kenalan ga?”, rayu seorang siswa dengan rambut panjang.
Perempuan itu tidak meresponnya, ekspresinya dingin, dia berjalan layaknya tidak ada seorang pun disekitarnya. Saat para siswa melihat Perempuan itu, terdengar suara keras memanggil para kerumunan, “ semuanya kumpul!!.”, Teriak Guru BK kepada kami. Akhirnya kami semua disuruh mencabut rumput liar ditaman sekolah, setelah kami membersihkannya kami dipersilakan masuk untuk belajar di kelas.
Keesokan harinya, macet di gang sekolah ku, akibat truk besar pembawa pasir yang tiba-tiba mogok, aku mengendarai si Jago melewati berbagai celah antar mobil, tiba-tiba mobil depanku membuka pintu, sontak aku kaget langsung mengerem dengan cepat, “woi liat-liat dong kalau mao keluar!!. ” Teriak ku kepada mobil itu. Sekilas aku melihat mobil itu mirip seperti punya Bidadari kemarin.
Benar saja Perempuan yang kemarin ku lihat turun dari mobil itu dengan pakaian sekolah yang sama denganku, “maaf saya tidak melihat terlebih dahulu tadi,” dia berkata sambil menundukan kepala. “ Oh iya gapapa lain kali lihat sekitar terlebih dahulu sebelum keluar dari mobil,” tegurku sambil memikirkan apakah dia murid pindahan, kalau iya kelas berapa dia?. Setelah aku sadar dari lamunanku, seketia dia sudah tidak ada dihadapanku.
Sehabis aku memakirkan si Jago, aku mampir ke kantin untuk membeli minuman, di sana ada Sahel pas banget aku langsung menanyakan padanya tentang Perempuan kemarin, “ El Cewek yang kemarin, tadi gua liat lagi pake baju sekolah sama kaya kita, dia murid pindahan kali,” tanyaku kepada Sahel heran.
Setelah Sahel minum dia meresponku, “ oh yang kemarin kata si Amel mah dia murid pindahan dari Bandung karena Ayahnya ada urusan kerja,” Amel adalah murid populer di kalangan para siswi. Setelah itu Sahel beranjak bangun dan berjalan ke kelas.
Aku mengejarnya dalam perjalan,” dia kelas berapa El?” tanyaku sambil memegang pundaknya. Sahel berehenti dan menoleh kearah ku, “ hmmm katanya sih kelas 3 Ipa4, coba aja lu cek,” gumam sahel sambil menyingkirkan tanganku.
Jiwa penasaranku makin meronta-ronta,” kira-kira namanya siapa ya El”, tanyaku kembali sambil kami berjalan. Sahel memperagakan seolah dia sedang berpikir keras, “ hmm, mana gua tau habibbb emang gua Ayahnya, lu dari tadi nanya tentang dia mulu jangan-jangan lu suka ya sama dia,” ejek Sahel kepada ku.
Aku langsung merespon pertanyaan Sahel dengan cepat seolah seperti seseorang yang sedang salah tingkah. “ Ngaco lu El mana mungkin baru bertemu langsung suka, ” jawabku kepada Sahel sambil berjalan meninggalkannya.
Disaat jam pelajaran tinta pulpenku habis, aku meminta izin untuk membeli pulpen baru, Sahel meneriaki ku di kelas “ mau beli pulpen atau ngeliat Bidadari Bib,” ejeknya sambil tersenyum. Teman-teman kelas yang lain pun ikut meledekku, aku menghiraukannya dan segera bergegas ke kantin. Ketika aku melewati taman, aku melihat Bidadari itu sedang membaca novel, mungkin dia sedang tidak ada kelas, soalnnya pas aku lewat kelas Ipa4 mereka sedang tidak ada kelas. Hatiku ingin menghampirinya, untuk menanyakan namanya, tetapi jiwa ini enggan bergerak, akhirnya aku mengabaikannya, dan segera beli pulpen dan kembali ke kelas.
Jumat, 29 maret 2014. Mendekati ujian nasional, aku mengikuti bimbel untuk menambah wawasanku, kelas dimulai malam hari, entah mengapa malam ini aku merasa bosan, mengantuk, tidak fokus pada pelajaran yang sedang dijelaskan. Keadaan itu tidak bertahan begitu lama, muncul sosok yang aku kenal, yang aku lihat tiap berada di sekolah, sosok yang aku suka, aku damba, dan aku kagumi saat melihatnya, yah dia adalah Bidadari ku dari Bandung yang pindah ke sekolah ku karena Ayahnya ada urusan kerja.
Dia memasuki kelas, dengan masih menggunakan seragam sekolah, "maaf Bu saya telat, tadi macet di jalan, terangnya kepada guru bimbel, sambil mencium tangan, "gapapa Sal yaudah silakan duduk,suruh guru bimbel ku sembari menulis dipapan tulis.
Sal?, sebutan nama yang sulit ditebak, apakah Salsa, Sabrina, atau Sani?, aku bingung, ingin aku menghampirinya dan berkenalan. Seketika aku terkadang meliriknya, dia juga melirikku, aku langsung memalingkan pandanganku kepadanya, pikirku apakah dia sudah mengenali ku dari sekolah yang sama.
Setelah pelajaran selesai, aku melihat dia sedang gelisah, seperti seseorang yang sedang menunggu jemputan, aku memberanikan diri menghampirinya dengan langkah kaki yang berat, dan perasaan yang gugup, "assalamu'alaikum," salamku dengan nada yang terbata-bata karena gugup.
Dia menoleh kearah ku, "waalaikumsalam," jawab nya dengan nada yang santai. Aku langsung menempelkan kedua telapak tanganku dan berkata, "perkenalkan nama saya Muhammad Zaka," ujarku sambil tersenyum. Dia memperagakan hal yang sama, "oh iya nama saya Sakila Putri," ujarnya sambil beranjak bangun dari tempat duduk.
Perasaan ku masih gugup,aku memegang kepalaku dan bertanya lagi padanya dengan nada yang sama," kamu dari sekolah SMAN 6 Kota Tangerang ya?, "tanyaku kepadanya. Tiba-tiba dia tertawa kecil sambil menutup mulutnya, "hehe santai aja Zak gausah kaku, iya gua dari SMAN 6 anak Ipa4, gua juga tau lu dari Ips4 kan, sering liat gua kalau lewat," jelasnya sambil mengejek ku.
Aku tersipuh malu dengar ejekannya, seketika mulutku bergerak dengan sendirinya mengeluarkan ungkapan yang selama ini kupendam, "hehe iya sa soalnya lu cantik" godaku kepadanya.
Dia fokus ke handphone sambil tertawa dan berkata, " bisa aja lu Zak, gombalan apa pujian itu?." Tanya nya kepadaku sambil menatapku.
Aku mengabaikan pertanyaanya, dan mencari topik lain untuk basa-basi, " Btw lu belum pulang Sal?." Tanyaku kepadanya sembari memandangi lalu lintas. "Belum nih Zak gatau Ayah gua tiba-tiba ada urusan, " responnya dengan ekspresi bete.
Aku ingin berniat menawarkan tumpangan untuknya,"ayo sal pulang bersama aja," ajaku kepadanya. Dia menoleh kearah ku,"bener nih gapapa zak ga ngerepotin elu?", Tanya nya kepadaku.
Aku menaiki sepeda motor ku dan menyodorkan helmku kepadanya, kebetulan aku membawa dua helm, karena kemarin abis nganter Sahel ke perpustakaan kota, "iya Sal, tetapi motor gua jelek gapapa kan?, "terang ku kepadanya.
Dia mengambil helm yang ku sodorkan dan menaiki si Jago, "gapapa Zak, motor boleh jelek yang penting hati jangan, "gumamnya kepadaku.
Malam itu aku mengantar pulang Bidadari idamanku dia bercerita tentang kehidupannya, mengapa dia pindah ke Kota Tangerang, sebelum ku berkenalan dengannya kupikir dia orang yang dingin cuek, akan tetapi setelah berkenalan dengannya ternyata dia asyik juga ceria dan suka bercanda, beruntung sekali si Jago, biasanya di tunggangi si Sahel, kini di tunggangi Bidadari yang turun dari surga.
Kami berhenti di tepi jalan, Sakila menyuruhku untuk melakukannya, ”mengapa berhenti Sal udah sampe,? " Tanyaku kepadanya dengan bingung. Dia turun dari motorku dan mengembalikan helm ku, "iya Zak rumah gua tinggal masuk ke gang, yaudah ya terima kasih, sampai bertemu di sekolah nanti," jawabannya sambil berjalan dengan cepat dan melihat sekitar, layaknya seorang maling yang akan beraksi. Aku heran mengapa dia tidak mau diantar sampe rumah ya?. Setelah dia sudah tidak terlihat lagi dipandanganku, langsung ku tancap si Jago dan pulang.
Hari-hari berikutnya aku dan Sakila makin akrab, mengobrol di taman, makan bersama di kantin, mengantarnya pulang, walaupun di tempat yang sama yaitu tepi jalan, aku pernah bertanya kepadanya mengapa tidak sampai rumah aja Sal, dia bilang ada urusan keluarga. Aku tidak mau ikut campur dalam masalah keluarga, menurutku itu privasi dari pribadi seseorang, maka dari itu aku tidak mau menanyakan lebih jauh lagi. Ujian nasional di mulai, aku dan Sahel fokus dan sangat berhati-hati dalam mengerjakan soal-soal yang menjebak.
Pengumuman diperlihatkan, aku dan Sahel segera menuju papan informasi untuk melihat apakah kami lulus, “ayu Bib cepat udah ramai tuh,” ajak Sahel sambil menarik tanganku. Aku yang habis salat dengan cepat memakai sepatu, “ ayu El cepat,” gumamku sembari kami berlari menuju papan informasi.
Sahel berjongkok dan menyuruhku untuk menaiki bahunya untuk melihat nama kita di hadapan puluhan murid yang saling dorong-dorongan. Akhirnya aku dan Sahel lulus dalam ujian tersebut, aku dan Sahel teriak dengan gembiranya “ kita lulussss!!!!.” Gumamku dan Sahel sambil saling merangkul.
Tiba-tiba aku teringat Sakila apakah dia lulus, lantas aku meninggalkan Sahel dan mencari Sakila, setelah berkeliling sekolah ternyata dia berada si belakang kantin dengan ekspresi wajah sedih dan murung.
Aku menghampirinya dan menayakan kondisinya, “ mengapa muka lu kaya sedih gitu Sal,” tanyaku sambil duduk di sampingnya. Dia mengusap air matanya yang mengalir di pipinya, “gua ga lulus Zak,” jawabnya singkat sambil membuang tisu bekas air matanya.
Aku yang mendengarnya, terkejut dan menasihatinya, “ gapapa Sal mungkin belum rezeki lu, tetapi lu jangan patah semangat masih ada hari besok yang harus lu kejar, ini bukan kegagalan, justru ini awal bagi lu untuk melewati rintangan selanjutnya, seperti QS. Al Baqarah ayat 286, yang artinya Allah swt tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya,” nasihatku kepadanya dengan panjang lebar.
Dia melihatku dengan pandangan yang terpesona, “ masyaallah terima kasih pak Ustaz atas nasihatnya, tetapi tadi gua cuman becanda maaf ya hehe, gua lulus kok,” gumamnya sambil tertawa. Aku memukul lembut tangannya dengan buku ku, “ sialann lu Sal, gua ngomong sampe capai” gumamku sambil tersenyum padanya.
Aku yakin dia kagum padaku, dengan cara dia melihat dan menyimak nasihat ku tadi, speaker pengumuman berbunyi, memberi informasi bahwasanya akan diadakan tour perpisahan di Jogja. Setelah pengumuman selesai aku dan Sakila pun beranjak untuk ke kelas.
Senin 20 april 2014. Sekolah kami bersiap untuk berangkat tour perpisahan ke Jogja, aku dan Sahel berada di Bus dan gerbong Kereta yang sama, akan tetapi tidak dengan Sakila karena dia beda kelas. Aku menaiki Bus untuk berangkat ke stasiun Pasar Senen dan menaiki Kereta Api pada malam hari, kami berangkat malam itu menuju stasiun Lempuyangan Yogyakarta. Kami tiba pagi hari, dan langsung beristirahat sejenak di kamar hotel bintang 3. Aku, sahel, dan kedua temanku, merapikan kamar, membagi tempat tidur dan berkemas mempersiapkan diri untuk acara pelepasan murid nanti malam.
Malam tiba, aku bersiap dengan setelan kemeja ku, rambut klimis,dan sepatu pantopel mengkilap yang aku semir tadi, aku keluar berjalan menusuri taman dengan gagahnya untuk ke acara yang berada di Lobby hotel.
Di pertengahan taman aku melihat Perempuan dengan anggunnya berjalan mengenakan kebaya merah dengan sepatu hak tinggi, ya itu dia Bidadari ku SAKILA PUTRI, “ lu cantik banget hari ini Sal” gumamku dengan nada yang meledek.
Sakila mendekatiku dengan perlahan karena dia mengenakan sepatu hak tinggi, “ yeah emang kemarin-kemarin gua gimana?” tanya nya padaku. Aku meledeknya kembali, ” kemarin-kemarin biasa aja si, kaya mak lampir hehe,” jawabku dengan bercanda.
Dia mengeluarkan ekspresi cemberutnya dan berkata, “ sial lu Zak, btw lu juga ganteng, kaya hanoman hahaha,” ejeknya kepadaku dengan tawa yang puas. Akhirnya kami berdua pun berjalan menuju Lobby untuk menghadiri acara pelepasan.
Keesokan harinya aku dan teman-teman sekolah ku mengunjungi Candi Prambanan, aku dan Sahel menaiki candi itu dan melihat sejarah yang tersembunyi di dalamnya, banyak arca-arca yang memiliki arti dan sejarahnya masing-masing. Setelah melihat-lihat kami pun melukan sesi foto kelasan, dengan angkatan ku, dan aku juga foto berdua dengan sahabat karib ku yang menemaniku selama 3 tahun. Aku juga foto berdua dengan Sakila, dengan susah payah karena dia terus mengejek ku.
Sore, di hari yang sama moment yang tidak pernah aku lupakan, kami mengunjungi Tebing Breksi yang berada Kabupaten Sleman, kata Guru Geografiku tempat ini bekas Tambang Kapur. Tempatnya sejuk, tinggi menjulang, bisa melihat pemandangan, pegunungan, bahkan senja yang dipadu dengan indahnya sunset. Aku mengajak Sakila menuju keatas tebing untuk melihat indahnya sunset, sekaligus ingin mengungkapkan perasaan yang selama ini ku pendam.
Aku dengannya duduk di sudut tebing yang sepi, aku mengungkapkan perasaan ku terhadapnya, “ Sakila, mungkin aku bukan satu-satu pria yang mengagumi kebaikan dan kecantikanmu, aku tidak bisa menggombal, merayumu dengan kata-kata yang dapat menyentuh hati, tetapi aku hanya ingin menyampaikan sebuah perasaan, perasaan yang aku simpan dari semenjak aku melihatmu turun dengan mobil Avanza hitam, perasaan ketika aku duduk berdua mengobrol di taman dan makan dikantin, dan perasaan saat aku mengantarkanmu pulang menggunakan si Jago, dalam moment ini aku tidak bercanda, bahwasanya aku Muhammad Zaka mencintai kamu Sakila Putri dengan tulus,” ungkapan ku dengan penuh cinta.
Sakila menatapku melihatku dengan wajah serius, mungkin dia percaya aku sedang tidak bercanda, “Zaka aku juga mencintai kamu, kamu baik dan perhatian, banyak pria di luar sana yang tampan-tampan, tetapi dia tidak sebaik kamu, aku juga tidak sedang bercanda Zak, bahwasanya aku Sakila Putri telah mencintai kamu juga Muhammad Zaka." Gumamnya sambil melihatku.
Kami berdua pun tersenyum senang dengan rasa cinta yang kami miliki. Tiba-tiba Sakila bertanya padaku,” tetapi Zak bukannya pacaran itu gak boleh ya dalam islam,?” tanya nya kepadaku sambil melihat sunset.
Aku mengeluarkan sebuah cincin yang aku beli tadi bertuliskan Tebing Breksi, aku merespon jawaban Sakila dan berkata” memang iya Sal pacaran itu ga boleh,karena takut menimbulkan fitnah dan perzinahan, maka dari itu aku ingin kita berdua berjanji dengan sepasang cincin bertuliskan Tebing Breksi ini, disaksikan sunset dan tebing ini, aku akan melamarmu setelah aku lulus universitas dan mendapat pekerjaan”. Terangku padanya sambil memberikan cincin perjanjian.
Dia mengambil cincin tersebut, memakai dan melihatnya, “ aku pegang janjimu padaku Zak, akan aku jaga janji kita berdua di Tebing Breksi ini. Gumamnya padaku sambil tersenyum.
Seketika ekspresi Sakila berubah seperti teringat akan sesuatu,” oh iya Zak, setelah lulus ini aku akan pulang ke Bandung, karena urusan kerja Ayahku sudah selesai, aku juga kan kuliah di sana,” ujarnya padaku dengan ekspresi sedih.
Aku yang mendengarnya hanya bisa ikhlas dan tabah untuk kepergiannya, “ iya Sal, kejarlah mimpimu, tunggu aku datang menjemputmu ke Bandung ya,” gumamku dengan tersenyum.
Dia berdiri merentangkan lengannya dan menghirup udara dengan dalam-dalam,” aku akan selalu menunggumu Zak,” gumamnya kepadaku dengan ekprsei ceria. Sunset telah hilang di ganti dengan gelapnya malam, aku dan Sakila pun turun dan beranjak pulang.
Setelah kami lulus dari sekolah aku dan Sakila mengikuti tes di perguruan tinggi negeri , aku tidak diterima di perguruan tinggi negeri jakarta, sedangkan Sakila diterima di perguruan tinggi negeri di Bandung.
Akhirnya aku mendaftar kuliah di Universitas Swasta dengan mengambil jurusan Manajemen Pemasaran, aku sembari bekerja untuk meringankan biaya orang tuaku, kemudian Sakila mengambil jurusan Hubungan Internasioal. 4 tahun kemudian aku dan Sakila lulus di perguruan tinggi negeri, aku diterima di Perusahaan Swasta dengan gaji yang lumayan untuk kebutuhan aku dan keluarga ku, tidak lupa juga menabung untuk memenuhi janjiku kepada Sakila, sedangkan Sakila di terima di sebuah Perusahaan Internasional.
Sabtu 5 Desember 2020. Hari ini setelah aku mendapatkan cuti dari boss ku, aku berniat untuk menuju ke Bandung, kerumah Sakila untuk memenuhi janjiku padanya, aku ingin meminta restu kepada orang tuanya, aku menghubungi Sakila apakah aku bisa berkunjung kerumahnya untuk bertemu kedua orang tuanya, dia mempersilahkan ku berkunjung kerumahnya, alamatnya di jalan Jatinangor nomor 21. Segera ku berkemas dan meminta doa keselamatan kepada kedua orang tuaku, aku berangkat di pagi hari menggunakan Bus umum jurusan Bandung. Aku tiba dirumahnya pukul 4 sore, setelah aku melihat rumahnya aku terkejut dan takjub, “ masyallah rumahnya lebih besar 3 kali lipat dari rumahku” gumamku dalam hati.
Setelah melihat rumahnya, aku menyadari selama ini aku hanya mengantarnya di tepi jalan gang rumahnya, ternyata dia dari anak yang kaya raya, mungkin dia tidak mau aku berpikiran sombong saat aku mengantarnya sampai rumah.
Aku menekan bel rumah, pintu gerbang terbuka, disusul dengan keluarnya security penjaga, “ selamat siang ada yang bisa saya bantu” tanya nya kepadaku. “ saya sudah ada janji dengan saudara Sakila pak,” jawabku kepada security.
Akhirnya security mengijinkan ku masuk, aku menunggu di ruang tamu, pembantu memberikanku sebuah minuman, aku melihat sekitar ada guci besar dan barang-barang antik lainnya. Setelah menunggu kurang lebih 15 menit muncul lah sesosok pria berumuran sekitar 51 tahun.
Pria itu memperkenalkan dirinya, “ nama saya Budi Riawan, saya Ayahnya Sakila,” ungkapnya padaku. Aku memperkenalkan diriku juga, “ perkenalkan nama saya Muhammad Zaka om, saya temen SMA nya Sakila,” ungkapku dengan perasaan yang gugup. Ayahnya kembali bertanya padaku,” ada keperluan apa kamu ingin bertemu dengan saya,?” tanyanya kepadaku.
Aku mengalahkan rasa gugup ku meyakinkan perasaanku dan berkata, “ kedatangan saya kesini, untuk meminta restu untuk melamar Sakila om,” jawabku dengan tegas.
Ayahnya menatapku dengan serius dan menanyakan beberapa pertanyaan kepadaku seperti aku kerja di mana, kesini naik apa, dan penghasilan gajiku berapa,? semuanya tentang harta, tidak ada pertanyaan tentang cinta ku pada Sakila.
Kemudian dia berkata padaku, kata yang membuat hatiku luka yang amat mendalam,” maaf nak, kamu tidak cocok pada anak saya, dan kami tidak akan memberikan restu padamu,” ungkapnya padaku.
Kata itu masuk ke telingaku melalui udara, merusak pikiran dan perasaan ku, mendorong air mata untuk keluar. Aku masih bersikap tegar memendam kesedihanku,” memangnya mengapa om?”, tanya ku kepada Ayahnya.
Ayahnya menjawab ku dengan nada yang sedikit keras,” mengapa?, kamu sadar diri aja harta mu tidak akan bisa menghidupi anak saya, dan saya juga akan malu kalau punya menantu seperti kamu miskinnn!!!!,” ungkapnya kepadaku.
Air mataku hampir keluar mendengar kata itu, aku direndahkan dihadapannya, aku berusaha tegar dan terus memberi pengertian kepada ayahnya,” rezeki sudah ada yang mengatur om, aku sudah mencintai anak om dari semenjak SMA kami sama-sama saling mencintai, insyallah aku akan bertanggung jawab menafkahi Sakila om,” ungkapku dengan perasaan yang sudah hancur.
Ayahnya beranjak dari tempat duduk dan berdiri,” kamu gausah belagu menasihati saya, lebih baik kamu pulang nak, Sakila tidak pantas buat kamu, dia kan dijodohkan dengan anak teman kerja saya yang lebih mapan dari kamu!!!” terangnya padaku dengan nada yang keras.
Aku merasa hidupku sudah hancur, hatiku seperti kosong pahit rasanya. Aku beranjak pergi dan pamit kepada Ayahnya, Sakila yang melihatku pergi berlari menghampriku, “ ada apa Zak mengapa kamu pergi?”, tanyanya padaku dengan bingung.
Aku tidak mau memberi tahunya kalau aku tidak di restui Ayahnya, karena akan membuat dia akan sedih. Aku melepas cincin perjanjian kita dan memberikannya padanya, “berikan ini kepada lelaki pilihan Ayahmu Sal,” jawabku dengan air mata yang sudah tidak bisa ku bendung lagi.
Aku beranjak keluar gerbang, dia mengejarku dan ditahan securitiy,” Zakaaaaa, aku akan selalu memegang janjimu,” teriaknya padaku menangis sambil memberontak untuk keluar.
Malam harinya aku pulang ke Kota Tangerang, air mataku tidak dapat berhenti mengalir sepanjang jalan hingga sampai rumahku. Ibuku menghampiriku dan berkata, “ Zak jika memang dia bukan jodohmu maka ikhlaskan lah, dan jika dia jodohmu maka kejarlah, jodoh itu sudah ada yang mengatur nak,” gumamnya padaku sambil memeluk ku.
