Kurangnya Kualitas Pertunjukan Teater Untuk Meningkatkan Minat Milenial

mahasiswa universitas pamulang
Tulisan dari ridho febriansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Era milenial, merupakan era yang di mana setiap orang menggunakan teknologi (media sosial) untuk mencari kesenangan mereka, terutama dalam seni pertunjukkan. Seni pertunjukkan merupakan sebuah bentuk pengekspresian suatu karya penulis yang di pertunjukkan atau dimainkan oleh seorang aktor. Di era milenial ini seni pertunjukkan begitu banyak diminati oleh setiap orang, baik itu dari golongan muda atau tua, contohnya seperti pertunjukkan film-film di bioskop dan sinetron-sinetron yang berada di beberapa stasiun televisi, lalu bagaimana dengan pertunjukkan teater drama?
Teater merupakan seni pertunjukkan yang telah lahir sejak zaman yunani hingga saat ini, teater adalah suatu pertunjukkan yang di mainkan oleh beberapa aktor secara langsung yang disaksikan secara langsung juga. Naskah dalam teater hanya berisi sebuah dialog-dialog yang dapat membangun sebuah alur ceritanya, maka dari itu sepanjang pertunjukkan teater hanya banyak berisikan dialog-dialog antar pemain yang dipadukan dengan aksi mereka.
Busana, pencahayaan, dan pengaturan panggung menjadi bagian terpenting dalam pertunjukkan teater, hal ini agar memunculkan unsur estetika dan kualitas antara naskah dan pertunjukkannya. Teater memiliki 2 jenis kategori, yang pertama adalah realis sebuah pertunjukkan yang menampilkan kehidupan yang nyata dan masuk akal (logis) dalam menyampaikan pesan-pesan amanat baik itu tersurat maupun tersirat, yang kedua adalah syur realis sebuah pertunjukkan yang menampilkan kehidupan yang tidak masuk akal atau bisa dikatakan adalah imajinasi dari si penulis, tujuannya tetap sama yaitu menyampaikan sebuah amanat baik itu tersurat maupun tersirat. Saya memiliki beberapa opini yang membuat teater
kurang diminati oleh penonton di era milenial:
1. aktor
Dalam sebuah teater aktor menjadi bagian terpenting untuk menjalankan sebuah cerita, maka dari itu mereka harus menguasai dari segi teks dialog, pendalaman peran dari tokoh yaitu emosi dan gerak tubuh dalam naskah tersebut. Hal ini dikarenakan teater bersifat pertunjukkan langsung yang memungkinkan jika terjadinya kesalahan-kesalahan oleh sebuah aktor dapat membuat penonton terasa kurang puas dan bosan.
2. panggung
Dalam pertunjukkan teater setting panggung atau alat-alat menjadi bagian penting dalam drama, di mana isi teks dengan settingan panggung harus selaras atau sama, dan juga harus sesuai dengan settingan zaman atau waktu yang berada dalam teks drama. Semisal jika drama itu menayangkan sebuah cerita pada zaman megantropus saat sedang berburu, maka diharuskan menggunakan alat tombak atau batu, bukan dengan menggunakan senapan mesin. Kejadian-kejadian itu akan terlihat dari segi logiskah pementasan tersebut dengan settingan dalam teks nya.
3. pencahayaan dan backsound suara
Dalam pertunjukkan teater, cahaya dan backsound suara menjadi bagian penting dalam sebuah alur cerita. Dengan menggunakan cahaya dan backsound dapat mengarahkan kita adegan apa yang sedang terjadi. Cahaya dapat mefokuskan pada sebuah adegan dari aktor yang sedang beraksi, biasanya ketika sedang berdialog. Backsound dapat menggambarkan suasana yang sedang terjadi pada adegan tersebut apakah suasananya sedih, gembira, atau menegangkan.
Itulah beberapa opini saya tentang faktor kurang minatnya penonton dalam teater drama, tentu saja setiap penonton teater pasti menyimpulkan pementasan teater yang berbeda-beda apakah itu baik atau tidak. Maka untuk mempertahankan seni pertunjukkan teater perlu meminimalisir kekurangan tersebut.
