Konten dari Pengguna

Belanja Online Mudah, Mengapa Kita Sering Membeli Barang yang Tidak Dibutuhkan?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rido Mulia Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi belanja online (pixabay.com/HutchRock)
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi belanja online (pixabay.com/HutchRock)

Pernahkah kita membuka aplikasi belanja online hanya untuk melihat-lihat barang, tetapi akhirnya justru membeli sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan? Awalnya hanya ingin mencari informasi harga, lalu melihat diskon, membaca ulasan pembeli, hingga akhirnya melakukan pembayaran. Setelah barang datang, tidak jarang kita baru menyadari bahwa barang tersebut sebenarnya tidak terlalu penting.

Situasi seperti ini cukup dekat dengan kehidupan masyarakat saat ini, terutama di tengah perkembangan teknologi digital. Berbelanja menjadi semakin mudah karena konsumen dapat membeli berbagai kebutuhan hanya melalui telepon genggam. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru, yaitu bagaimana mengendalikan keputusan pembelian agar tidak sekadar mengikuti keinginan sesaat.

Menurut saya, persoalan ini menarik untuk dibahas karena perilaku konsumen bukan hanya berkaitan dengan cara seseorang memilih barang, tetapi juga berhubungan dengan kebiasaan, kondisi keuangan, lingkungan sosial, dan kemampuan mengambil keputusan secara rasional.

Ketika Belanja Bukan Lagi Sekadar Memenuhi Kebutuhan

Dahulu, banyak orang pergi ke toko karena membutuhkan barang tertentu. Sekarang, seseorang bisa menemukan produk baru hanya dengan membuka media sosial atau melihat rekomendasi di aplikasi belanja. Bahkan, tanpa memiliki rencana membeli apa pun, seseorang dapat tertarik berbelanja setelah melihat produk yang sedang populer.

Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa keputusan pembelian tidak selalu dimulai dari kebutuhan. Dalam beberapa situasi, keinginan justru muncul setelah konsumen melihat produk yang menarik.

Sebagai contoh, seseorang awalnya tidak berencana membeli sepatu baru. Namun, setelah melihat video ulasan sepatu yang sedang tren, muncul keinginan untuk memilikinya. Ketika ditambah potongan harga dan promosi dengan waktu terbatas, keputusan membeli terasa semakin menarik.

Di sinilah perilaku konsumen menjadi penting untuk dipahami. Konsumen tidak selalu mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan harga dan manfaat semata. Faktor emosional, kebiasaan, pengalaman sebelumnya, serta pengaruh lingkungan juga dapat berperan dalam proses pembelian.

Artinya, semakin mudah seseorang mendapatkan informasi tentang produk, semakin penting pula kemampuannya membedakan kebutuhan dan keinginan.

Media Sosial Ikut Membentuk Keputusan Konsumen

Media sosial kini bukan hanya menjadi tempat berkomunikasi dan mencari hiburan, tetapi juga menjadi ruang bagi perusahaan untuk memperkenalkan produk kepada calon konsumen.

Konten ulasan produk, rekomendasi kreator, siaran langsung penjualan, dan pengalaman pengguna lain dapat membantu konsumen mengenali suatu produk. Di satu sisi, hal ini memberikan manfaat karena konsumen dapat memperoleh informasi sebelum membeli.

Namun, di sisi lain, informasi yang terus muncul dapat mendorong pembelian yang tidak direncanakan. Ketika suatu produk berkali-kali muncul di beranda, konsumen bisa merasa bahwa produk tersebut sedang dibutuhkan atau layak dimiliki.

Belum lagi ketika seseorang membandingkan dirinya dengan orang lain. Melihat teman menggunakan telepon genggam terbaru, mengenakan pakaian bermerek, atau mengunjungi tempat populer dapat menimbulkan keinginan untuk mengikuti gaya hidup yang sama.

Menurut saya, masalahnya bukan terletak pada penggunaan media sosial atau keinginan membeli barang yang sedang tren. Setiap orang memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan konsumsinya. Hal yang perlu diperhatikan adalah apakah keputusan tersebut sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan keuangan masing-masing.

Jangan sampai seseorang membeli barang hanya karena takut tertinggal tren, sementara kebutuhan yang lebih penting justru belum terpenuhi.

Kemudahan Transaksi Tidak Selalu Berarti Kemudahan Mengatur Keuangan

Perkembangan perdagangan elektronik memberikan banyak manfaat bagi konsumen dan pelaku usaha. Konsumen dapat membandingkan harga, menemukan berbagai pilihan produk, dan melakukan transaksi tanpa harus datang langsung ke toko.

Badan Pusat Statistik (BPS), melalui publikasi Statistik E-Commerce 2024 yang dirilis pada November 2025, menyajikan perkembangan perdagangan elektronik Indonesia dari sisi usaha, karakteristik pekerja, aktivitas bisnis, dan nilai transaksi. Publikasi tersebut menunjukkan bahwa e-commerce telah menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan dalam perkembangan ekonomi digital Indonesia. Sumber: BPS, Statistik E-Commerce 2024.

Meskipun demikian, kemudahan transaksi tetap perlu diimbangi dengan pengelolaan keuangan yang baik. Proses pembayaran yang praktis dapat membuat konsumen lebih mudah menyelesaikan pembelian tanpa mempertimbangkan kembali apakah barang tersebut benar-benar diperlukan.

Sebagai contoh, membeli barang seharga Rp30.000 mungkin terlihat tidak terlalu membebani keuangan. Namun, jika pembelian serupa dilakukan berkali-kali dalam sebulan, jumlah pengeluarannya bisa menjadi cukup besar.

Persoalannya bukan semata-mata terletak pada harga setiap barang, melainkan pada akumulasi pengeluaran yang terkadang tidak disadari.

Oleh karena itu, konsumen perlu memahami bahwa pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali tetap dapat memengaruhi kondisi keuangan. Membuat anggaran belanja dan mencatat transaksi menjadi langkah sederhana untuk mengetahui ke mana uang digunakan.

Literasi Keuangan Penting dalam Perilaku Konsumen

Perilaku konsumen yang bijak tidak hanya ditentukan oleh kemampuan memperoleh pendapatan, tetapi juga oleh kemampuan mengelola uang dan memahami konsekuensi dari setiap keputusan pembelian.

Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang diumumkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan BPS pada Agustus 2026 menunjukkan bahwa indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia mencapai 69,57 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan mencapai 93,61 persen. Sumber: OJK, hasil SNLIK 2026.

Data tersebut menggambarkan bahwa tingkat penggunaan produk dan layanan keuangan masyarakat lebih tinggi daripada tingkat literasi keuangannya berdasarkan indikator survei tersebut. Namun, kedua indeks itu mengukur aspek yang berbeda sehingga tidak dapat langsung digunakan untuk menyimpulkan bahwa setiap pengguna layanan keuangan memiliki perilaku konsumsi yang buruk.

Menurut saya, data ini tetap relevan sebagai pengingat bahwa akses terhadap layanan keuangan perlu berjalan beriringan dengan pemahaman mengenai cara menggunakannya secara bertanggung jawab.

Dalam kehidupan sehari-hari, literasi keuangan dapat diterapkan melalui kebiasaan sederhana. Misalnya, menentukan batas pengeluaran bulanan, menyisihkan uang untuk tabungan, memahami biaya layanan pembayaran, dan mempertimbangkan kemampuan membayar sebelum mengambil keputusan finansial.

Dengan kebiasaan tersebut, konsumen dapat menikmati kemudahan teknologi tanpa kehilangan kendali atas kondisi keuangannya.

Menjadi Konsumen yang Lebih Bijak Tidak Harus Berhenti Belanja

Mengendalikan perilaku konsumsi bukan berarti seseorang tidak boleh menikmati hasil kerja atau membeli barang yang disukai. Konsumsi merupakan bagian dari kehidupan ekonomi, dan kegiatan belanja juga berperan dalam mendukung usaha serta perputaran ekonomi.

Yang perlu dibangun adalah kebiasaan berbelanja berdasarkan pertimbangan yang lebih matang.

Pertama, membedakan kebutuhan dan keinginan. Sebelum membeli sesuatu, konsumen dapat bertanya kepada diri sendiri apakah barang tersebut benar-benar diperlukan atau hanya menarik karena sedang populer.

Kedua, memberikan jeda sebelum membeli. Untuk barang yang tidak mendesak, konsumen dapat menunggu satu atau dua hari sebelum memutuskan pembelian. Jeda ini membantu mengurangi keputusan yang hanya didorong oleh emosi sesaat.

Ketiga, membuat anggaran belanja. Dengan menentukan batas pengeluaran, konsumen memiliki gambaran mengenai jumlah uang yang dapat digunakan tanpa mengganggu kebutuhan lain.

Keempat, lebih kritis terhadap promosi. Diskon tidak selalu berarti penghematan jika barang yang dibeli sebenarnya tidak dibutuhkan. Karena itu, konsumen sebaiknya memperhatikan harga akhir, biaya pengiriman, dan manfaat produk sebelum melakukan transaksi.

Kelima, tidak menjadikan tren sebagai ukuran utama. Produk yang populer belum tentu sesuai dengan kebutuhan setiap orang. Konsumen perlu mempertimbangkan fungsi, kualitas, dan kemampuan keuangan sebelum membeli.

Langkah-langkah tersebut memang terlihat sederhana. Namun, jika diterapkan secara konsisten, kebiasaan ini dapat membantu seseorang mengambil keputusan konsumsi yang lebih terencana.

Jangan Sampai Keinginan Mengendalikan Pengeluaran

Perubahan teknologi telah membuat kegiatan belanja menjadi lebih mudah, cepat, dan praktis. Konsumen kini memiliki lebih banyak pilihan untuk mencari produk, membandingkan harga, dan memenuhi kebutuhan. Akan tetapi, kemudahan tersebut juga menuntut kemampuan untuk mengendalikan keputusan pembelian.

Menurut saya, tantangan terbesar dalam perilaku konsumen saat ini bukan sekadar bagaimana mendapatkan barang dengan harga murah, tetapi bagaimana memastikan setiap pengeluaran benar-benar memberikan manfaat.

Media sosial, promosi, dan tren akan terus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Kita tidak harus menghindari semuanya, tetapi perlu memahami bagaimana faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi keputusan belanja.

Pada akhirnya, menjadi konsumen yang bijak bukan berarti harus selalu memilih barang paling murah atau berhenti menikmati hal-hal yang disukai. Menjadi konsumen yang bijak berarti mampu menentukan prioritas, memahami kemampuan keuangan, dan bertanggung jawab terhadap setiap keputusan yang diambil.

Sebab, kemampuan mengelola uang bukan hanya tentang seberapa banyak pendapatan yang kita miliki, tetapi juga tentang bagaimana kita memutuskan untuk menggunakannya.