Bisnis Bukan Cuma Cari Untung: Mengapa Etika dan Hukum Tidak Boleh Diabaikan?

saya adalah mahasiswa dari universitas pamulang angkatan 2023
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Rido Mulia Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika membicarakan bisnis, hal pertama yang biasanya muncul dalam pikiran adalah keuntungan. Berapa modal yang dibutuhkan, berapa harga jualnya, berapa banyak pelanggan, dan berapa besar keuntungan yang bisa diperoleh.
Namun, menurut saya, ada pertanyaan yang tidak kalah penting:
“Apakah cara kita mendapatkan keuntungan tersebut sudah benar?”
Pertanyaan ini membawa kita pada dua hal yang sering dianggap berbeda, tetapi sebenarnya saling berkaitan, yaitu etika bisnis dan hukum bisnis.
Dalam menjalankan usaha, perusahaan memang memiliki tujuan memperoleh keuntungan. Namun, keuntungan tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengabaikan kejujuran, hak konsumen, kewajiban kepada karyawan, maupun aturan yang berlaku.
Bisnis yang hanya mengejar keuntungan tanpa memperhatikan etika dan hukum mungkin dapat berkembang dalam waktu singkat. Tetapi untuk bertahan dalam jangka panjang, perusahaan membutuhkan kepercayaan.
Untung Besar Tidak Selalu Berarti Bisnis Berhasil
Bayangkan sebuah toko online menjual produk dengan menggunakan foto yang sangat berbeda dari barang sebenarnya. Ketika pelanggan menerima barang, kualitasnya jauh di bawah ekspektasi.
Secara sederhana, penjual mungkin berhasil mendapatkan satu transaksi. Namun, apa yang terjadi setelahnya?
Pelanggan bisa kecewa, memberikan ulasan buruk, atau membagikan pengalamannya di media sosial.
Dari contoh tersebut, kita dapat melihat bahwa keuntungan jangka pendek dapat menimbulkan kerugian jangka panjang.
Menurut saya, keberhasilan bisnis seharusnya tidak hanya diukur dari berapa banyak uang yang diperoleh. Bisnis juga perlu dilihat dari bagaimana keuntungan tersebut diperoleh.
Di sinilah etika bisnis memiliki peran penting.
Etika bisnis berkaitan dengan prinsip dan nilai yang digunakan dalam menentukan apakah suatu tindakan dalam kegiatan bisnis dapat dianggap baik, jujur, adil, dan bertanggung jawab.
Dengan kata lain, etika mengingatkan kita bahwa tidak semua hal yang bisa dilakukan dalam bisnis berarti pantas untuk dilakukan.
Etika Bukan Sekadar Bersikap Sopan
Ketika mendengar istilah etika, sebagian orang mungkin menganggapnya hanya berkaitan dengan sopan santun.
Padahal, etika bisnis jauh lebih luas.
Etika dapat berkaitan dengan kejujuran dalam promosi, transparansi harga, perlakuan terhadap karyawan, hubungan dengan mitra, penggunaan data pelanggan, hingga tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan.
Contohnya dalam pemasaran.
Sebuah bisnis tentu ingin produknya terlihat menarik. Namun, promosi tidak seharusnya memberikan informasi yang menyesatkan konsumen.
Jika sebuah produk diklaim sebagai “yang terbaik” atau “100 persen aman”, perusahaan seharusnya memiliki dasar yang jelas untuk menyampaikan klaim tersebut.
Begitu juga dengan diskon.
Harga awal yang dinaikkan terlebih dahulu kemudian ditampilkan seolah-olah mendapatkan diskon besar mungkin terlihat sebagai strategi pemasaran. Namun, praktik semacam itu dapat membuat konsumen mengambil keputusan berdasarkan informasi yang tidak sebenarnya.
Menurut saya, pemasaran yang baik bukan tentang bagaimana membuat konsumen membeli dengan cara apa pun. Pemasaran yang baik adalah bagaimana membuat konsumen tertarik melalui informasi yang jujur dan dapat dipertanggungjawabkan.
Hukum Menjadi Batas yang Harus Dipatuhi
Jika etika memberikan pedoman mengenai apa yang seharusnya dilakukan, hukum memberikan aturan yang harus dipatuhi.
Dalam dunia bisnis, hukum berfungsi memberikan kepastian sekaligus melindungi kepentingan berbagai pihak yang terlibat.
Pelaku usaha perlu memahami berbagai aturan yang berkaitan dengan kegiatan bisnisnya, mulai dari pendirian usaha, perizinan, kontrak, perpajakan, ketenagakerjaan, perlindungan konsumen, hingga kegiatan perdagangan melalui sistem elektronik.
Di Indonesia, misalnya, perlindungan konsumen memiliki dasar hukum melalui Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
Aturan tersebut menunjukkan bahwa konsumen memiliki hak yang perlu dihormati oleh pelaku usaha.
Artinya, hubungan antara penjual dan pembeli bukan hanya hubungan ekonomi. Ada hak dan kewajiban yang harus diperhatikan oleh kedua belah pihak.
Karena itu, memahami hukum bisnis bukan hanya tugas perusahaan besar. Pelaku UMKM dan calon pengusaha juga perlu memiliki pemahaman dasar mengenai aturan yang berkaitan dengan kegiatan usahanya.
Era Digital Membuat Masalah Etika Semakin Kompleks
Perkembangan teknologi membuat bisnis menjadi lebih mudah. Seseorang dapat mempromosikan produk melalui media sosial, menerima pembayaran secara digital, dan menjual barang kepada konsumen dari berbagai daerah.
Namun, perkembangan tersebut juga menghadirkan persoalan etika dan hukum yang baru.
Salah satunya adalah penggunaan data konsumen.
Saat melakukan transaksi online, pelanggan dapat memberikan nama, nomor telepon, alamat, hingga informasi lainnya. Data tersebut tentu tidak seharusnya digunakan secara sembarangan.
Indonesia juga telah memiliki Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) sebagai salah satu dasar hukum dalam pengaturan perlindungan data pribadi.
Bagi perusahaan, keberadaan aturan tersebut menjadi pengingat bahwa data pelanggan bukan sekadar informasi yang dapat digunakan sesuka hati.
Menurut saya, perusahaan perlu membangun kebiasaan untuk menjaga data pelanggan sejak awal, bukan menunggu sampai terjadi kebocoran data baru mengambil tindakan.
Kepercayaan pelanggan membutuhkan waktu untuk dibangun, tetapi dapat hilang dengan sangat cepat.
Kontrak Bisnis Jangan Hanya Dibaca Ketika Terjadi Masalah
Dalam kegiatan bisnis, kerja sama dengan pihak lain hampir tidak dapat dihindari.
Perusahaan bekerja sama dengan pemasok, distributor, karyawan, investor, maupun mitra lainnya. Hubungan tersebut biasanya dituangkan dalam kontrak atau perjanjian.
Sayangnya, tidak semua orang membaca isi perjanjian dengan teliti.
Ada yang langsung menandatangani karena merasa percaya kepada pihak lain. Padahal, kontrak dapat memuat berbagai hal penting seperti hak dan kewajiban, harga, jangka waktu, mekanisme pembayaran, tanggung jawab, hingga penyelesaian sengketa.
Menurut saya, kontrak bukan sekadar formalitas.
Kontrak merupakan salah satu alat untuk memberikan kejelasan mengenai hubungan antara para pihak. Karena itu, sebelum menandatangani perjanjian, pihak yang terlibat perlu memahami isi dan konsekuensinya.
Jika terdapat klausul yang tidak dipahami, sebaiknya ditanyakan terlebih dahulu.
Jangan sampai seseorang baru membaca kontrak secara serius setelah muncul masalah.
Karyawan Juga Bagian dari Etika Bisnis
Etika bisnis tidak hanya berkaitan dengan hubungan perusahaan dan konsumen.
Hubungan perusahaan dengan karyawan juga menjadi bagian penting.
Perusahaan membutuhkan tenaga kerja untuk menjalankan kegiatan operasional. Sebaliknya, karyawan memiliki hak yang perlu dihormati sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Masalah seperti upah, jam kerja, keselamatan kerja, diskriminasi, pelecehan, dan perlakuan tidak adil tidak seharusnya dianggap sebagai persoalan kecil.
Perusahaan yang ingin membangun reputasi baik di mata masyarakat juga perlu memperhatikan bagaimana mereka memperlakukan orang-orang yang bekerja di dalamnya.
Menurut saya, sulit bagi perusahaan untuk mengklaim dirinya memiliki budaya bisnis yang baik jika di dalam organisasinya sendiri terdapat praktik yang merugikan karyawan.
Etika seharusnya dimulai dari dalam perusahaan.
Jangan Menunggu Viral Baru Bertanggung Jawab
Media sosial membuat masyarakat semakin mudah mengetahui perilaku sebuah perusahaan.
Ketika perusahaan memberikan pelayanan buruk, konsumen dapat membagikan pengalamannya. Ketika perusahaan memberikan pelayanan yang baik, hal tersebut juga dapat menjadi promosi positif.
Situasi ini membuat reputasi menjadi semakin penting.
Masalahnya, beberapa perusahaan baru serius menangani persoalan setelah masalah tersebut menjadi viral.
Menurut saya, pola seperti ini perlu diubah.
Perusahaan seharusnya memiliki mekanisme untuk menerima keluhan, menindaklanjuti masalah, dan memberikan solusi sebelum masalah berkembang menjadi krisis reputasi.
Kesalahan bisnis memang dapat terjadi. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana perusahaan merespons kesalahan tersebut.
Mengakui kesalahan, memberikan penjelasan yang jujur, dan menawarkan penyelesaian sering kali lebih baik daripada berusaha menutupi masalah.
Mahasiswa Perlu Memahami Etika dan Hukum Bisnis Sejak Sekarang
Sebagai mahasiswa manajemen, kita mungkin belum semuanya memiliki perusahaan sendiri. Namun, bukan berarti etika dan hukum bisnis tidak penting untuk dipelajari.
Justru, pemahaman tersebut perlu dibangun sejak berada di bangku kuliah.
Ketika nanti menjadi karyawan, manajer, atau pengusaha, kita akan berhadapan dengan berbagai keputusan yang memiliki konsekuensi.
Apakah kita akan menyampaikan informasi apa adanya kepada pelanggan?
Apakah kita akan menggunakan data konsumen dengan benar?
Apakah kita akan membaca kontrak sebelum menyetujuinya?
Apakah kita akan mengambil keputusan yang menguntungkan perusahaan tetapi merugikan pihak lain?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan hanya berkaitan dengan kemampuan manajerial, tetapi juga karakter.
Menurut saya, menjadi seorang profesional bukan hanya tentang mampu menghasilkan keuntungan, tetapi juga mampu mempertanggungjawabkan cara kita mendapatkan keuntungan tersebut.
Bisnis yang Baik Membutuhkan Keuntungan dan Kepercayaan
Pada akhirnya, bisnis memang membutuhkan keuntungan. Tanpa keuntungan, perusahaan akan sulit bertahan dan berkembang.
Namun, keuntungan bukan satu-satunya modal yang dibutuhkan.
Kepercayaan juga merupakan modal.
Konsumen perlu percaya bahwa produk yang dibeli sesuai dengan informasi yang diberikan. Karyawan perlu percaya bahwa perusahaan memperlakukan mereka dengan adil. Mitra bisnis perlu percaya bahwa perjanjian akan dihormati.
Kepercayaan tersebut tidak dapat dibangun hanya dengan iklan.
Kepercayaan dibangun melalui tindakan yang konsisten.
Karena itu, menurut saya, etika dan hukum bisnis seharusnya tidak ditempatkan sebagai beban yang menghambat perusahaan. Keduanya justru dapat menjadi fondasi agar bisnis berjalan secara sehat dan berkelanjutan.
Bisnis boleh mengejar keuntungan, tetapi jangan sampai keuntungan membuat kita melupakan cara mendapatkannya.
Sebab, perusahaan mungkin bisa mendapatkan uang dari satu pelanggan melalui cara yang tidak etis, tetapi perusahaan membutuhkan kepercayaan banyak pelanggan untuk bertahan dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, bisnis yang benar-benar kuat bukan hanya bisnis yang mampu menjual banyak produk, tetapi bisnis yang mampu mengatakan:
“Kami mendapatkan keuntungan tanpa mengorbankan kejujuran, hak, dan kepercayaan orang lain.”
