Bisnis Ramai Belum Tentu Sehat: Mengapa Manajemen Keuangan Sangat Penting?

saya adalah mahasiswa dari universitas pamulang angkatan 2023
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Rido Mulia Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika melihat sebuah bisnis ramai pembeli, kita mungkin langsung berpikir bahwa bisnis tersebut pasti sedang menghasilkan banyak keuntungan.
Namun, apakah bisnis yang ramai selalu berarti bisnis yang sehat?
Menurut saya, belum tentu.
Sebuah usaha bisa memiliki banyak pelanggan, penjualan yang tinggi, bahkan terlihat berkembang di media sosial. Tetapi jika pengelolaan keuangannya buruk, bisnis tersebut tetap bisa mengalami masalah.
Di sinilah saya melihat bahwa manajemen keuangan memiliki peran yang sangat penting dalam keberlangsungan sebuah bisnis.
Manajemen keuangan bukan hanya tentang menghitung pemasukan dan pengeluaran. Lebih dari itu, manajemen keuangan berkaitan dengan bagaimana perusahaan mengelola uang, mengambil keputusan investasi, menentukan sumber pendanaan, mengendalikan biaya, serta memastikan bisnis memiliki kemampuan untuk terus berjalan.
Penjualan Tinggi Tidak Sama dengan Keuntungan Tinggi
Salah satu hal yang sering membingungkan bagi orang yang baru belajar bisnis adalah menganggap penjualan sebagai keuntungan.
Padahal, keduanya berbeda.
Misalnya, sebuah usaha makanan mendapatkan omzet Rp50 juta dalam satu bulan. Angka tersebut memang terlihat besar.
Tetapi setelah dikurangi biaya bahan baku, gaji karyawan, sewa tempat, listrik, transportasi, biaya promosi, pajak, dan berbagai pengeluaran lainnya, ternyata keuntungan yang tersisa hanya Rp5 juta.
Artinya, omzet Rp50 juta tidak berarti pemilik usaha mendapatkan keuntungan Rp50 juta.
Menurut saya, kesalahan membedakan omzet dan laba dapat membuat seseorang merasa bisnisnya sangat sukses, padahal kondisi keuangannya belum tentu sehat.
Karena itu, seorang pengusaha perlu memahami ke mana uang masuk dan ke mana uang keluar.
Bisnis tidak cukup hanya menghasilkan uang. Bisnis harus mampu mengelola uang tersebut.
Laba Ada, tetapi Uang Tunai Tidak Ada?
Hal lain yang menurut saya menarik dalam manajemen keuangan adalah masalah arus kas.
Sebuah perusahaan dapat mencatat keuntungan, tetapi tetap mengalami kesulitan membayar kewajibannya jika uang tunai tidak tersedia pada saat dibutuhkan.
Misalnya, sebuah perusahaan menjual produk kepada pelanggan secara kredit. Dalam laporan, penjualan tersebut sudah tercatat. Namun, pelanggan baru membayar 60 hari kemudian.
Di sisi lain, perusahaan harus membayar gaji karyawan, pemasok, listrik, dan kewajiban lainnya setiap bulan.
Jika perusahaan tidak mengelola arus kas dengan baik, kondisi tersebut dapat menimbulkan masalah.
Karena itu, menurut saya, pengusaha tidak boleh hanya melihat laporan laba rugi.
Arus kas juga harus diperhatikan.
Sederhananya, keuntungan menunjukkan apakah bisnis menghasilkan laba, sedangkan arus kas membantu melihat apakah bisnis memiliki uang yang cukup untuk menjalankan aktivitasnya.
Jangan Asal Berutang
Dalam dunia bisnis, utang tidak selalu buruk.
Bahkan, utang dapat digunakan untuk membantu perusahaan melakukan ekspansi.
Misalnya, sebuah usaha memiliki peluang membuka cabang baru, tetapi modal yang tersedia belum cukup. Perusahaan dapat menggunakan pembiayaan dari bank atau sumber pendanaan lainnya.
Namun, keputusan tersebut tetap harus dihitung dengan hati-hati.
Perusahaan perlu mempertimbangkan kemampuan membayar pokok dan bunga, jangka waktu pinjaman, serta manfaat yang diperoleh dari dana tersebut.
Masalah muncul ketika utang digunakan tanpa perhitungan.
Misalnya, perusahaan mengambil pinjaman hanya karena ingin mengikuti tren atau membeli aset yang sebenarnya belum diperlukan.
Jika pemasukan tidak mampu menutup kewajiban, utang justru dapat menjadi beban.
Menurut saya, prinsip sederhananya adalah:
Jangan berutang hanya karena bisa mendapatkan uang. Berutanglah jika dana tersebut memang memiliki tujuan yang jelas dan kemampuan pembayaran yang terukur.
Uang Perusahaan Bukan Uang Pribadi
Hal lain yang sering terjadi pada usaha kecil adalah tercampurnya uang pribadi dan uang bisnis.
Pemilik usaha mengambil uang dari kas untuk kebutuhan pribadi. Sebaliknya, ketika bisnis membutuhkan tambahan dana, pemilik memasukkan uang pribadinya tanpa pencatatan yang jelas.
Pada awal usaha, mungkin hal tersebut terlihat sepele.
Namun ketika bisnis mulai berkembang, kebiasaan tersebut dapat menyulitkan pemilik mengetahui kondisi keuangan yang sebenarnya.
Berapa keuntungan bisnis?
Berapa modal yang masih tersedia?
Berapa uang yang sebenarnya boleh digunakan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi sulit dijawab jika keuangan pribadi dan bisnis bercampur.
Karena itu, menurut saya, memisahkan rekening pribadi dan rekening bisnis merupakan langkah sederhana tetapi penting.
Tidak perlu menunggu bisnis menjadi perusahaan besar untuk mulai tertib secara keuangan.
Investasi Harus Dipikirkan, Bukan Sekadar Ikut Tren
Manajemen keuangan juga berkaitan dengan keputusan investasi.
Perusahaan tentu ingin berkembang. Namun, tidak semua investasi otomatis memberikan keuntungan.
Misalnya, sebuah bisnis membeli mesin baru karena melihat perusahaan lain menggunakan teknologi yang sama.
Pertanyaannya bukan hanya, “Apakah mesin tersebut bagus?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Apakah mesin tersebut benar-benar dibutuhkan?”
“Berapa biaya investasinya?”
“Berapa tambahan pendapatan yang mungkin diperoleh?”
“Berapa lama modal tersebut dapat kembali?”
Dengan mempertimbangkan pertanyaan tersebut, perusahaan dapat membuat keputusan investasi secara lebih rasional.
Hal ini menunjukkan bahwa manajemen keuangan tidak hanya melihat kondisi hari ini, tetapi juga mempertimbangkan masa depan.
Teknologi Membuat Pengelolaan Keuangan Lebih Mudah
Perkembangan teknologi juga memberikan banyak kemudahan bagi bisnis.
Saat ini, pencatatan transaksi tidak harus selalu dilakukan menggunakan buku secara manual. Banyak aplikasi yang dapat membantu pelaku usaha mencatat penjualan, biaya, stok, hingga membuat laporan keuangan.
Menurut saya, teknologi dapat membantu mengurangi pekerjaan administratif dan membuat pemilik usaha lebih mudah memantau kondisi bisnis.
Namun, teknologi tetap hanya alat.
Jika data yang dimasukkan salah, laporan yang dihasilkan juga akan salah.
Artinya, pemilik bisnis tetap harus memahami dasar-dasar keuangan.
Jangan sampai kita memiliki aplikasi keuangan yang canggih, tetapi tidak memahami arti angka yang muncul di dalamnya.
Mahasiswa Manajemen Juga Harus Melek Keuangan
Sebagai mahasiswa Manajemen, saya merasa bahwa mempelajari manajemen keuangan memiliki manfaat yang sangat luas.
Ilmu ini bukan hanya digunakan ketika bekerja sebagai manajer keuangan.
Mahasiswa yang nantinya bekerja di bidang pemasaran, sumber daya manusia, operasional, bahkan menjadi seorang wirausaha tetap akan berhadapan dengan keputusan yang memiliki dampak keuangan.
Contohnya sederhana.
Ketika bagian pemasaran ingin membuat sebuah program promosi, mereka perlu mempertimbangkan anggaran dan hasil yang diharapkan.
Ketika bagian sumber daya manusia ingin menambah karyawan, perusahaan harus mempertimbangkan biaya tenaga kerja.
Ketika bagian operasional ingin membeli mesin baru, perusahaan perlu menghitung apakah investasi tersebut memberikan manfaat yang sebanding.
Artinya, keputusan bisnis hampir selalu memiliki hubungan dengan keuangan.
Karena itu, menurut saya, mahasiswa Manajemen tidak cukup hanya bisa membaca angka.
Kita juga perlu memahami cerita di balik angka tersebut.
Jangan Menunggu Bisnis Bermasalah untuk Belajar Mengatur Keuangan
Pada akhirnya, saya melihat bahwa manajemen keuangan sering baru dianggap penting ketika bisnis sudah mengalami masalah.
Ketika kas mulai menipis, utang menumpuk, biaya meningkat, atau keuntungan menurun, barulah pemilik usaha mulai memperhatikan laporan keuangan.
Padahal, seharusnya pengelolaan keuangan dilakukan sejak awal.
Bisnis yang sehat bukan hanya bisnis yang memiliki penjualan tinggi.
Bisnis yang sehat adalah bisnis yang mengetahui berapa pendapatannya, mampu mengendalikan biaya, menjaga arus kas, mengelola utang dengan bijak, dan menggunakan modal untuk kegiatan yang memberikan nilai.
Karena itu, menurut saya, ada satu hal yang penting untuk diingat:
Jangan hanya bertanya “Berapa banyak uang yang kita hasilkan?”, tetapi tanyakan juga “Ke mana uang tersebut pergi dan apakah penggunaannya membuat bisnis semakin kuat?”
Sebab pada akhirnya, manajemen keuangan bukan sekadar urusan angka.
Manajemen keuangan adalah tentang bagaimana sebuah bisnis mengambil keputusan hari ini agar tetap mampu bertahan dan berkembang di masa depan.
