Konten dari Pengguna

Ekonomi Dunia Sedang Tidak Baik-Baik Saja, Apa Dampaknya bagi Indonesia?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rido Mulia Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

uang gaji ekonomi (pixabay.com/EmAji)
zoom-in-whitePerbesar
uang gaji ekonomi (pixabay.com/EmAji)

Ketidakpastian geopolitik, inflasi, dan perubahan perdagangan global membuat Indonesia perlu semakin kuat menghadapi gejolak ekonomi internasional.

Membicarakan ekonomi internasional mungkin terdengar seperti sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal, kondisi ekonomi dunia sebenarnya dapat dirasakan masyarakat melalui harga barang, nilai tukar rupiah, harga bahan bakar, hingga kesempatan kerja.

Memasuki 2026, perekonomian global masih menghadapi berbagai tekanan. International Monetary Fund (IMF) dalam World Economic Outlook Update Juli 2026 memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia sebesar 3,0 persen pada 2026 dan 3,4 persen pada 2027. IMF juga mencatat bahwa pemulihan ekonomi global berlangsung tidak merata dan tekanan dari konflik serta ketidakpastian keuangan masih menjadi risiko.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dunia memang masih berjalan, tetapi bukan berarti tanpa masalah. Bagi negara seperti Indonesia yang terhubung dengan perdagangan dan keuangan global, perubahan yang terjadi di luar negeri tetap dapat memberikan dampak ke dalam negeri.

Ketegangan Global Bisa Menekan Perdagangan Internasional

Salah satu hal yang menarik dalam ekonomi internasional saat ini adalah semakin besarnya pengaruh geopolitik terhadap kegiatan ekonomi. Konflik di suatu wilayah tidak hanya menimbulkan persoalan politik dan keamanan, tetapi juga dapat mengganggu produksi, transportasi, energi, dan rantai pasok.

Bank Indonesia dalam laporan kelembagaan Triwulan II 2026 mencatat bahwa konflik di Timur Tengah memberikan tekanan terhadap produksi, distribusi, dan rantai pasok perdagangan dunia. Ketidakpastian tersebut juga dapat meningkatkan perhatian investor terhadap aset yang dianggap lebih aman.

Menurut kami, kondisi ini menjadi pengingat bahwa perdagangan internasional tidak hanya berkaitan dengan kegiatan ekspor dan impor. Di balik barang yang sampai ke tangan konsumen terdapat jaringan produksi dan distribusi yang melibatkan banyak negara.

Sebagai contoh sederhana, suatu perusahaan Indonesia mungkin membutuhkan bahan baku dari luar negeri. Jika terjadi gangguan pada jalur perdagangan atau biaya pengiriman meningkat, biaya produksi perusahaan tersebut juga dapat ikut naik. Pada akhirnya, perubahan di tingkat internasional dapat dirasakan sampai ke konsumen.

Indonesia Tidak Bisa Hanya Mengandalkan Kondisi Ekonomi Global

Di tengah ketidakpastian tersebut, Indonesia memiliki tantangan tersendiri. Indonesia merupakan bagian dari perekonomian global sehingga tetap membutuhkan aktivitas perdagangan internasional, investasi, serta hubungan ekonomi dengan berbagai negara.

Namun, ketergantungan yang terlalu besar terhadap kondisi eksternal juga dapat meningkatkan risiko ketika terjadi guncangan global. Karena itu, menurut kami, salah satu hal penting bagi Indonesia adalah memperkuat sumber pertumbuhan dari dalam negeri tanpa mengabaikan peluang dari perdagangan internasional.

Bank Indonesia dalam Tinjauan Kebijakan Moneter Agustus 2026 memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada dalam kisaran 4,9–5,7 persen. BI juga menyebut ketahanan eksternal perlu terus diperkuat untuk menghadapi gejolak global.

Artinya, Indonesia tidak harus menutup diri dari ekonomi dunia. Justru sebaliknya, Indonesia perlu tetap aktif dalam perdagangan internasional, tetapi dengan memperkuat fondasi ekonominya sendiri.

Ekspor Jangan Hanya Mengandalkan Komoditas

Menurut kami, salah satu pekerjaan rumah Indonesia dalam ekonomi internasional adalah meningkatkan nilai tambah produk ekspor.

Indonesia memiliki berbagai sumber daya alam yang menjadi komoditas penting dalam perdagangan dunia. Namun, menjual komoditas mentah atau produk dengan nilai tambah rendah membuat manfaat ekonomi yang diperoleh bisa lebih terbatas dibandingkan jika produk tersebut diproses lebih lanjut.

Karena itu, hilirisasi dan pengembangan industri pengolahan menjadi penting. Produk yang memiliki nilai tambah lebih tinggi dapat membuka peluang bagi Indonesia untuk memperoleh manfaat yang lebih besar dari perdagangan internasional.

Selain itu, diversifikasi pasar ekspor juga penting. Jika kegiatan ekspor terlalu bergantung pada beberapa negara tujuan, perubahan permintaan atau kebijakan perdagangan di negara tersebut dapat memberikan dampak yang cukup besar terhadap Indonesia.

Bagi kami, perdagangan internasional seharusnya tidak hanya dilihat dari seberapa banyak barang yang berhasil diekspor, tetapi juga dari seberapa besar nilai ekonomi yang dapat diciptakan di dalam negeri.

Generasi Muda Perlu Memahami Ekonomi Internasional

Isu ekonomi internasional juga penting dipahami oleh generasi muda. Alasannya sederhana: generasi muda merupakan bagian dari masyarakat yang akan menghadapi dampak perubahan ekonomi dalam jangka panjang.

Perubahan nilai tukar, perkembangan teknologi, perdagangan digital, investasi asing, hingga perubahan kebutuhan tenaga kerja merupakan beberapa hal yang berkaitan dengan ekonomi global.

IMF juga mencatat bahwa perkembangan teknologi, termasuk investasi yang berkaitan dengan kecerdasan buatan, menjadi salah satu faktor yang membantu menopang pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara. Namun, manfaatnya tidak dirasakan secara sama oleh semua negara karena bergantung pada keterhubungan suatu perekonomian dengan rantai nilai teknologi global.

Menurut kami, hal ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi mahasiswa. Kemampuan memahami teknologi dan ekonomi dapat menjadi modal penting agar generasi muda tidak hanya menjadi konsumen dari perubahan global, tetapi juga mampu mengambil bagian di dalamnya.

Ekonomi Global Mengajarkan Pentingnya Kesiapan

Pada akhirnya, kondisi ekonomi internasional pada 2026 menunjukkan bahwa perekonomian dunia masih menghadapi ketidakpastian. Pertumbuhan tetap berlangsung, tetapi konflik geopolitik, inflasi, perubahan kebijakan perdagangan, dan perkembangan teknologi membuat arah ekonomi global menjadi lebih kompleks.

Indonesia tentu tidak dapat mengendalikan apa yang terjadi di negara lain. Namun, Indonesia dapat memperkuat daya tahan ekonominya melalui diversifikasi perdagangan, peningkatan nilai tambah produk, penguatan industri dalam negeri, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan kebijakan ekonomi yang mampu merespons perubahan global.

Bagi kami sebagai mahasiswa, pelajaran paling penting dari kondisi tersebut adalah bahwa ekonomi internasional bukan hanya persoalan angka pertumbuhan atau hubungan antarnegara. Ekonomi internasional pada akhirnya berkaitan dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.

Karena itu, menghadapi perubahan ekonomi global bukan berarti Indonesia harus menghindari dunia internasional. Justru Indonesia perlu semakin terbuka, tetapi tetap memiliki fondasi ekonomi yang kuat agar tidak mudah terdampak ketika terjadi perubahan di luar negeri.