Jadi Bos Itu Mudah, Jadi Pemimpin Itu Sulit

saya adalah mahasiswa dari universitas pamulang angkatan 2023
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Rido Mulia Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menjadi bos mungkin terlihat menyenangkan. Bisa memberikan tugas, menentukan keputusan, dan meminta orang lain mengikuti arahan. Namun, apakah menjadi bos otomatis membuat seseorang menjadi pemimpin?
Menurut saya, jawabannya adalah tidak.
Dalam dunia bisnis, seseorang bisa saja memiliki jabatan sebagai direktur, manajer, supervisor, atau kepala divisi. Tetapi jabatan tersebut belum tentu membuatnya mampu menjadi seorang pemimpin yang baik. Sebab, menjadi pemimpin bukan hanya tentang memiliki kewenangan, tetapi tentang bagaimana seseorang mampu mendapatkan kepercayaan dari orang lain.
Di tengah dunia bisnis yang semakin cepat berubah, perusahaan membutuhkan pemimpin yang bukan hanya mampu mengejar target, tetapi juga mampu memahami manusia yang bekerja di balik target tersebut.
Ketika Pemimpin Hanya Pandai Memberikan Perintah
Kita mungkin pernah menemukan tipe pemimpin yang setiap hari hanya bertanya, "Sudah selesai belum?"
Ketika target tercapai, itu dianggap sebagai kewajiban. Namun ketika target tidak tercapai, yang pertama dicari adalah siapa yang harus disalahkan.
Model kepemimpinan seperti ini mungkin dapat membuat pekerjaan berjalan dalam jangka pendek. Akan tetapi, jika terus dilakukan, hubungan antara pemimpin dan anggota tim dapat menjadi tidak sehat.
Karyawan bisa bekerja hanya karena takut dimarahi, bukan karena merasa memiliki tanggung jawab terhadap perusahaan.
Menurut Robbins dan Judge (2022), perilaku pemimpin memiliki hubungan penting dengan bagaimana anggota organisasi bekerja dan berinteraksi. Artinya, cara seorang pemimpin memperlakukan tim dapat memengaruhi suasana kerja dan perilaku anggota organisasi.
Menurut saya, pemimpin yang baik seharusnya tidak hanya bertanya, "Mengapa target belum tercapai?", tetapi juga bertanya, "Apa yang membuat tim kesulitan mencapai target?"
Perbedaannya memang terlihat sederhana, tetapi dampaknya bisa sangat besar.
Pemimpin Harus Bisa Mendengarkan
Sering kali kita menganggap pemimpin sebagai orang yang paling banyak berbicara. Padahal, salah satu kemampuan penting seorang pemimpin justru adalah mendengarkan.
Bayangkan seorang manajer membuat kebijakan baru tanpa pernah bertanya kepada karyawan yang menjalankan kebijakan tersebut.
Secara teori, kebijakan tersebut mungkin terlihat bagus. Namun dalam praktiknya bisa saja menyulitkan karena pemimpin tidak memahami kondisi di lapangan.
Karena itu, pemimpin perlu memberikan ruang kepada anggota tim untuk menyampaikan pendapat.
Bukan berarti semua pendapat harus diterima. Seorang pemimpin tetap harus mengambil keputusan. Namun, keputusan yang dibuat setelah mendengarkan berbagai perspektif biasanya akan memiliki pertimbangan yang lebih baik.
Bagi saya, mendengarkan bukan tanda bahwa seorang pemimpin tidak memiliki pendirian. Justru, mendengarkan menunjukkan bahwa pemimpin tidak merasa dirinya paling benar.
Target Penting, tetapi Manusia Juga Penting
Dalam bisnis, target tentu merupakan sesuatu yang penting.
Perusahaan harus menghasilkan keuntungan, meningkatkan penjualan, mempertahankan pelanggan, dan mencapai berbagai indikator kinerja lainnya. Namun, semua target tersebut pada akhirnya dijalankan oleh manusia.
Jika pemimpin hanya berfokus pada angka tetapi mengabaikan kondisi tim, perusahaan dapat menghadapi masalah lain.
Misalnya, target penjualan terus dinaikkan tanpa mempertimbangkan kemampuan tenaga penjualan. Pada awalnya mungkin produktivitas meningkat. Tetapi jika tekanan berlangsung terus-menerus tanpa dukungan yang memadai, motivasi dan kualitas kerja dapat menurun.
Di sinilah seorang pemimpin harus mampu menyeimbangkan antara people dan performance.
Pemimpin tidak boleh mengorbankan tujuan bisnis. Tetapi tujuan bisnis juga tidak seharusnya dicapai dengan mengabaikan manusia yang menjalankannya.
Kesalahan Bukan Alasan untuk Mencari Kambing Hitam
Dalam bisnis, kesalahan pasti terjadi.
Produk bisa gagal di pasar. Strategi pemasaran bisa tidak berhasil. Penjualan bisa turun. Bahkan keputusan yang sudah direncanakan dengan matang bisa menghasilkan sesuatu yang berbeda dari harapan.
Yang membedakan pemimpin yang baik dan buruk adalah cara mereka menghadapi kesalahan.
Pemimpin yang buruk mungkin langsung mencari orang untuk disalahkan.
Sebaliknya, pemimpin yang baik akan mencari tahu apa yang dapat dipelajari dari kesalahan tersebut.
Bukan berarti kesalahan harus dibiarkan. Tetap harus ada evaluasi dan tanggung jawab. Namun, evaluasi seharusnya bertujuan memperbaiki keadaan, bukan sekadar mempermalukan seseorang.
Jika setiap kesalahan selalu mendapatkan hukuman tanpa ruang untuk belajar, anggota tim akhirnya akan takut mengambil keputusan.
Padahal, dalam dunia bisnis yang penuh perubahan, perusahaan membutuhkan orang-orang yang berani mencoba dan berinovasi.
Leadership di Era AI: Manusia Tetap Menjadi Kunci
Perkembangan artificial intelligence atau AI semakin mengubah cara perusahaan bekerja. Banyak pekerjaan yang sebelumnya dilakukan secara manual kini dapat dibantu oleh teknologi.
Kondisi ini membuat peran pemimpin menjadi semakin penting.
Pemimpin tidak cukup hanya mengatakan bahwa perusahaan harus menggunakan AI. Ia juga harus memahami bagaimana teknologi tersebut digunakan secara bertanggung jawab.
Misalnya, ketika perusahaan menggunakan AI untuk membantu proses rekrutmen, pemimpin tetap harus memastikan bahwa keputusan tidak hanya bergantung pada sistem. Ada aspek manusia, etika, dan pertimbangan profesional yang tetap diperlukan.
World Economic Forum melalui The Future of Jobs Report 2025 menunjukkan bahwa perubahan teknologi menjadi salah satu faktor besar yang akan membentuk kebutuhan pekerjaan dan keterampilan di masa depan.
Artinya, pemimpin masa kini harus mampu menghadapi perubahan sekaligus membantu tim beradaptasi terhadap perubahan tersebut.
Menurut saya, pemimpin masa depan bukanlah orang yang takut terhadap teknologi, tetapi juga bukan orang yang menyerahkan semua keputusan kepada teknologi.
Teknologi dapat membantu manusia bekerja lebih cepat, tetapi pemimpin tetap harus memastikan manusia bekerja dengan arah yang benar.
Kepemimpinan Bisa Dimulai dari Bangku Kuliah
Menariknya, kemampuan leadership tidak harus menunggu kita menjadi manajer.
Sebagai mahasiswa, kita sudah memiliki banyak kesempatan untuk belajar menjadi pemimpin.
Ketika mengerjakan tugas kelompok, misalnya. Ada anggota yang aktif, ada yang pasif, ada yang memiliki ide berbeda, bahkan ada yang sulit dihubungi.
Dalam situasi seperti itu, kita belajar mengatur komunikasi, membagi tugas, menyelesaikan konflik, dan mengambil keputusan.
Hal yang sama juga terjadi ketika mengikuti organisasi atau menjadi panitia kegiatan kampus.
Mungkin terlihat sederhana, tetapi pengalaman tersebut sebenarnya merupakan simulasi kecil dari dunia kerja.
Karena itu, menurut saya, mahasiswa seharusnya tidak hanya mengejar nilai akademik. Kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, mengambil keputusan, dan memimpin orang lain juga perlu dilatih sejak sekarang.
Sebab ketika memasuki dunia kerja, perusahaan tidak hanya membutuhkan orang yang pintar secara teori. Perusahaan juga membutuhkan orang yang mampu bekerja bersama orang lain.
Pemimpin yang Baik Tidak Membuat Tim Takut, tetapi Membuat Tim Percaya
Pada akhirnya, saya berpendapat bahwa keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya dapat dilihat dari besarnya target yang berhasil dicapai.
Ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting: apakah orang-orang yang bekerja bersamanya menjadi lebih baik?
Pemimpin yang baik seharusnya mampu membuat anggota tim merasa dipercaya, dihargai, dan memiliki kesempatan untuk berkembang.
Ia tidak harus selalu menjadi orang yang paling pintar dalam ruangan. Tetapi ia harus mampu menciptakan lingkungan tempat orang lain berani memberikan ide, mengakui kesalahan, dan mencoba sesuatu yang baru.
Jadi, menjadi bos mungkin memang mudah. Cukup memiliki jabatan dan kewenangan.
Tetapi menjadi pemimpin jauh lebih sulit.
Karena pemimpin tidak hanya mengatur pekerjaan. Pemimpin menggerakkan manusia.
Dan ketika seorang pemimpin berhasil membuat timnya percaya, berkembang, dan bergerak menuju tujuan yang sama, di situlah sebenarnya business leadership menunjukkan maknanya.
