Paylater Bukan Musuh, Tapi Gaya Hidup Konsumtif Bisa Jadi Bumerang

saya adalah mahasiswa dari universitas pamulang angkatan 2023
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Rido Mulia Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayangkan sebuah situasi yang mungkin sudah tidak asing bagi banyak anak muda. Ada barang yang sudah lama diinginkan, tetapi uang di rekening belum cukup.
Kemudian muncul sebuah pilihan yang terasa sangat mudah: “Bayar nanti saja.”
Hanya dengan beberapa kali klik, barang bisa langsung dibeli. Tidak perlu menunggu gajian, tidak perlu menabung berbulan-bulan, bahkan terkadang ada tawaran cicilan dengan nominal yang terlihat ringan.
Inilah salah satu daya tarik utama layanan Buy Now, Pay Later atau paylater. Bagi generasi muda yang hidup di tengah perkembangan teknologi finansial, paylater memang menawarkan kemudahan.
Namun, kemudahan tersebut juga membawa pertanyaan penting: apakah kita benar-benar sedang menggunakan teknologi keuangan, atau justru sedang membiasakan diri hidup dengan uang yang belum kita miliki?
Menurut saya, persoalannya bukan semata-mata terletak pada paylater. Masalah yang lebih besar adalah ketika kemudahan berutang bertemu dengan gaya hidup konsumtif dan literasi keuangan yang belum cukup kuat.
Ketika “Bayar Nanti” Terasa Seperti Uang Sendiri
Perkembangan layanan keuangan digital di Indonesia memang tidak dapat dipungkiri, masyarakat semakin terbiasa melakukan transaksi melalui aplikasi, dompet digital, mobile banking, hingga QRIS.
Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital mencapai 5,15 miliar transaksi pada April 2026, tumbuh 42,86 persen secara tahunan. Transaksi QRIS bahkan tumbuh 108,43 persen secara tahunan.
Angka tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia semakin akrab dengan transaksi digital. Bagi generasi muda, kondisi ini merupakan sesuatu yang sangat wajar. Membayar makanan, membeli pakaian, memesan transportasi, hingga berbelanja kebutuhan sehari-hari dapat dilakukan hanya melalui smartphone.
Namun, kemudahan transaksi juga dapat membuat aktivitas konsumsi terasa semakin ringan. Dulu, seseorang mungkin berpikir berkali-kali sebelum mengeluarkan uang tunai dari dompet. Sekarang, cukup dengan membuka aplikasi dan menekan tombol pembayaran, transaksi selesai dalam hitungan detik.
Masalahnya menjadi lebih kompleks ketika yang digunakan bukan uang yang tersedia, melainkan fasilitas kredit. Paylater dapat membuat seseorang merasa mampu membeli sesuatu hari ini karena pembayaran dilakukan kemudian.
Di sinilah batas antara “mampu membeli” dan “mampu membayar” mulai menjadi kabur.Seseorang mungkin mampu membayar cicilan Rp300 ribu per bulan. Tetapi jika dalam waktu yang sama ia memiliki lima cicilan berbeda, persoalannya tentu tidak lagi sederhana.
Data Menunjukkan Penggunaan BNPL Terus Tumbuh
Fenomena tersebut bukan sekadar kekhawatiran tanpa dasar, otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat baki debet kredit BNPL perbankan pada Februari 2026 mencapai Rp27,8 triliun. Nilai tersebut tumbuh 26,41 persen secara tahunan, dengan jumlah rekening mencapai 30,55 juta.
Di sisi perusahaan pembiayaan, pembiayaan BNPL pada Februari 2026 mencapai Rp12,59 triliun dan tumbuh 53,53 persen secara tahunan. Sementara itu, industri pinjaman daring atau pindar juga menunjukkan pertumbuhan.
Pada Februari 2026, outstanding pembiayaan pindar mencapai Rp100,69 triliun, tumbuh 25,75 persen secara tahunan. Data tersebut sebenarnya tidak otomatis menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia semakin boros. Pertumbuhan kredit juga dapat berarti semakin luasnya akses masyarakat terhadap layanan keuangan.
Namun, angka tersebut seharusnya menjadi pengingat bahwa akses terhadap kredit berkembang sangat cepat. Karena itu, kemampuan masyarakat untuk memahami risiko kredit juga harus berkembang dengan kecepatan yang sama.
Jangan sampai teknologi keuangan berkembang lebih cepat daripada kemampuan kita menggunakannya secara bijak.
Masalah Sesungguhnya Ada pada Perilaku
Menurut saya, terlalu mudah menyalahkan paylater sebagai penyebab perilaku konsumtif Paylater pada dasarnya hanyalah sebuah fasilitas keuangan.
Jika digunakan untuk kebutuhan yang memang direncanakan dan kemampuan membayarnya jelas, fasilitas tersebut dapat memberikan manfaat.
Persoalan muncul ketika paylater digunakan untuk memenuhi keinginan sesaat. Misalnya, seseorang membeli pakaian karena sedang tren, mengganti smartphone padahal perangkat lama masih berfungsi, atau memesan berbagai barang hanya karena tergoda promosi.
Ketika uang tidak cukup, paylater dijadikan solusi.
Pada awalnya mungkin hanya satu transaksi.
Kemudian muncul transaksi kedua.jkk
Lalu transaksi ketiga.
Tanpa disadari, penghasilan bulan berikutnya sudah memiliki banyak “tujuan” sebelum benar-benar diterima. Di sinilah utang konsumtif dapat menjadi masalah. Kita sering melihat cicilan berdasarkan nominal bulanannya, bukan berdasarkan total kewajiban yang harus dibayar.
Cicilan Rp100 ribu mungkin terlihat kecil. Tetapi lima cicilan Rp100 ribu berarti Rp500 ribu. Jika ditambah tagihan lain, jumlahnya bisa semakin besar. Lebih berbahaya lagi jika seseorang menggunakan utang baru untuk membayar utang lama.
Pada titik tersebut, paylater bukan lagi alat pembayaran, tetapi mulai menjadi alat untuk mempertahankan gaya hidup yang sebenarnya tidak sesuai dengan kemampuan finansial.
Literasi Keuangan Harus Mengikuti Perkembangan Teknologi
Perkembangan layanan keuangan digital seharusnya berjalan beriringan dengan peningkatan literasi keuangan.
Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang dilakukan OJK, LPS, dan BPS menunjukkan indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia mencapai 69,57 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan mencapai 93,61 persen.Angka tersebut menunjukkan adanya kemajuan. Masyarakat semakin banyak yang memiliki akses terhadap produk dan layanan keuangan.
Tetapi ada hal yang menarik untuk diperhatikan. Tingkat inklusi keuangan lebih tinggi daripada tingkat literasi keuangan. Artinya, masyarakat dapat memiliki akses terhadap produk keuangan tanpa selalu memiliki pemahaman yang sama kuat mengenai cara menggunakannya secara bijak.
Menurut saya, inilah salah satu tantangan terbesar ekonomi digital. Memiliki akses terhadap layanan keuangan memang penting. Namun, akses tanpa pemahaman dapat menimbulkan risiko. Anak muda tidak cukup hanya diajarkan bagaimana cara menggunakan aplikasi keuangan.
Mereka juga perlu memahami bunga, biaya administrasi, denda keterlambatan, tenor, kemampuan membayar, skor kredit, serta konsekuensi apabila pembayaran tidak dilakukan tepat waktu.
Dengan kata lain, literasi keuangan tidak boleh berhenti pada pertanyaan “bagaimana cara menggunakan paylater?”, tetapi harus berkembang menjadi “kapan saya seharusnya menggunakan paylater?”
Tidak Semua Keinginan Harus Dipenuhi Sekarang
Menurut saya, salah satu pelajaran keuangan paling sederhana bagi generasi muda adalah belajar membedakan kebutuhan dan keinginan.
Tidak semua barang yang kita inginkan harus dibeli hari ini, tidak semua diskon harus dimanfaatkan, tidak semua tren harus diikuti, dan tidak semua fasilitas kredit harus digunakan hanya karena tersedia.
Kita hidup dalam lingkungan digital yang sangat agresif menawarkan konsumsi. Media sosial memperlihatkan gaya hidup orang lain. E-commerce menawarkan diskon dan gratis ongkir. Influencer memperkenalkan berbagai produk. Aplikasi keuangan menawarkan kemudahan pembayaran.
Dalam situasi seperti ini, kemampuan untuk berkata “tidak” justru menjadi bentuk kecerdasan finansial. Menunda pembelian bukan berarti tidak mampu, menabung sebelum membeli bukan berarti ketinggalan zaman, memilih barang sesuai kemampuan bukan berarti hidup kekurangan, justru keputusan tersebut menunjukkan bahwa seseorang memiliki kendali atas keuangannya sendiri.
Paylater Harus Diposisikan sebagai Alat, Bukan Sumber Penghasilan
Saya tidak berpandangan bahwa paylater harus dihindari sepenuhnya, fasilitas kredit dapat memiliki manfaat apabila digunakan secara terencana. Misalnya untuk kebutuhan yang benar-benar diperlukan dan sudah diperhitungkan kemampuan pembayarannya.
Namun, satu prinsip harus selalu diingat: paylater bukan tambahan penghasilan, limit yang diberikan aplikasi bukan berarti uang yang kita miliki, jika sebuah platform memberikan limit Rp5 juta, bukan berarti kondisi keuangan kita bertambah Rp5 juta.
Kita hanya mendapatkan kesempatan untuk menggunakan dana tersebut dengan kewajiban membayar kembali, perbedaan sederhana ini penting.
Sayangnya, banyak orang lebih fokus pada “berapa besar limit yang saya dapat?” daripada “berapa besar kewajiban yang sanggup saya tanggung?”
Seharusnya pertanyaan kedua menjadi yang utama, sebelum menggunakan paylater, seseorang perlu melihat kondisi keuangannya secara keseluruhan.
Berapa pendapatan bulanan? Berapa kebutuhan pokok? Apakah sudah memiliki dana darurat? Apakah masih mempunyai cicilan lain? Dan yang paling penting, apakah pembelian tersebut benar-benar diperlukan?
Jika jawabannya tidak jelas, mungkin keputusan terbaik adalah menunda transaksi.
Jangan Sampai Generasi Muda Menjadi “Kaya Gaya, Miskin Aset”
Ada sebuah kondisi yang menurut saya cukup berbahaya: seseorang terlihat memiliki gaya hidup yang tinggi, tetapi sebenarnya tidak memiliki fondasi keuangan yang kuat.
Smartphone terbaru ada.
Pakaian bermerek ada.
Makan di tempat mahal bisa.
Liburan bisa.
Tetapi tabungan minim, investasi belum ada, dana darurat tidak tersedia, dan sebagian besar penghasilan habis untuk membayar cicilan, kondisi tersebut tentu tidak bisa digeneralisasi kepada semua pengguna paylater.
Namun, fenomena tersebut menunjukkan pentingnya membangun kesadaran bahwa kondisi finansial tidak seharusnya diukur hanya dari apa yang bisa kita beli, kekayaan yang sebenarnya justru terlihat dari kemampuan seseorang mengelola uang, memiliki tabungan, mengendalikan utang, dan mempersiapkan masa depan.
Karena itu, menurut saya, generasi muda perlu mengubah pola pikir dari “apa yang bisa saya beli sekarang?” menjadi “apa yang mampu saya pertahankan dalam jangka panjang?” Pertanyaan tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi dampaknya besar terhadap keputusan finansial.
Saatnya Mengubah Cara Pandang terhadap Utang
Utang bukan sesuatu yang selalu buruk. Dalam kondisi tertentu, utang dapat digunakan untuk sesuatu yang produktif dan memberikan manfaat ekonomi.
Namun, utang konsumtif yang terus bertambah tanpa perencanaan dapat menjadi beban.
Karena itu, persoalan paylater sebenarnya kembali kepada manusia yang menggunakannya, teknologi hanya menyediakan alat. Keputusan tetap berada di tangan pengguna.
Jika digunakan dengan bijak, paylater dapat menjadi salah satu alternatif layanan keuangan, jika digunakan untuk mengikuti gaya hidup tanpa mempertimbangkan kemampuan finansial, paylater dapat berubah menjadi jebakan yang perlahan menggerus pendapatan.
Pada akhirnya, kemampuan finansial bukan tentang seberapa besar limit kredit yang kita miliki, kemampuan finansial adalah kemampuan untuk mengetahui kapan harus membeli, kapan harus menunda, kapan boleh berutang, dan kapan harus berkata cukup.
Bagi generasi muda, mungkin inilah saatnya berhenti mengejar gaya hidup yang terlihat mampu di media sosial dan mulai membangun kondisi keuangan yang benar-benar sehat.
Sebab, kemudahan membayar nanti seharusnya tidak membuat kita lupa bahwa tagihan tetap datang kemudian.
