Konten dari Pengguna

Pentingnya Memahami Dasar Online Marketing Dalam Jualan Produk Online

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rido Mulia Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

toko online perdagangan elektronik (pixabay.com/Megan_Rexazin_Conde)
zoom-in-whitePerbesar
toko online perdagangan elektronik (pixabay.com/Megan_Rexazin_Conde)

Pernah melihat sebuah akun bisnis yang memiliki ribuan pengikut, tetapi produknya sepi pembeli? Atau sebaliknya, ada usaha kecil dengan jumlah pengikut yang tidak terlalu banyak, tetapi hampir setiap hari mendapatkan pesanan?

Dari situ saya mulai berpikir bahwa berjualan secara online ternyata bukan hanya soal memiliki akun media sosial atau mengunggah foto produk.

Di era digital, siapa pun memang bisa membuka bisnis online. Cukup memiliki smartphone, koneksi internet, dan produk yang ingin dijual. Namun, membuat orang tertarik, percaya, kemudian membeli produk merupakan persoalan yang berbeda.

Menurut saya, di sinilah pentingnya memahami online marketing foundation atau dasar-dasar pemasaran online.

Punya Produk Bagus Belum Tentu Laku

Salah satu kesalahan yang mungkin sering dilakukan pelaku usaha pemula adalah terlalu fokus pada produk.

Produk memang penting. Tetapi produk yang bagus belum tentu otomatis dikenal konsumen.

Bayangkan ada dua penjual makanan. Penjual pertama memiliki makanan yang enak, tetapi hanya mengunggah foto produk dengan caption “tersedia, silakan order”. Penjual kedua memiliki produk yang kualitasnya hampir sama, tetapi membuat konten yang menarik, menjelaskan keunggulan produk, menampilkan proses pembuatannya, dan memberikan alasan mengapa konsumen perlu mencoba.

Kemungkinan besar, penjual kedua lebih mudah menarik perhatian.

Bukan karena produknya pasti lebih bagus, tetapi karena cara menyampaikan nilai produk kepada konsumen berbeda.

Menurut saya, online marketing pada dasarnya bukan hanya tentang menjual produk, tetapi tentang bagaimana sebuah bisnis membangun hubungan dengan calon konsumen melalui media digital.

Kenali Dulu Siapa yang Ingin Kita Jangkau

Sebelum membuat konten, ada satu pertanyaan sederhana yang menurut saya sering dilupakan:

“Produk ini sebenarnya ditujukan untuk siapa?”

Kesalahan menentukan target pasar dapat membuat strategi pemasaran menjadi tidak efektif.

Misalnya, sebuah bisnis menjual pakaian kasual untuk mahasiswa. Jika seluruh kontennya menggunakan bahasa yang sangat formal dan menampilkan produk dengan gaya yang tidak sesuai dengan kehidupan mahasiswa, tentu akan lebih sulit menarik perhatian target konsumennya.

Sebaliknya, jika bisnis memahami kebiasaan, kebutuhan, bahasa, dan platform digital yang digunakan target pasarnya, pesan pemasaran dapat dibuat lebih relevan.

Karena itu, dasar online marketing tidak seharusnya dimulai dari pertanyaan “Mau posting apa hari ini?”

Tetapi dimulai dari pertanyaan:

“Siapa konsumen saya dan apa yang mereka butuhkan?”

Konten Bukan Sekadar Pajangan

Di media sosial, konten menjadi salah satu alat utama untuk berkomunikasi dengan konsumen.

Namun, menurut saya, masih banyak bisnis yang menganggap konten hanya sebagai pajangan produk.

Setiap hari mengunggah foto produk memang terlihat aktif. Tetapi jika kontennya selalu berisi promosi, konsumen bisa merasa bosan.

Coba bandingkan:

“Diskon 20 persen! Beli sekarang!”

dengan:

“Sering bingung memilih ukuran sepatu yang pas saat belanja online? Berikut tiga cara sederhana menentukan ukuran sebelum checkout.”

Konten kedua tidak langsung menjual. Namun, konten tersebut memberikan informasi yang mungkin dibutuhkan calon konsumen.

Setelah konsumen merasa mendapatkan manfaat, barulah produk dapat diperkenalkan sebagai salah satu solusi.

Menurut saya, konten yang baik tidak selalu membuat konsumen langsung membeli. Terkadang, konten yang baik justru membuat konsumen mengingat sebuah merek.

Dan ingatan tersebut bisa menjadi modal ketika konsumen akhirnya membutuhkan produk.

Followers Banyak Bukan Berarti Penjualan Banyak

Jumlah followers sering dianggap sebagai ukuran keberhasilan pemasaran online.

Padahal, followers hanyalah salah satu indikator.

Akun dengan 100 ribu pengikut belum tentu lebih menguntungkan dibandingkan akun dengan 5 ribu pengikut. Semuanya kembali kepada kualitas audiens, tingkat interaksi, relevansi produk, dan kemampuan bisnis mengubah perhatian menjadi tindakan pembelian.

Menurut saya, pelaku usaha sebaiknya tidak terlalu terobsesi mengejar angka followers.

Lebih baik memiliki audiens yang benar-benar tertarik terhadap produk daripada memiliki banyak pengikut yang tidak pernah berinteraksi.

Karena tujuan akhir pemasaran bukan sekadar membuat angka di layar bertambah.

Tujuannya adalah menciptakan nilai, membangun kepercayaan, dan menghasilkan hubungan yang menguntungkan antara bisnis dengan konsumen.

Marketplace Memudahkan, tetapi Persaingan Juga Meningkat

Marketplace membuat kegiatan jual beli menjadi semakin mudah.

Konsumen dapat membandingkan harga, membaca ulasan, melihat rating, dan memilih berbagai produk hanya melalui satu aplikasi.

Bagi penjual, kondisi ini tentu membuka peluang besar. Tetapi di sisi lain, persaingan juga menjadi semakin ketat.

Produk yang sama bisa dijual oleh puluhan bahkan ratusan toko.

Lalu bagaimana cara agar konsumen memilih produk kita?

Menurut saya, harga murah saja tidak selalu cukup.

Pelaku usaha perlu membangun kepercayaan melalui foto yang jelas, deskripsi produk yang jujur, pelayanan yang cepat, ulasan pelanggan, dan pengalaman pembelian yang baik.

Dengan kata lain, online marketing tidak berhenti ketika konsumen melakukan checkout.

Pengalaman setelah pembelian juga dapat menentukan apakah konsumen akan kembali membeli atau justru mencari penjual lain.

Data Membantu Kita Berhenti Menebak

Salah satu kelebihan pemasaran digital adalah tersedianya data.

Pelaku usaha dapat melihat berbagai indikator seperti jumlah orang yang melihat konten, tingkat interaksi, kunjungan ke profil, klik, hingga transaksi.

Data tersebut sebenarnya sangat berharga.

Misalnya, sebuah bisnis membuat lima jenis konten. Ternyata konten edukasi mendapatkan interaksi jauh lebih tinggi dibandingkan konten promosi langsung.

Dari situ, pemilik bisnis dapat mengevaluasi strategi kontennya.

Tidak perlu terus menerus menebak apa yang disukai konsumen.

Namun, angka tetap harus dibaca dengan benar. Jumlah views yang tinggi belum tentu menghasilkan penjualan. Sebaliknya, konten dengan views yang tidak terlalu besar bisa saja menghasilkan banyak calon pembeli.

Jadi, menurut saya, digital marketing yang baik bukan hanya kreatif, tetapi juga mau belajar dari data.

Jangan Lupakan Etika

Ada satu hal yang menurut saya tidak boleh hilang dalam pemasaran online: etika.

Persaingan digital memang semakin ketat. Namun, bukan berarti semua cara boleh digunakan untuk mendapatkan perhatian.

Menggunakan foto milik orang lain tanpa izin, membuat klaim produk yang berlebihan, menyembunyikan informasi penting, membeli ulasan palsu, atau membuat iklan yang menyesatkan mungkin dapat memberikan keuntungan sementara.

Tetapi dalam jangka panjang, tindakan tersebut dapat menghancurkan kepercayaan konsumen.

Padahal, kepercayaan merupakan salah satu aset penting dalam bisnis online.

Sekali konsumen merasa tertipu, mereka bukan hanya bisa berhenti membeli. Mereka juga dapat membagikan pengalaman buruk tersebut kepada orang lain.

Karena itu, menurut saya, pemasaran yang baik bukan hanya tentang bagaimana mendapatkan konsumen, tetapi juga bagaimana mempertahankan kepercayaan konsumen.

Mahasiswa Juga Perlu Belajar Online Marketing

Sebagai mahasiswa Manajemen, mempelajari online marketing menurut saya bukan hanya berguna untuk mendapatkan nilai dalam mata kuliah.

Kemampuan tersebut bisa menjadi bekal untuk memasuki dunia kerja maupun membangun usaha sendiri.

Bahkan, mahasiswa sebenarnya memiliki kesempatan untuk belajar secara langsung.

Kita bisa mencoba membuat akun bisnis kecil, menjual produk sederhana, membuat konten, melakukan promosi, kemudian melihat respons audiens.

Dari situ kita bisa belajar bahwa teori pemasaran yang dipelajari di kelas ternyata memiliki hubungan dengan kehidupan sehari-hari.

Kita belajar tentang segmentasi ketika menentukan target konsumen. Kita belajar komunikasi ketika membuat caption. Kita belajar perilaku konsumen ketika melihat respons audiens. Kita juga belajar analisis ketika mengevaluasi data penjualan.

Dengan begitu, belajar online marketing tidak harus selalu melalui buku atau ruang kelas.

Internet sendiri bisa menjadi tempat praktik.

Online Marketing Bukan Tentang Viral Semata

Pada akhirnya, menurut saya, kesalahan terbesar dalam memahami online marketing adalah menganggap bahwa pemasaran digital hanya tentang menjadi viral.

Konten viral memang menyenangkan. Jumlah views yang tinggi juga terlihat menarik. Tetapi viral tidak selalu berarti bisnis berhasil.

Yang lebih penting adalah apakah pemasaran tersebut mampu menjangkau orang yang tepat, memberikan informasi yang relevan, membangun kepercayaan, dan mendorong konsumen untuk melakukan tindakan yang bernilai bagi bisnis.

Karena itu, sebelum bertanya “Bagaimana agar konten saya viral?”, mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah:

“Bagaimana agar konten saya berguna bagi orang yang tepat?”

Sebab dalam dunia bisnis, perhatian memang penting. Tetapi perhatian yang berubah menjadi kepercayaan jauh lebih berharga.

Pada akhirnya, online marketing bukan sekadar tentang menjual melalui internet. Online marketing adalah tentang memahami manusia, menggunakan teknologi, membaca data, dan membangun hubungan dengan konsumen.

Dan menurut saya, itulah fondasi yang harus dipahami sebelum sebuah bisnis berharap sukses di dunia digital.