Konten dari Pengguna

Perencanaan SDM Bukan Sekadar Merekrut Karyawan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rido Mulia Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi rekrutmen karyawan (pixabay.com/geralt)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi rekrutmen karyawan (pixabay.com/geralt)

Ketika sebuah perusahaan ingin berkembang, hal pertama yang sering menjadi perhatian adalah modal, strategi pemasaran, teknologi, dan target penjualan. Namun, ada satu hal yang tidak kalah penting, yaitu perencanaan sumber daya manusia (SDM). Perusahaan bisa memiliki modal besar dan teknologi canggih, tetapi tanpa tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan, pencapaian tujuan bisnis tentu akan lebih sulit.

Sayangnya, perencanaan SDM terkadang masih dipahami sebatas proses merekrut karyawan ketika perusahaan membutuhkan tenaga tambahan. Padahal, perencanaan SDM seharusnya dilakukan jauh sebelum kebutuhan tersebut muncul. Perusahaan perlu memperkirakan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan, keterampilan yang harus dimiliki, serta cara mengembangkan karyawan agar mampu mengikuti perubahan bisnis.

Menurut saya, perencanaan SDM perlu mendapatkan perhatian lebih karena dunia kerja terus berubah. Perkembangan teknologi, persaingan bisnis, dan perubahan kebutuhan konsumen menuntut perusahaan untuk memiliki tenaga kerja yang tidak hanya cukup secara jumlah, tetapi juga sesuai dari segi kompetensi.

Pengangguran dan Kebutuhan Tenaga Kerja Masih Menjadi Tantangan

Persoalan ketenagakerjaan di Indonesia menunjukkan bahwa ketersediaan tenaga kerja dan kebutuhan perusahaan perlu dipertemukan secara lebih efektif.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah angkatan kerja Indonesia pada Agustus 2025 mencapai 154 juta orang. Pada periode yang sama, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tercatat sebesar 4,85 persen atau sekitar 7,46 juta orang. Angka tersebut turun dibandingkan Agustus 2024, ketika TPT mencapai 4,91 persen.

Data tersebut memberikan gambaran bahwa persoalan ketenagakerjaan bukan hanya berkaitan dengan jumlah lapangan kerja yang tersedia. Kesesuaian antara keterampilan pencari kerja dan kebutuhan perusahaan juga perlu diperhatikan.

Sebagai contoh, sebuah perusahaan membutuhkan karyawan yang mampu mengolah data, menggunakan perangkat digital, dan menganalisis laporan bisnis. Namun, pelamar yang tersedia mungkin belum memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan tersebut. Akibatnya, perusahaan harus mengeluarkan waktu dan biaya tambahan untuk pelatihan, sementara pencari kerja membutuhkan kesempatan untuk meningkatkan kompetensinya.

Dalam kondisi seperti ini, perencanaan SDM dapat membantu perusahaan mengidentifikasi kebutuhan tenaga kerja sejak awal. Perusahaan juga dapat bekerja sama dengan lembaga pendidikan untuk mempersiapkan calon tenaga kerja dengan keterampilan yang lebih relevan.

Jangan Menunggu Kekurangan Karyawan Baru Membuat Perencanaan

Salah satu kesalahan yang dapat terjadi dalam pengelolaan SDM adalah perusahaan baru mencari tenaga kerja setelah beban pekerjaan meningkat. Cara tersebut mungkin dapat mengatasi kebutuhan dalam jangka pendek, tetapi belum tentu efektif untuk jangka panjang.

Misalnya, sebuah perusahaan ritel berencana membuka beberapa cabang baru dalam satu tahun. Jika perusahaan hanya berfokus pada pembangunan toko dan target penjualan, kebutuhan karyawan bisa saja terlambat dipersiapkan. Padahal, perusahaan membutuhkan kasir, staf gudang, supervisor, hingga tenaga administrasi yang jumlah dan kompetensinya harus disesuaikan dengan kebutuhan setiap cabang.

Perencanaan SDM memungkinkan perusahaan memperkirakan kebutuhan tersebut lebih awal. Perusahaan dapat menentukan posisi yang harus diisi, keterampilan yang dibutuhkan, anggaran rekrutmen, serta waktu yang tepat untuk melakukan perekrutan.

Dengan demikian, perusahaan tidak hanya bereaksi terhadap masalah, tetapi juga mempersiapkan langkah sebelum masalah muncul.

Menurut saya, perencanaan seperti ini penting karena karyawan bukan sekadar biaya operasional. Mereka merupakan bagian dari proses yang menentukan kualitas pelayanan, produktivitas, dan keberlangsungan bisnis.

Teknologi Berubah, Keterampilan Karyawan Harus Berkembang

Tantangan lain dalam perencanaan SDM adalah perkembangan teknologi. Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), otomatisasi, dan sistem digital mulai mengubah cara perusahaan menjalankan kegiatan operasionalnya.

Perubahan tersebut tidak selalu berarti bahwa semua pekerjaan manusia akan digantikan oleh mesin. Namun, beberapa pekerjaan dapat berubah, sementara pekerjaan lainnya membutuhkan keterampilan baru.

Laporan International Labour Organization (ILO) mengenai sektor elektronik Indonesia pada 2024 membahas kebutuhan peningkatan dan penyesuaian keterampilan tenaga kerja dalam menghadapi perubahan teknologi dan transisi pekerjaan. Laporan tersebut menekankan pentingnya pengembangan keterampilan agar kebutuhan industri dan kemampuan tenaga kerja dapat berjalan beriringan.

Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak cukup hanya merekrut karyawan yang sudah memiliki keterampilan sesuai kebutuhan saat ini. Perusahaan juga perlu memikirkan kemampuan karyawan untuk beradaptasi dengan kebutuhan masa depan.

Sebagai contoh, staf administrasi yang sebelumnya melakukan pencatatan secara manual mungkin perlu mempelajari sistem informasi digital. Begitu juga dengan staf pemasaran yang perlu memahami analisis data konsumen dan penggunaan platform digital.

Menurut saya, perusahaan sebaiknya tidak langsung menganggap karyawan yang belum menguasai teknologi sebagai tenaga kerja yang tidak lagi dibutuhkan. Selama masih memungkinkan, pelatihan dan peningkatan keterampilan dapat menjadi pilihan untuk mempersiapkan mereka menghadapi perubahan.

Pendekatan tersebut juga membantu perusahaan memanfaatkan pengalaman karyawan yang sudah memahami proses bisnis, sekaligus membekali mereka dengan kemampuan baru.

Perencanaan SDM Harus Memperhatikan Pengembangan Karier

Perencanaan SDM tidak berhenti pada menentukan jumlah karyawan dan melakukan rekrutmen. Perusahaan juga perlu memikirkan bagaimana karyawan dapat berkembang selama bekerja.

Karyawan yang tidak memiliki gambaran mengenai peluang kariernya dapat kehilangan motivasi untuk meningkatkan kemampuan. Sebaliknya, kesempatan mengikuti pelatihan, memperoleh tanggung jawab baru, dan mendapatkan promosi berdasarkan kinerja dapat mendorong karyawan untuk berkembang.

Oleh karena itu, perusahaan perlu menghubungkan perencanaan SDM dengan penilaian kinerja dan pengembangan karier. Jika perusahaan memperkirakan akan membutuhkan seorang manajer dalam beberapa tahun mendatang, misalnya, perusahaan dapat mulai mempersiapkan karyawan yang memiliki potensi untuk mengisi posisi tersebut.

Langkah ini dapat dilakukan melalui pelatihan kepemimpinan, pendampingan oleh atasan, rotasi pekerjaan, serta evaluasi kompetensi secara berkala.

Menurut saya, pendekatan tersebut memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. Perusahaan memiliki kesempatan untuk mempersiapkan calon pemimpin dari dalam organisasi, sedangkan karyawan mendapatkan ruang untuk meningkatkan kemampuan dan mengembangkan kariernya.

Lalu, Bagaimana Perusahaan Menyusun Perencanaan SDM yang Tepat?

Ada beberapa langkah yang menurut saya dapat dilakukan perusahaan agar perencanaan SDM tidak hanya menjadi dokumen administratif.

Pertama, mengevaluasi kebutuhan tenaga kerja. Perusahaan perlu mengetahui jumlah karyawan yang tersedia, posisi yang masih kosong, beban kerja, dan keterampilan yang dimiliki setiap karyawan.

Kedua, memperkirakan kebutuhan pada masa mendatang. Rencana pembukaan cabang, penggunaan teknologi baru, perubahan target penjualan, dan pengembangan produk perlu dipertimbangkan untuk menentukan kebutuhan tenaga kerja berikutnya.

Ketiga, menyiapkan strategi rekrutmen dan pelatihan. Jika keterampilan yang dibutuhkan belum tersedia di dalam perusahaan, manajemen dapat memilih antara merekrut tenaga kerja baru, melatih karyawan yang ada, atau menggabungkan kedua pendekatan tersebut.

Keempat, melakukan evaluasi secara berkala. Perencanaan SDM tidak seharusnya dibuat sekali lalu dibiarkan tanpa perubahan. Kondisi bisnis dapat berubah sehingga kebutuhan tenaga kerja perlu ditinjau kembali berdasarkan hasil kerja dan perkembangan perusahaan.

Kelima, memperhatikan kesejahteraan dan lingkungan kerja. Perusahaan perlu menciptakan kondisi kerja yang mendukung produktivitas, memberikan kompensasi secara adil, dan memperhatikan beban kerja. Sebab, perencanaan yang baik bukan hanya tentang mendapatkan karyawan yang tepat, tetapi juga mempertahankan mereka agar dapat berkembang bersama perusahaan.

Karyawan yang Tepat Tidak Hadir Secara Kebetulan

Pada akhirnya, perencanaan SDM bukan sekadar urusan merekrut karyawan ketika perusahaan membutuhkan tenaga tambahan. Perencanaan ini merupakan bagian dari strategi bisnis yang membantu perusahaan mempersiapkan tenaga kerja sesuai kebutuhan saat ini dan masa mendatang.

Perusahaan perlu memahami bahwa perubahan teknologi, persaingan bisnis, dan kebutuhan konsumen akan terus memengaruhi jenis pekerjaan serta kompetensi yang dibutuhkan. Tanpa perencanaan yang matang, perusahaan berisiko mengalami kekurangan tenaga kerja pada posisi tertentu, kelebihan tenaga kerja pada posisi lainnya, atau kesenjangan keterampilan yang menghambat produktivitas.

Menurut saya, perusahaan yang ingin bertahan dan berkembang perlu menempatkan SDM sebagai bagian penting dari strategi jangka panjang. Hal tersebut dapat dimulai dengan mengenali kemampuan karyawan, memperkirakan kebutuhan tenaga kerja, memberikan pelatihan, dan membuka kesempatan pengembangan karier.

Sebab, keberhasilan perusahaan bukan hanya ditentukan oleh seberapa banyak karyawan yang dimiliki, tetapi juga oleh seberapa tepat perusahaan mempersiapkan dan mengembangkan orang-orang di dalamnya.