Sebelum Buka Usaha, Jangan Cuma Modal Nekat: Pentingnya Studi Kelayakan Bisnis

saya adalah mahasiswa dari universitas pamulang angkatan 2023
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Rido Mulia Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Memulai bisnis sering kali terlihat mudah. Kita melihat tren makanan yang sedang ramai, produk yang banyak dicari di media sosial, atau usaha teman yang terlihat sukses. Dari situ muncul keinginan untuk ikut mencoba. Apalagi sekarang membuka usaha dapat dilakukan dengan lebih mudah melalui marketplace dan media sosial.
Namun, apakah bisnis yang terlihat menjanjikan pasti menguntungkan?
Menurut saya, jawabannya belum tentu. Banyak orang terlalu fokus pada produk yang ingin dijual dan modal yang harus dikeluarkan, tetapi lupa mempertanyakan apakah bisnis tersebut benar-benar memiliki pasar, mampu menghasilkan keuntungan, dan dapat bertahan dalam jangka panjang.
Di sinilah studi kelayakan bisnis menjadi penting. Studi kelayakan bukan berarti membuat seseorang menjadi terlalu takut untuk memulai usaha. Justru, studi ini membantu calon pelaku usaha mengetahui apakah ide bisnis yang dimiliki memang layak untuk dijalankan atau masih perlu diperbaiki.
Ide Bagus Belum Tentu Menjadi Bisnis yang Bagus
Salah satu kesalahan yang sering terjadi ketika seseorang ingin memulai usaha adalah menganggap bahwa ide yang menarik pasti akan menghasilkan keuntungan.
Contohnya, seseorang melihat tren minuman kekinian dan kemudian memutuskan membuka usaha dengan produk yang sama. Ia sudah membeli peralatan, menyewa tempat, membeli bahan baku, dan membuat akun media sosial. Masalahnya, sebelum semua itu dilakukan, ia tidak mencari tahu siapa target konsumennya, berapa banyak pesaing di sekitar lokasi, berapa harga yang mampu dibayar konsumen, dan berapa lama modalnya dapat kembali.
Ketika penjualan tidak sesuai harapan, masalah baru muncul. Biaya operasional tetap berjalan, sementara pendapatan tidak cukup untuk menutup pengeluaran.
Situasi seperti ini menunjukkan bahwa semangat saja tidak cukup untuk menjalankan bisnis. Semangat memang diperlukan, tetapi harus disertai perencanaan dan analisis.
Studi kelayakan bisnis dapat menjadi alat untuk melihat bisnis dari berbagai sisi sebelum keputusan investasi dibuat. Dengan demikian, keputusan tidak hanya berdasarkan perasaan atau mengikuti tren.
Apa Sebenarnya Studi Kelayakan Bisnis?
Secara sederhana, studi kelayakan bisnis adalah proses menganalisis suatu rencana usaha untuk mengetahui apakah usaha tersebut layak dijalankan.
Kelayakan tersebut tidak hanya dilihat dari keuntungan. Ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan, seperti pasar dan pemasaran, teknis dan operasional, manajemen, hukum, lingkungan, serta aspek keuangan.
Artinya, sebuah bisnis mungkin memiliki produk yang bagus, tetapi belum tentu layak jika pasarnya terlalu kecil. Begitu juga bisnis yang memiliki banyak calon pelanggan belum tentu layak jika biaya operasionalnya terlalu tinggi.
Karena itu, studi kelayakan membantu calon pengusaha melihat bisnis secara lebih menyeluruh.
Pertama, Kenali Pasarnya
Aspek pasar menjadi salah satu hal yang menurut saya paling penting. Sebelum menjual sesuatu, kita perlu mengetahui siapa yang akan membeli produk tersebut.
Misalnya, mahasiswa ingin membuka usaha makanan di sekitar kampus. Ia perlu mengetahui makanan apa yang banyak diminati mahasiswa, kisaran harga yang sesuai dengan kemampuan mereka, jam pembelian yang ramai, serta siapa saja pesaing yang sudah ada.
Jangan sampai produk yang dibuat sebenarnya bagus, tetapi target konsumennya tidak sesuai.
Di era digital, analisis pasar juga dapat dilakukan dengan lebih mudah. Media sosial, marketplace, ulasan pelanggan, hingga survei sederhana dapat digunakan untuk mengetahui kebutuhan dan preferensi konsumen.
Namun, data tersebut tetap harus dianalisis dengan hati-hati. Produk yang viral di media sosial belum tentu memiliki permintaan yang bertahan lama.
Menurut saya, salah satu pertanyaan penting sebelum memulai usaha bukan hanya “Apa yang ingin saya jual?”, tetapi juga “Siapa yang membutuhkan produk ini dan mengapa mereka harus membelinya?”
Kedua, Jangan Lupakan Persaingan
Setelah mengetahui pasar, calon pengusaha juga perlu melihat pesaing.
Persaingan bukan berarti harus selalu dihindari. Justru, keberadaan pesaing dapat memberikan informasi mengenai kondisi pasar.
Misalnya, jika terdapat banyak usaha sejenis di suatu daerah, calon pengusaha perlu mencari tahu apa yang membuat konsumen memilih salah satu produk dibandingkan produk lainnya.
Apakah karena harga yang lebih murah? Lokasi yang lebih strategis? Kualitas produk? Pelayanan? Kemasan? Atau justru karena promosi melalui media sosial?
Dari sini, pelaku usaha dapat menentukan keunggulan yang ingin ditawarkan.
Kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap bahwa harga murah merupakan satu-satunya cara untuk memenangkan persaingan. Padahal, perang harga dapat menjadi masalah apabila margin keuntungan terlalu kecil.
Bisnis yang sehat seharusnya tidak hanya bertanya bagaimana mendapatkan pelanggan, tetapi juga bagaimana mempertahankan pelanggan.
Ketiga, Hitung Keuangan Secara Realistis
Bagi saya, aspek keuangan merupakan bagian yang tidak boleh dilewatkan dalam studi kelayakan bisnis.
Calon pengusaha harus menghitung berapa modal yang diperlukan, biaya tetap, biaya variabel, perkiraan pendapatan, laba, arus kas, hingga waktu yang diperlukan untuk mencapai titik impas atau break-even point (BEP).
Contohnya, seseorang mengeluarkan modal Rp20 juta untuk membuka usaha. Ia kemudian memperkirakan keuntungan Rp5 juta per bulan dan merasa modal akan kembali dalam empat bulan.
Perhitungan tersebut terlihat sederhana, tetapi belum tentu benar.
Apakah Rp5 juta tersebut merupakan omzet atau laba bersih? Apakah sudah dikurangi biaya listrik, sewa tempat, bahan baku, transportasi, promosi, gaji, pajak, dan biaya lainnya?
Jika semua biaya belum diperhitungkan, maka perkiraan waktu pengembalian modal dapat menjadi terlalu optimistis.
Oleh karena itu, perencanaan keuangan sebaiknya menggunakan asumsi yang realistis. Bahkan, calon pengusaha perlu menyiapkan skenario apabila penjualan ternyata lebih rendah dari target.
Dengan begitu, kita tidak hanya bertanya “Kalau bisnis ini berhasil, berapa keuntungannya?”, tetapi juga “Kalau penjualannya tidak sesuai harapan, apakah bisnis ini masih mampu bertahan?”
Keempat, Lokasi dan Operasional Juga Menentukan
Bisnis yang bagus membutuhkan proses operasional yang jelas.
Untuk bisnis makanan, misalnya, calon pengusaha harus mempertimbangkan lokasi, ketersediaan bahan baku, kapasitas produksi, kualitas produk, tenaga kerja, peralatan, hingga proses distribusi.
Lokasi yang ramai memang menarik, tetapi biaya sewanya mungkin lebih tinggi. Sebaliknya, lokasi dengan biaya rendah mungkin memiliki jumlah calon pelanggan yang lebih sedikit.
Hal yang sama berlaku bagi bisnis online. Walaupun tidak membutuhkan toko fisik, bisnis tetap membutuhkan sistem pengelolaan stok, pengemasan, pengiriman, pelayanan pelanggan, dan pengelolaan pesanan.
Artinya, bisnis tidak berhenti pada pertanyaan “Apakah produknya bisa dibuat?”, tetapi juga “Apakah produk tersebut bisa diproduksi dan dijual secara konsisten?”
Kelima, Jangan Mengabaikan Aspek Hukum
Ada satu aspek yang terkadang dianggap kurang menarik oleh calon pengusaha, yaitu aspek hukum.
Padahal, legalitas merupakan bagian penting dalam menjalankan usaha. Jenis badan usaha, perizinan, kewajiban perpajakan, sertifikasi tertentu, hingga perlindungan konsumen perlu diperhatikan sesuai dengan karakteristik bisnis.
Di Indonesia, pelaku usaha juga dapat memanfaatkan sistem Online Single Submission (OSS) untuk berbagai proses perizinan berusaha sesuai ketentuan yang berlaku.
Legalitas bukan hanya soal memenuhi aturan pemerintah. Bagi bisnis, legalitas juga dapat meningkatkan kepercayaan konsumen dan mitra.
Bayangkan jika sebuah usaha sudah berkembang tetapi kemudian mengalami masalah karena sejak awal tidak memperhatikan kewajiban legalnya. Masalah tersebut tentu dapat mengganggu kegiatan bisnis.
Karena itu, menurut saya, aspek hukum sebaiknya dipikirkan sejak awal, bukan setelah bisnis mengalami masalah.
Studi Kelayakan Bukan Jaminan Bisnis Pasti Sukses
Meskipun studi kelayakan bisnis sangat penting, kita juga harus memahami bahwa studi kelayakan bukan jaminan bahwa bisnis pasti berhasil.
Kondisi pasar dapat berubah. Selera konsumen dapat berganti. Teknologi dapat berkembang. Pesaing baru dapat muncul. Bahkan kondisi ekonomi dapat memengaruhi daya beli masyarakat.
Karena itu, hasil studi kelayakan seharusnya tidak dianggap sebagai keputusan yang berlaku selamanya.
Menurut saya, studi kelayakan lebih tepat dipandang sebagai alat untuk mengurangi ketidakpastian. Dengan melakukan analisis sejak awal, pelaku usaha dapat mengetahui potensi keuntungan sekaligus risiko yang mungkin muncul.
Jika hasil analisis menunjukkan bahwa bisnis belum layak, bukan berarti ide tersebut harus langsung dibuang. Bisa saja konsepnya perlu diperbaiki, target pasarnya dipersempit, biaya operasional dikurangi, atau strategi pemasarannya diubah.
Dengan kata lain, hasil studi kelayakan dapat menjadi dasar untuk mengambil keputusan: lanjut, perbaiki, atau hentikan sebelum kerugian menjadi lebih besar.
Jangan Sampai Modal Besar, tetapi Perencanaannya Kecil
Sebagai mahasiswa, kita sering mendapatkan contoh bahwa bisnis dimulai dari keberanian dan kreativitas. Hal tersebut memang benar. Namun, keberanian tanpa perencanaan dapat membuat risiko menjadi lebih besar.
Apalagi bagi mahasiswa atau generasi muda yang ingin memulai bisnis dengan modal terbatas. Kesalahan kecil dalam mengelola modal dapat memberikan dampak yang cukup besar.
Tidak perlu selalu membuat studi kelayakan yang sangat rumit. Untuk usaha sederhana sekalipun, kita dapat memulai dengan pertanyaan dasar:
Siapa konsumennya? Siapa pesaingnya? Berapa modalnya? Berapa biaya operasionalnya? Berapa perkiraan pendapatannya? Apa risikonya? Bagaimana jika penjualan tidak sesuai target? Dan apakah bisnis tersebut memiliki legalitas yang diperlukan?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut sudah dapat membantu kita melihat sebuah ide bisnis secara lebih realistis.
Pada akhirnya, menjalankan bisnis memang membutuhkan keberanian untuk mengambil peluang. Tetapi keberanian seharusnya berjalan bersama perhitungan.
Bisnis yang baik bukan hanya bisnis yang terlihat menarik ketika akan dimulai, tetapi bisnis yang mampu menunjukkan alasan mengapa ia layak untuk dijalankan.
Jadi, sebelum mengatakan “Saya mau buka usaha,” mungkin ada satu kalimat yang perlu kita tambahkan:
“Saya sudah melakukan analisis kelayakannya belum?”
Karena dalam bisnis, gagal bukan selalu karena tidak memiliki modal. Terkadang, kegagalan justru dimulai ketika seseorang mengeluarkan modal sebelum benar-benar memahami bisnis yang ingin dijalankannya.
