Generasi Smartphone Tanpa Komputer: Ketika Talenta Digital Terbentur Perangkat

Statistisi Ahli Muda di BPS Provinsi Maluku Utara
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ridwan Prayogi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada Juli 2026, nama Ibrahim Al Abrar ramai diberitakan.
Siswa kelas VI SD Negeri 3 Genengsari, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali, itu menerima surat apresiasi dari NASA setelah menemukan dan melaporkan celah keamanan pada salah satu domain publik lembaga antariksa Amerika Serikat tersebut.
Yang menarik bukan hanya siapa yang memberikan apresiasi. Ibra belajar coding dan keamanan siber secara autodidak. Ia berawal dari bermain gim di HP, kemudian belajar membuat gim sendiri, mendalami coding, hingga tertarik pada keamanan siber.
Ketika mulai serius belajar, orang tuanya mendukung dengan membelikannya PC bekas. Dari perangkat sederhana itulah Ibra kemudian menemukan dan melaporkan kerentanan melalui Vulnerability Disclosure Policy NASA. Laporan yang terverifikasi itu akhirnya mendapat apresiasi resmi dari NASA pada 9 Juli 2026.
Kisah Ibra mengingatkan kita bahwa talenta digital tidak selalu lahir dari kota besar, sekolah mahal, atau lingkungan teknologi yang serba lengkap.
Pertanyaannya justru: berapa banyak Ibra lain yang belum kita temukan?
Di sinilah persoalannya menjadi lebih luas. Indonesia memang semakin terkoneksi dengan internet. Namun, terkoneksi ke internet tidak otomatis berarti memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan menghasilkan sesuatu dengan teknologi.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, pada 2025 sebanyak 77,63 persen penduduk Indonesia berusia 5 tahun ke atas telah mengakses internet. Hampir seluruh pengguna internet tersebut mengaksesnya melalui telepon seluler.
Angka tersebut tentu menggembirakan. Namun, ada sisi lain yang layak diperhatikan: akses terhadap perangkat komputasi seperti laptop dan komputer masih jauh lebih terbatas.
Menurut BPS, penggunaan laptop atau notebook di antara pengguna internet masih berada di kisaran 10 persen, sedangkan penggunaan komputer desktop hanya sekitar 3 persen. Pada tingkat rumah tangga, kepemilikan komputer juga baru mencapai 19,94 persen.
Bagi saya, angka-angka itu menunjukkan persoalan yang sering luput dari pembicaraan tentang transformasi digital.
Kita sudah banyak membicarakan akses internet. Namun, kita belum cukup sering membicarakan akses terhadap perangkat yang digunakan untuk memproduksi pengetahuan dan keterampilan digital.
Smartphone tentu sangat berguna. Dengan satu perangkat di tangan, seorang anak dapat menonton video pembelajaran, membaca buku, mengikuti kursus, mencari informasi, bahkan mulai belajar pemrograman.
Tetapi ada batasnya.
Membuat program yang lebih kompleks, mengelola banyak berkas, menjalankan berbagai perangkat lunak, melakukan analisis data, mendesain, mengembangkan aplikasi, atau mempelajari keamanan siber secara lebih serius membutuhkan perangkat dan lingkungan kerja yang berbeda.
Karena itu, jangan sampai tingginya penggunaan internet kita baca sebagai tanda bahwa persoalan kesenjangan digital sudah selesai.
Bisa jadi seorang anak sudah memiliki akses internet, tetapi belum memiliki perangkat yang cukup untuk mengembangkan apa yang ia pelajari.
Di titik ini, kisah Ibra menjadi menarik.
Ia memang membuktikan bahwa keterbatasan fasilitas tidak selalu menghalangi seseorang untuk belajar. Tetapi keberhasilan satu anak tidak seharusnya membuat kita menganggap keterbatasan fasilitas sebagai sesuatu yang wajar.
Justru sebaliknya.
Kalau seorang anak mampu berkembang dari rasa ingin tahu, internet, dan perangkat sederhana, bayangkan berapa banyak anak lain yang mungkin bisa berkembang lebih jauh jika mereka mendapatkan komputer, pendampingan, dan ruang belajar yang memadai.
Negara lain telah lebih dulu memberikan perhatian terhadap persoalan perangkat belajar digital. Singapura, misalnya, melalui National Digital Literacy Programme memperkenalkan Personal Learning Device bagi siswa sebagai bagian dari pembelajaran digital.
Malaysia juga pernah menjalankan PerantiSiswa Keluarga Malaysia, yaitu program penyediaan tablet bagi mahasiswa dari keluarga B40. Hingga Desember 2022, laporan Kementerian Pendidikan Tinggi Malaysia mencatat lebih dari 239 ribu perangkat telah didistribusikan kepada mahasiswa dari berbagai jenis perguruan tinggi. Program itu secara eksplisit diarahkan untuk membantu pembelajaran sekaligus mengurangi kesenjangan digital.
Indonesia tentu tidak harus menyalin kebijakan negara lain. Kondisi, wilayah, anggaran, dan kebutuhan kita berbeda.
Namun, ada pelajaran yang relevan: konektivitas dan perangkat merupakan dua hal yang saling melengkapi.
Karena itu, pembicaraan mengenai literasi digital anak Indonesia perlu sedikit bergeser.
Jangan berhenti pada pertanyaan apakah seorang anak sudah bisa menggunakan internet. Kita juga perlu bertanya: apa yang bisa ia hasilkan dengan internet yang dimilikinya?
Apakah ia mempunyai komputer untuk belajar pemrograman?
Apakah sekolahnya menyediakan laboratorium yang dapat digunakan secara rutin?
Bagaimana dengan anak yang tinggal di rumah tanpa komputer?
Apakah perpustakaan, sekolah, atau ruang belajar publik dapat menjadi tempat mereka mengakses perangkat?
Kebijakan tidak harus selalu berbentuk pemberian laptop kepada setiap anak. Pilihannya bisa beragam: memperkuat laboratorium komputer sekolah, menyediakan ruang komputasi bersama di perpustakaan dan pusat belajar masyarakat, membuka akses perangkat di daerah yang kepemilikannya rendah, atau memberikan bantuan perangkat secara lebih terarah kepada siswa yang memang membutuhkannya.
Yang terpenting adalah memastikan bahwa anak yang memiliki rasa ingin tahu tidak berhenti hanya karena tidak memiliki alat untuk mencoba.
Kita sering bangga ketika seorang anak Indonesia memperoleh pengakuan dari luar negeri. Itu memang layak diapresiasi.
Tetapi setelah tepuk tangan selesai, ada pertanyaan yang lebih penting: berapa banyak anak lain yang sebenarnya memiliki rasa ingin tahu dan kemampuan serupa, tetapi tidak pernah mendapat kesempatan untuk berkembang?
Mungkin tantangan transformasi digital Indonesia bukan lagi sekadar membuat anak-anak kita terhubung dengan internet.
Tantangannya adalah memastikan mereka memiliki kesempatan untuk menggunakan koneksi itu untuk mencipta.
Jangan sampai kita melahirkan generasi yang sangat akrab dengan teknologi, tetapi hanya menjadi pengguna.
Sebab bisa jadi, di sebuah desa yang jauh dari pusat kota, ada anak lain yang sedang memegang telepon seluler, belajar sesuatu yang belum kita ketahui.
Yang ia butuhkan mungkin bukan internet yang lebih cepat, melainkan sebuah komputer, seorang pendamping, dan kesempatan untuk mencoba.
