Resensi Novel Fiksi Game Over Club (Losing Control) karya Sirhayani

Mahasiswi Tadris Bahasa Indonesia Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta
Tulisan dari Rieke Azzahrah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Data Buku Judul: Game Over Club (Losing Control) Penulis: Sirhayani Tebal buku: 292 halaman Penerbit: Pastel Books, Bandung Tahun terbit: 2022 ISBN: 978-623-5866-15-4
Novel 'Game Over Club (Losing Control)’ ini memberikan kisah komplek tentang kehidupan anak remaja, mencangkup hubungan antara teman, keluarga, dan cinta semuanya dikemas sedemikian rapi dalam buku ini. Problematika yang diangkat tak hanya kisah cinta anak sekolah, tapi juga kenakalan remaja, pola asuh orangtua, lingkungan pergaulan dan kesehatan psikologi remaja serta proses pendewasaan. Usia remaja bukan hanya sebatas kehidupan baru bagi seorang anak sebelum mencapai masa dewasa, tapi juga gerbang dari problematika kehidupan dimulai. Selain lingkungan keluarga, lingkungan pertemanan merupakan yang paling berpengaruh dalam membentuk mentalitas dan kepribadian remaja yang nantinya akan berdampak pada kehidupan remaja itu ke depannya.
Bercerita tentang kisah percintaan Clara, seorang siswi berprestasi dari SMA Tabula Rasa (STARA) dengan salah seorang siswa sekolahnya bernama Arjuna. Clara mencintai Arjuna apa adanya dan Arjuna yang menyimpan sebuah rahasia yang bahkan dirinya sendiri tak menyadarinya dari awal. Bukan hanya kisah Clara-Arjuna yang diceritakan disini, tetapi juga kisah sosok lain dalam diri Arjuna yang menamai dirinya dengan sebutan Tigris. Tigris adalah kepribadian lain yang bersemayam dalam diri Arjuna. Sosok yang merupakan kebalikan dari Arjuna sendiri. Jika Arjuna adalah tipikal siswa teladan dan sopan, maka Tigris adalah siswa berandalan yang selalu bertindak semaunya. Bagi Tigris, kehidupan seorang Arjuna sangatlah tidak menarik. Ia ingin sesuatu yang lebih mendebarkan, yang mampu memacu adrenalin dalam darahnya mendidih, hingga membuatnya gemetar oleh rasa senang yang bergejolak. Saat itulah ia bertemu dengan para siswa berandalan dari SMA Cendei D'Graham, yang beranggotakan Jovan, Kafi, Reza, Satria, Januar, Viktor, dan Kevin. Kembali lagi pada Clara yang mulai kebingungan dengan perilaku Arjuna yang berbeda-beda, terutama ketika Arjuna memintanya untuk memanggilnya ‘Tigris’ setiap kali mereka bertemu di luar sekolah. Namun, hal itu tak menyurutkan rasa suka Clara pada Arjuna, meski terkadang ia merasa bahwa Arjuna dan Tigris adalah dua pribadi yang berbeda ia tetap menyukainya dalam versi apapun, entah itu Arjuna atau Tigris. Perasaan Clara kian membuncah tatkala Tigris dalam sosok Arjuna menyatakan jika perasaan keduanya sama. Mereka sama-sama saling menyukai dan akhirnya saling berpacaran. Namun, ini bukanlah akhir penantian Clara, melainkan awal kisah baru yang takkan pernah bisa ia lupakan seumur hidupnya. Hubungan romantis yang diharapkan Clara akan ia lalui bersama Arjuna ternyata jauh dari bayangannya. Sikap Arjuna yang kian berubah-ubah membuat hati Clara dilema. Kata-kata dan sikap manis dari Arjuna kian membuatnya melayang-layang ke lautan bahagia, lalu setelahnya dihempaskan kembali dalam jurang kesengsaraan dengan sikap kasarnya ketika Tigris mengambil alih. Meski begitu, Clara yang keras kepala masih mencintai Arjuna. Arjuna juga mulai menyadari ada sosok lain yang bersemayam dalam dirinya. Pribadi yang menyebut dirinya bernama Tigris. Pribadi yang muncul karena trauma yang dialaminya ketika masih kecil oleh orang yang ia panggil ‘Mama’. Konflik memanas ketika Clara tertarik masuk dalam pertikaian kelompok Tigris dengan musuh bebuyutannya, para siswa Otomanabu yang dipimpin oleh Dika. Clara diculik sebagai umpan untuk memancing Tigris keluar. Ketika Arjuna mendapatkan berita itu, ia segera bertindak dan berakhir dirinya menjadi bahan keroyokan geng Dika. Saat itulah, Tigris mengambil alih tubuh Arjuna ketika Arjuna kehilangan kesadarannya. Ia menumbangkan geng Dika sendirian lalu membawa pergi Clara dari sana. Ia bisa saja membalas semua luka yang Dika tinggalkan di tubuhnya, tapi Tigris berpikir realistis dimana ada Clara yang menjadi beban untuknya disana. Jadi, akan lebih baik jika ia membawa Clara segera pergi dari sana. Belum cukup sampai disana, masalah kembali datang ketika geng Dika mencelakai Viktor dalam balapan hingga mobil Viktor masuk ke dalam jurang. Syukurlah nyawa Viktor masih bisa diselamatkan. Namun, karena hal ini hubungan dalam kelompok mereka mulai renggang. Apalagi dengan isu jika Tigris adalah penghianat dan selama ini ia menjadi mata-mata dari kelompok Dika membuat situasi menjadi semakin runyam. Puncaknya adalah ketika Jovan yang kelewat emosi menggorok leher Dika dengan cerurit yang dibawanya ketika tawuran yang menyebabkan Dika terluka parah. Jovan tak ingin teman-temannya ikut terbawa dalam masalah tawuran tersebut, itulah kenapa ia menyerahkan diri kepada polisi. Kisah Clara juga tak berjalan baik. Hatinya sudah lelah dengan semua perilaku Arjuna yang tak jelas. Akhirnya, Clara memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Arjuna. Arjuna juga sadar akan lebih baik jika Clara menjauh darinya, karena hanya ada bahaya yang akan menghampiri orang-orang yang berada di sekitarnya. Lalu Tigris memberikan sebuah penawaran kepada Arjuna. Ia berjanji tidak akan berbuat ulah asalkan Arjuna menyanggupi 3 permintaannya, yang menurut Arjuna bukan permintaan yang sulit selama tak merepotkan dirinya. Jadi, Arjuna menyanggupinya. Ia juga sudah tak peduli kepribadian mana yang lebih mendominasi dalam tubuhnya. Kini Arjuna hanya ingin ketenangan. 7 tahun berlalu, Clara kembali bertemu dengan Tigris. Clara sebenarnya masih menyimpan perasaan untuk Arjuna dalam lubuk hatinya. Meski tidak sebanyak dulu, tapi perasaan itu masih ada. Namun, tujuan Tigris disana hanyalah untuk meminta maaf atas semua perlakuan kasarnya pada Clara dulu sekaligus untuk berpamitan. Clara sadar ini mungkin akan menjadi pertemuan terakhir mereka, tapi ia tak bisa melakukan apapun dan hanya bisa menerimanya. Mereka sudah sama-sama dewasa sekarang dan tentu akan memiliki jalan masing-masing. Pertemuan malam itu adalah penutup kisah mereka, tapi Clara bersyukur pernah memiliki Tigris sebagai bagian dari kisahnya. Rieke Faristantya Azzahrah. Mahasiswi Tadris Bahasa Indonesia. Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta.
