Konten dari Pengguna

Haji dan Kenyataan Pahit Umat yang Belum Satu

Farah Rifa

Farah Rifa

Lifelong Learning lulusan Pendidikan Masyarakat, Universitas Pendidikan Indonesia 2019-2023

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Farah Rifa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap tahunnya, jutaan Muslim dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Tanah Suci. Dalam balutan ihram putih, perbedaan warna kulit, bahasa, dan kewarganegaraan seolah lenyap. Ibadah haji dan Idul Adha menjadi momen simbolis yang memperlihatkan persatuan global umat Islam di hadapan Allah SWT.

Namun kenyataan kembali berbicara. Tahun ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, semangat persatuan itu kembali diuji oleh perbedaan penetapan hari raya. Pemerintah Arab Saudi dan Indonesia—baik pemerintah, Muhammadiyah, maupun NU—sepakat merayakan Idul Adha pada 6 Juni 2025. Namun, Malaysia baru menggelar Salat Id pada 7 Juni. Ini menunjukkan bahwa perbedaan tidak lagi sebatas tanggal, tetapi telah menyentuh aspek pokok ibadah itu sendiri.

Narasi Persatuan yang Retak

Fenomena ini memunculkan pertanyaan mendasar: mengapa umat Islam, yang memiliki aqidah, kitab suci, dan kiblat yang sama, masih sulit menyatu bahkan dalam urusan ibadah besar seperti hari raya?

Sebagian mungkin memandang perbedaan itu sebagai hasil dari ijtihad fikih. Namun, jika ditilik secara global, perbedaan yang terus berulang ini justru memperlihatkan rapuhnya institusi pemersatu umat. Ketika tiap negara Islam berjalan sendiri berdasarkan otoritas lokal, maka keseragaman kalender dan sikap strategis umat secara kolektif menjadi sulit terwujud.

Umat Islam hari ini berjumlah hampir dua miliar jiwa, sebuah potensi luar biasa sebagai kekuatan global. Sayangnya, potensi ini terpecah oleh batas-batas geopolitik, perbedaan mazhab, dan kepentingan nasional masing-masing negara. Akibatnya, umat Islam lebih sering sibuk dengan konflik internal dan kehilangan arah dalam menghadapi isu besar dunia Islam, mulai dari Palestina, krisis Sudan, hingga bencana kemanusiaan di berbagai belahan dunia Muslim.

Tiga Pilar Persatuan: Aqidah, Syariat, dan Kepemimpinan

Idul Adha adalah momen agung ketaatan, sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS. Namun, ketaatan itu semestinya tidak berhenti pada ibadah pribadi. Islam adalah sistem hidup yang lengkap, yang mengatur tak hanya soal ibadah, tetapi juga urusan sosial, hukum, ekonomi, hingga politik.

Persatuan sejati tidak cukup hanya mengandalkan momen sakral seperti haji. Diperlukan sistem kehidupan yang menyatukan arah umat secara menyeluruh—yakni dengan menjadikan Islam sebagai satu-satunya dasar pengatur kehidupan.

Rasulullah SAW bersabda:

"Perumpamaan kaum mukminin dalam kasih sayang itu seperti satu tubuh; jika satu bagian sakit, seluruh tubuh ikut merasakan." (HR Muslim)

Persatuan ini hanya akan kokoh bila bertumpu pada tiga hal:

  1. Aqidah Islam sebagai ikatan utama antarumat, melampaui suku, bangsa, dan bahasa.

  2. Syariat Islam sebagai hukum yang mengatur seluruh aspek kehidupan secara menyeluruh dan adil.

  3. Kepemimpinan tunggal umat Islam yang menaungi seluruh kaum Muslim, seperti dicontohkan oleh Nabi dan para penerus beliau dalam sejarah Islam.

Sejarah membuktikan, selama ada kepemimpinan bersama dalam dunia Islam, umat mampu bersuara satu. Kalender Islam diseragamkan, kebijakan luar negeri konsisten, dan kehormatan umat dijaga oleh pemimpin global yang berani bertindak. Tak ada negara Muslim yang berani menjalin normalisasi dengan penjajah Palestina, selama ada pemimpin yang tegas melindungi kehormatan Islam.

Saatnya Umat Memiliki Arah yang Sama

Foto Solat Idul Adha gratis oleh Kafeel Ahmed: https://www.pexels.com/id-id/foto/sholat-idul-fitri-12049056/

Maka, jika umat Islam benar-benar mendambakan persatuan hakiki—bukan hanya seremonial saat ibadah haji atau hari raya—maka diperlukan sistem kepemimpinan Islam global yang menyatukan seluruh umat di bawah satu visi dan aturan yang sama, yakni Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah, bukan yang lain. Sistem pemerintahan Islam sajalah yang Allah Swt. perintahkan dan Rasulullah saw. contohkan yang akan mampu mempersatukan kaum muslim di seluruh dunia.

Sistem ini bukan sekadar romantisme sejarah, tetapi realitas yang pernah terbukti mampu menyatukan dunia Islam secara politik, hukum, dan peradaban. Bukan dengan nasionalisme yang membelah, tapi dengan menjadikan Islam sebagai identitas utama yang menyatukan.

Tanpa adanya satu sistem kepemimpinan yang memayungi umat, persatuan seperti di Arafah akan terus menjadi kenangan singkat—indah namun cepat berlalu. Dan umat Islam akan terus berjalan dalam perbedaan yang tak pernah benar-benar terselesaikan