Konten dari Pengguna

Magister Fikom Universitas Mercu Buana Gelar Webinar Bertema Badai PHK Media

Seputar Mahasiswa

Seputar Mahasiswa

Info seputar kegiatan mahasiswa ter-up-to-date

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Seputar Mahasiswa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Badai pemutusan hubungan kerja (PHK) yang melanda industri media dalam beberapa tahun terakhir menjadi sorotan dalam webinar bertajuk “Badai PHK Terjang Industri Media, Salah Siapa?” yang diselenggarakan oleh mahasiswa Jurusan Media Industry and Business Magister Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana Angkatan 45. Acara ini merupakan bagian dari mata kuliah Ekonomi Politik Media yang dibimbing oleh dosen Heru Budianto, M.Si., dan dipancarkan langsung dari studio Mercu TV, Meruya, Jakarta Barat.

Magister Fikom Universitas Mercu Buana Gelar Webinar Bertema Badai PHK Media
zoom-in-whitePerbesar

Webinar yang dihadiri oleh total 261 peserta—131 via Zoom dan 130 melalui YouTube—menghadirkan tiga narasumber dari lintas sektor komunikasi dan industri media, yaitu Dr. Ir. Ismail MT (Sekjen Komdigi), Agung Cahyono atau Acay (Ketua Asosiasi Sutradara TV Indonesia), dan Associate Professor Afdal Makkuraga Putra, M.Si (Lektor Kepala Magister Ilmu Komunikasi UMB).

Dalam sambutannya, Ketua Panitia Yakub Priyatamaatmaja S.Ikom, menyampaikan bahwa tema ini dipilih untuk menjadi ruang refleksi bersama, tanpa harus mencari kesalahan salah satu pihak dan mencari kambing hitam.

Associate Profesor Dr. Heri Budianto, S.Sos, Msi, selaku dosen pengampu mata kuliah Ekonomi Politik Media sekaligus Ketua Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Mercu Buana, menyatakan bahwa dinamika ekonomi politik media tidak bisa dilepaskan dari perubahan lanskap digital dan pola konsumsi audiens.

“Ini adalah kontribusi dari kalangan akademisi untuk membuka ruang diskusi dan mencari solusi dari situasi sulit yang dihadapai oleh industry media saat ini," tutur Heri Budianto.

Ketiga narasumber memberikan pandangan berimbang namun kritis. Dr. Ir. Ismail MT, Sekjen Komdigi yang mewakili Wakil Menteri Komdigi menjelaskan bahwa badai PHK karena sunset industri di media televisi, disebabkan oleh perubahan lifestyle dengan adanya teknologi digital.

Fenomena global ini mengubah bisnis model, diantaranya dengan pergeseran penempatan iklan. “Akan nada titik keseimbangan baru, dan para jurnalis harus menyesuaikan dan meningkatkan kompetisinya untuk melakukan adaptasi di konteks dunia baru," papar Ismail.

Menurut Ismail saat ini media mainstream sebenarnya masih menjadi acuan karena masih menerapkan etika penyiaran disbanding konten-konten di dunia digital. Untuk itu pemerintah berupaya agar kondisi ini tidak berdampak terlalu berat terutama untuk para jurnalis dan karyawan media. Saat ini Kementerian komdigi dan Kementerian tenaga kerja, sedang merumuskan upaya-upaya konstruktif untuk menyikapi gelombang PHK ini ada jalan keluarnya.

Salah satu mengingatkan pada industri televisi dan media mengindahkan dan tidak semena-mena melakukan PHK. Pemerintah juga akan melakukan penyesuaikan di level UU agar terjadi kompetisi yang sehat dan berimbang antara media digital dan media mainstream (konvensional). Karena standar kualitas informasi media konvensional masih lebih diakui kebenarannya.

“Perubahan adalah sebuah keniscayaan, kita tidak bisa membendung perubahan teknologi. Pemerintah akan menjadi lokomotif dalam melakukan upaya cepat melakukan review untuk para stake holder dan masyarakat”, tegas Ismail.

Associate Prof. Afdal Makkuraga Putra, M.Si., dalam paparannya juga mengatakan bahwa disrupsi ini adalah fenomena global. Hari ini fakta menunjukkan bahwa konsep media juga berubah, dulu media konvensional itu terlembaga, namun hari ini orang bisa melakukan secara individual dan user friendly, seperti yang dilakukan oleh para konten kreator. Namun perubahan pola konsumsi ini, di satu sisi tidak memiliki jaring pengaman yang kuat melindungi pekerja. Sehingga ketika terjadi tekanan pada industri maka yang menjadi korban pertamakali adalah karyawan namun Afdal masih meyakini, bahwa revolusi komunikasi ini sesuai perjalanan sejarah, akan mencapai keseimbangan sosialnya yang baru. “Yang berubah adalah media (platformnya), namun profesinya akan tetap ada dengan banyak peluang di sektor komunikasi," papar Afdal.

Sementara itu, Agung Cahyono menyoroti nasib para pekerja kreatif yang terdampak. Dalam paparannya yang berjudul “Apa Kabar Televisi?”, Agung Cahyono yang juga sering menyutradai event olahraga internasional ini memaparkan bahwa tidak bisa dipungkiri televisi masih menjadi media yang efektif untuk menjangkau pelosok Indonesia.

“Senjakala industri televisi sudah terjadi, namun yang paling penting bahwa kita bisa melewatinya dengan indah, dan tetap beradaptasi dengan kemajuan zaman. Menurut Agung, ada banyak peluang yang masih bisa diambil oleh para pekerja media, diantaranya dengan menghasilkan event-event seperti pagelaran olahraga ataupun konser dengan pendekatan yang sinematik. Peran pemerintah untuk memikirkan reward system yang baik dan fair untuk para pekerja media juga penting.

Agung yang merupakan Dosen IMDE juga menyinggung kehadiran AI, “AI harus merespon sebagai pendukung, bukan sebagai pengganti manusia sebagai pencipta kreativitas. Semua membutuhkan kerja bersama dari berbagai stake holder untuk mendukung dan memastikan secara hukum dan ekonomi keberadaan para pekerja media ini,” ungkapnya.

Webinar ini tidak hanya memberikan pemahaman akademik, tetapi juga membuka ruang diskusi yang membangun antara praktisi, akademisi, dan mahasiswa mengenai masa depan industri media di Indonesia.