Upaya Mengurangi Krisis Literasi Tingkat Pelajar

seorang penulis suka desain grafis
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Muhammad Rifai Jafar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan


Upaya Mengurangi Krisis Literasi Tingkat Pelajar (Studi Kasus Pelajar SMP Negeri 2 Sukodono, Kabupaten Sragen)
UNESCO dan Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia pada tahun 2023, tingkat minat membaca di kalangan masyarakat Indonesia hanya sebesar 0,001 persen, atau dalam kata lain, hanya 1 dari setiap 1.000 orang Indonesia yang menunjukkan minat membaca. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Program of International Student Assessment (PISA) pada tahun 2019, minat membaca di Indonesia berada pada peringkat ke-62 dari 70 negara yang disurvei.
Indonesia termasuk dalam 10 negara dengan tingkat literasi yang paling rendah di antara negara-negara yang terlibat dalam survei tersebut. keterbatasan akses terhadap bahan bacaan, kurangnya kesadaran akan pentingnya literasi, serta perubahan situasi budaya yang cenderung menjauhkan masyarakat dari kegiatan membaca. Literasi baca merupakan salah satu indikator penting dalam pembangunan suatu negara. Kemampuan membaca yang baik memungkinkan individu untuk mengakses informasi, memperoleh pengetahuan, dan berpartisipasi aktif dalam kehidupan.
Dunia Pendidikan sekarang banyak siswa-siswi yang kurang minat dalam literasi membacanya khususnya. Jarang ada seorang yang giat membaca atau pergi ke perpustakan, bahkan hari ini pelajar buta dengan dunia luar. Kebanyakan mereka seneng dengan hal yang instan atau mudah. Pada dasarnya pelajar harus peka dengan lingkungan sekitarnya dan harus dituntut serba bisa dalam pandangan masyarakat umum.
Salah satu isu strategis yang perlu ditangani adalah literasi siswa yang rendah. Rendahnya tingkat literasi siswa dapat menjadi hambatan serius dalam kemampuan mereka untuk memahami informasi, menganalisis konsep-konsep kompleks, dan berpikir kritis. Tanpa kemampuan literasi yang memadai, siswa akan kesulitan dalam memperoleh pengetahuan yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan di masa depan, baik dalam konteks akademik maupun kehidupan sehari-hari.
Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan pendekatan secara menyeluruh yang mencakup perbaikan kurikulum, pelatihan guru yang efektif dalam mengajar literasi, penyediaan sumber daya yang memadai, serta kolaborasi atau kerja sama antara sekolah, orang tua, dan komunitas untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pembelajaran.
Data yang ditemukan pada Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah tahun 2023 termuat bahwa Kabupaten Sragen Menduduki Peringkat 29 Dari 38 Kota/Kabupaten yang ada di Provinsi Jawa Tengah.
Dalam Program “Sragen Merdeka Membaca, Membumikan Literasi di Bumi Sukowati”. Tujuan program ini adalah memberikan kemerdekaan semua kalangan masyarakat untuk menikmati layanan perpustakaan tanpa terkendala waktu. Sebagai bentuk komitmen Disarpus Sragen menjadikan perpustakaan sebagai pusat kegiatan belajar masyarakat, mereka membuka layanan selama 72 jam setiap pekannya. Dengan layanan ekstra itu para pelajar masih mempunyai kesempatan untuk mampir ke perpustakaan setelah pulang sekolah. Para pekerja pun masih bisa ke perpustakaan di luar jam kerja.
Melalui Sragen Merdeka Membaca, Disarpus juga berupaya membuka akses membaca di seluruh wilayah Kabupaten Sragen dari wilayah kota sampai ke pelosok. Sementara ini sudah ada sejumlah perpustakaan di kecamatan seperti di Gemolong, Gondang, Jenar, dan Taman Sukowati Sragen. Perpustakaan di Gemolong dan Gondang banyak peminatnya. Ini karena koleksi bacannya beragam dan bangunannya dua pun besar, dua lantai. Berbeda dengan perpustakaan di Kecamatan Jenar yang masih tahap pengembangkan. Fasilitasnya belum selengkap di Gemolong dan Gondang.
Perpustakaan Kecamatan Gemolong yang terletak di Jl. Soetomo Nomor 90 ini diresmikan penggunaanya oleh Bupati Sragen, Agus Fatchur Rahman, pada tanggal 23 April 2016. Perpustakaan ini memiliki gedung dua lantai seluas 320m² yang berdiri di atas lahan 600 m². Di sini terdapat ruang koleksi, ruang baca, ruang referensi, ruang terbitan berkala, ruang pengolahan, ruang khusus anak, aula, mushola, dan toilet.
Sementara itu Perpustakaan Kecamatan Gondang berada di Jl Wisma Praja No.1. Gedung perpustakaan ini diresmikan Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati, pada tanggal 17 Oktober 2008. Perpustakaan Kecamatan Gondang juga memiliki bangunan dua lantai dengan luas 320 meter persegi. Fasilitasnya serupa dengan Perpustakaan di Gemolong
Salah satu sekolah yang ada di kabupaten sragen telah melaksanakan progam literasi yaitu SMP Negeri 2 Sukodono dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya memberikan pelayanan pada siswanya di bidang pendidikan. Dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya, SMP Negeri 2 Sukodono melaksanakan beberapa program dan kegiatan. Salah satunya adalah program literasi digital dengan hasil meningkatnya literasi siswa. Dalam melaksanakan program ini, SMP Negeri 2 Sukodono mencoba melakukan inovasi dengan membuat SiBaKuTenSe (Sistem Baca Buku Teman Sebaya).
SiBaKuTenSe (Sistem Baca Buku Teman Sebaya) merupakan sarana penting untuk meningkatkan literasi membaca masyarakat. Rapor Pendidikan menjadi salah satu potret Pendidikan saat ini di Indonesia. Rapor Pendidikan didapatkan dari kegiatan asesmen nasional (AN). Pada tahun 2021, SMP Negeri 2 Sukodono telah mengikuti kegiatan tersebut. Hasil Asesmen Nasional SMP Negeri 2 Sukodono baik untuk literasi maupun menganalisis informasi yang masih rendah. SMP Negeri 2 Sukodono ingin mengatasi masalah yang ada terutama dalam Literasi siswa yang rendah dengan menciptakan inovasi digital bernama SiBaKuTenSe, Adanya Aplikasi ini bertujuan untuk meningkatkan minat baca anak di SMP Negeri 2 Sukodono.
