Uang dan Seni Berbahagia

Mahasiswa Universitas Negeri Malang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Rifal Fadhilah Suryansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perdebatan bahwa uang dapat membuat seseorang bahagia sering kita dengar di berbagai jenis lapisan masyarakat. Dari perdebatan tersebut sulit bagi kita untuk menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Pendapat mengenai uang dan kebahagiaan ini sangat subjektif dan sulit bagi kita untuk membuat pernyataan pasti apakah banyak uang menjamin hidup bahagia.
Bagi sebagian orang, memiliki banyak uang adalah sumber kepuasan dan kebahagiaan. mereka senang bisa membeli apapun yang mereka inginkan, bepergian ke berbagai tempat yang eksotis, dan menikmati barang dan jasa mewah. Bagi orang-orang ini, mengumpulkan kekayaan dan harta benda merupakan tujuan utama dalam hidup dan mereka percaya bahwa itu akan memberikan kebahagiaan untuk mereka.
Namun, ada pula orang yang berpendapat bahwa uang tidak sama dengan kebahagiaan. Mereka berpendapat bahwa orang-orang yang memprioritaskan menghasilkan uang di atas segala-galanya seringkali berakhir dengan perasaan hampa jika tidak terpenuhi. Sebab, mereka mengabaikan aspek lain dalam kehidupan yang juga penting, seperti hubungan dengan orang-orang yang dicintai, hubungan sosial, dan hubungan dirinya dengan sang pencipta.
Dalam banyak kasus, memiliki banyak uang justru dapat menimbulkan masalah dan stres, bukan kebahagiaan. Misalnya, orang kaya mungkin menjadi sasaran penipu atau pencuri. Mereka mungkin juga mengalami perasaan cemas terkait dengan kekayaan mereka, atau berjuang untuk menemukan hubungan sosial yang tulus tanpa memandang status keuangan yang dimiliki.
Banyak orang juga berpikir bahwa ada batasan jumlah uang yang dapat berkontribusi pada kebahagiaan, maksudnya di luar ambang pendapatan tertentu orang tidak menunjukkan tingkat kebahagiaan atau kepuasan hidup lebih tinggi. Dengan kata lain, begitu kebutuhan pokok terpenuhi, manfaat uang cenderung mendatar.
Berbicara mengenai kebahagiaan, beberapa orang berpendapat bahwa kebahagiaan lebih erat kaitannya dengan tujuan hidup dan pemenuhan daripada kekayaan materi. Seseorang yang merasa bergairah dengan pekerjaan mereka, hubungan sosial, atau hobi dan kegiatan yang disukai cenderung memiliki tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi walaupun mereka tidak memiliki banyak uang.
Selain itu, patut bagi kita untuk mempertimbangkan bahwa mengejar uang kadang bisa membuat kita harus membayar lebih. Orang-orang yang memprioritaskan karirnya daripada kehidupan pribadinya mungkin kehilangan pengalaman berharga dengan keluarga, teman-temannya, atau mungkin mengalami kelelahan dan stres karena bekerja berjam-jam.
Disisi lain, memiliki stabilitas keuangan dalam jumlah tertentu pastinya dapat berkontribusi besar pada rasa aman dan ketenangan pikiran. Misalnya, orang yang mampu membayar tagihan tepat waktu, menabung untuk keadaan darurat, dan membeli kebutuhan pokok seperti makanan dan tempat tinggal cenderung mengalami lebih sedikit stres dan kecemasan daripada mereka yang berjuang melawan kemiskinan atau utang.
Selain itu, memiliki uang yang cukup banyak memberikan peluang yang cukup besar pula dalam pertumbuhan dan perkembangan pribadi. Orang yang aman dalam finansial mungkin memiliki lebih banyak pilihan untuk pendidikan dan peningkatan kualitas diri yang selanjutnya akan menghasilkan pemenuhan kepuasan hidup yang lebih besar.
Hubungan antara uang dan kebahagiaan itu cukup rumit. Meskipun memiliki tingkat stabilitas dan uang yang banyak tentu dapat berkontribusi pada kesejahteraan, namun mengejar kekayaan sebagai tujuan itu sendiri tidak mungkin mengarahkan kita pada kebahagiaan yang langgeng.
Pada akhirnya, kunci menuju kehidupan yang memuaskan yang mengarah pada kebahagiaan kemungkinan besar melibatkan kombinasi yang stabil antara uang, hubungan sosial, serta hubungan dengan Tuhan.
