Konten dari Pengguna

Percik Api Revolusi di Cibinong

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rifaldi Apinino tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Posisi bertempur pasukan Republik di wilayah sekitar Bogor. Seri laporan foto Buitenzorg tahun 1947. Sumber: Nationaal Archief Public Domain
zoom-in-whitePerbesar
Posisi bertempur pasukan Republik di wilayah sekitar Bogor. Seri laporan foto Buitenzorg tahun 1947. Sumber: Nationaal Archief Public Domain

Sebutir timah panas menembus bahunya. Seketika tubuhnya limbung, tetapi ia tak membiarkan diri roboh. Dengan langkah tertatih, ia menjauh dari kepungan pertempuran, menahan nyeri yang terus mengalir bersama darah di balik pakaiannya. Di antara kebun dan jalan penghubung Batavia (Jakarta) - Buitenzorg (Bogor), ia berusaha mencari perlindungan sebelum akhirnya berpapasan dengan patroli Palang Merah Internasional. Para petugas mengangkat tubuhnya dan membawa ke rumah sakit terdekat. Dokter berjaga segera membersihkan luka dan mengeluarkan proyektil di bahunya. Beruntung, muntahan peluru dari serdadu Belanda tidak sampai menembus paru-paru. Nyawanya terselamatkan.

Gerilyawan itu masih berusia belia. Namanya tak pernah tercatat dalam sejarah. Satu-satunya jejak tentang dirinya muncul dalam berita singkat di surat kabar De Nieuwe Nederlander edisi 7 Juni 1946. Dari secarik berita itulah diketahui bahwa usianya baru sembilan belas tahun dan merupakan anggota gerilyawan laskar rakyat di Cibinong, daerah penghubung Jakarta dan Bogor.

Cibinong: Jalur Penghubung Dua Kota

Wilayah penghubung antara Jakarta dan Bogor menjelma jadi lintasan perang gerilya selama masa revolusi Indonesia (1945-1949). Titik panasnya terletak di Cibinong, sebuah daerah penting jalur penghubung pusat kota dengan kawasan penopangnya (Bogor). Posisi geografis ini menjadikan Cibinong punya arti strategis bagi Belanda dan pejuang Republik.

Sejak masa kolonial, Cibinong merupakan jalur sekaligus sumber berbagai komoditas untuk menopang kehidupan di Batavia. Pada buku Ommelanden: Perkembangan Masyarakat dan Ekonomi di Luar Tembok Kota Batavia 1684-1740, dijelaskan bahwa Batavia mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pangan lokal dan pasokan bagi kapal-kapal yang singgah di pelabuhan. Karena itu, pemerintah kolonial mengembangkan wilayah-wilayah di luar tembok kota sebagai daerah produksi pertanian. Berbagai komoditas seperti padi, tebu, sayur-mayur, kelapa, dan gula dipasok dari kawasan pinggiran, termasuk Cibinong yang berjarak kurang dari 60 kilometer dari pusat kota.

Suplai komoditas pangan dari Cibinong dan daerah sekitar terus berlangsung hingga awal abad ke-20. Hasil bumi yang diperdagangkan memang mengalami perubahan mengikuti perkembangan ekonomi kolonial, tetapi fungsi kawasan ini sebagai daerah penyangga Batavia tetap bertahan. Jalan-jalan penghubung diperbaiki, sarana transportasi berkembang, dan arus manusia maupun barang semakin ramai. Cibinong tumbuh sebagai saraf penghubung antara pusat pemerintahan dengan wilayah pedalaman di selatan.

Pertemuan pejuang Republik dengan tentara Belanda dalam perencanaan genjatan senjata di wilayah sekitar Bogor. Seri sektor tahun 1948. Sumber: Nationaal Archief Public Domain

Kedatangan tentara Jepang pada 1942 mematikan roda pemerintahan Hindia Belanda. Seluruh wilayah berhasil diduduki, termasuk Cibinong. Pada saat yang sama, gagasan mengenai perlunya terbebas dari belenggu penjajahan terus meluas. Di Cibinong, berbagai organisasi aktif menyebarkan ide kemerdekaan Indonesia. Mereka diantaranya Perhimpunan Indonesia (PI) wilayah Bogor, Partai Nasional Indonesia (PNI), dan berbagai organisasi Islam yang berperan sebagai katalisator kemerdekaan Indonesia sampai ke tingkat desa.

Pada masa pendudukan militer Jepang, rakyat Indonesia sangat dimanfaatkan untuk kepentingan perang. Mobilisasi dilakukan sampai tingkat desa. Salah satu programnya adalah seinendan (barisan pemuda). Pemerintah militer Jepang sangat menyadari kekuatan potensial pemuda. Mereka yang berusia 14-18 tahun dilatih untuk melakukan berbagai kegiatan sukarela, seperti pembersihan jalan, pembangunan irigasi, dan peningkatan produksi. Memasuki pertengahan tahun 1943, barisan pemuda mulai diberikan latihan-latihan kemiliteran.

Semua upaya mobilisasi rakyat dilakukan Jepang untuk mendukung kepentingan perang mereka. Mobilisasi massal pemuda ke berbagai wadah kemiliteran jadi hal lumrah pada masa itu. Menurut Ben Anderson dalam bukunya Revolusi Pemoeda: Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944-1946, pelatihan militer yang diterima pemuda memiliki nilai penting pada pembentukan identitas politik yang sangat berarti setelah memasuki tahun proklamasi Indonesia (hal. 60). Tidak heran jika pada 1945, tahun awal revolusi Indonesia, banyak pemuda yang menjadi aktor perang termasuk pemuda sembilan belas tahun yang tertembak saat bergerilya di Cibinong.

Bara Perlawanan di Cibinong-Citeureup

Berita kalahnya Jepang pada Perang Dunia kedua telah membuka jalan kembalinya Belanda ke Indonesia. Slogan Pax Neerlandica dikumandangkan, sebuah seruan didirikannya kembali pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Maka pada September 1945, Netherlands Indies Civil Administration (NICA) datang dan bersiap menata ulang pemerintahan yang menginduk ke negeri Belanda.

Sepanjang Oktober-September 1945, serdadu-serdadu Belanda bersama sekutu tiba di berbagai wilayah Indonesia. Pendudukan kembali oleh Belanda berlangsung cepat terutama di wilayah Indonesia Timur. Menurut sejarawan Indonesianis M.C. Ricklefs, hal tersebut terjadi lantaran penduduk di wilayah timur tidak begitu anti-Belanda sekaligus wilayah yang memiliki nilai ekonomi besar bagi pemerintah kolonial. Pada beberapa wilayah ketegangan-ketegangan tidak bisa terhindarkan, terutama di Jawa dan Sumatera. Ketegangan tersebut di beberapa daerah pecah menjadi bentrokan bersenjata, seperti yang terjadi di Surabaya, Ambarawa, dan Medan pada penghujung tahun 1945.

Di Jakarta pertempuran hanya sedikit terjadi. Kehadiran pihak sekutu yang lebih awal dan lebih kuat sekaligus cara tokoh-tokoh pergerakan yang berusaha tertib agar mendapat pengakuan diplomatik merupakan beberapa faktornya. Tetapi di pinggiran Jakarta banyak bentrokan terjadi, termasuk di Cibinong.

Tentara Belanda atau Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL) melalui laporan surat kabar mengklaim bahwa pada bulan Maret 1946 situasi Jakarta dan sekitarnya telah mereka kuasai. Tepatnya pada 31 Maret 1946, wilayah Cibinong telah diduduki pasukan KNIL tanpa perlawanan dari pihak republik. Pada laporan tersebut, yang termuat dalam Het Dagblad edisi 2 April 1946, tertulis bahwa penguasaan KNIL atas wilayah Cibinong memberikan dampak peningkatan pasokan komoditas pertanian terutama hortikultura ke wilayah Jakarta.

Klaim penguasaan wilayah Cibinong oleh tentara Belanda ternyata tidak berlangsung lama. Sebulan berikutnya terjadi penyerbuan area bivak militer pasukan Belanda oleh pejuang republik. Peristiwa ini berlangsung pada sore 5 April 1946, termuat dalam surat kabar Het Dagblad 8 April 1946 sebanyak 300 pejuang, mayoritas diisi oleh pemuda, bersenjata senapan mesin dan karabin melakukan penyerangan hingga terjadi pertempuran sengit.

Seorang koresponden surat kabar De Nieuwe Nederlander menulis jika penyerangan terjadi pada sore hari saat mobil patroli lapis baja tentara Belanda tengah menyusuri jalan Cibinong menuju Citeureup. Patroli ini bertujuan untuk melakukan pengintaian terhadap posisi pejuang republik yang menurut informasi mata-mata terdapat di area tersebut. Saat mobil hendak kembali ke bivak militer, mesinnya mendadak mati. Pada situasi itu, para pejuang muncul dari balik rimbunnya pepohonan di pinggir jalan dan mulai menembaki mobil patroli lapis baja milik Belanda.

Mobil patroli Belanda segera meminta bantuan. Saluran radio terhubung dengan pasukan di bivak. Tidak lama, pasukan Belanda datang melakukan serangan balik terhadap pejuang republik. Pertempuran tidak dapat dihindari. Seorang koresponden surat kabar De Nieuwe Nederlander menuliskan jika para pejuang republik melakukan penyerangan menggunakan senjata yang kualitasnya lebih baik ketimbang milik tentara Belanda. Meski demikian, serbuan mendadak itu berhasil dipukul mundur Belanda. Para pejuang republik masuk ke dalam hutan dan mundur menyeberangi sungai.

Koresponden surat kabar De Nieuwe Nederlander 7 Juni 1946 menulis jika pertempuran itu memakan beberapa korban. Dari pihak Belanda, seorang sersan tewas dan tujuh orang terluka. Sedangkan di pihak republik, korban pertama diketahui adalah seorang pemuda berusia sembilan belas tahun yang diselamatkan Palang Merah Internasional. Selain itu, koresponden surat kabar De Nieuwe Nederlander–yang kemungkinan besar adalah juga tentara Belanda–mengklaim jika tujuh puluh orang tewas di pihak republik, empat di antaranya adalah tentara Jepang yang membelot dan ikut membela republik, menurut keterangan mata-mata Belanda.

Beberapa hari setelah peristiwa pertempuran, tentara Belanda kembali melakukan penyisiran wilayah dari ‘ancaman’ pihak republik. Jalur distribusi bahan pangan dari Bogor menuju Jakarta harus dipastikan aman oleh Belanda. Penyisiran dilakukan menuju arah Citeureup. Di sana tentara Belanda memasang tenda sementara, tepatnya di kawasan pasar. Koresponden surat kabar yang ikut dalam rombongan tentara Belanda menulis, jika di kawasan Pasar Citeureup banyak tembok dan atap bangunan yang memuat mural dengan cat putih berisi slogan-slogan nasionalis. Bangunan tersebut kemudian dirobohkan hingga terlihat pemandangan indah ke dataran tinggi di belakangnya (De Nieuwe Nederlander 7 Juni 1946).

Tahanan politik di Penjara Paledang, Bogor. Seri tidak diketahui tahun 1946-1947. Sumber: Nationaal Archief Public Domain

Dibangunnya bivak militer Belanda di kawasan pasar Citeureup menandai awal razia dan penangkapan di wilayah tersebut. Seorang mata-mata Belanda memberikan informasi terkait lokasi para pejuang. Akibatnya, beberapa pejuang ditangkap, mereka mayoritas merupakan anggota Tentara Rakyat Indonesia (TRI), sebagian merupakan laskar rakyat. Surat Kabar De Nieuwe Nederlander 7 Juni 1946 menulis jika beberapa orang pejuang republik yang disergap dan hendak ditangkap melakukan perlawanan. Karena tanpa persiapan perang, beberapa orang pejuang itu melawan dengan hanya bermodalkan kelewang. Pihak Belanda yang menulis kejadian ini berargumen jika perlawanan pejuang republik menggunakan kelewang akibat adanya keyakinan soal ilmu kebal senapan yang dimiliki para pejuang republik. Meski demikian, tentara Belanda pada akhirnya mampu menangkap seratus lima puluh sembilan orang pada operasi penyergapan tersebut.

Setelah pertempuran dan penangkapan besar-besaran terhadap pejuang republik, tentara Belanda mengklaim jika wilayah Cibinong dan Citeureup berhasil diduduki sepenuhnya. Klaim ‘keberhasilan’ tentara Belanda terjadi pada 10 April 1946, termuat dalam surat kabar Ons Noorden 12 April 1946. Pernyataan ini jamak dijumpai pada surat kabar Belanda, padahal faktanya para pejuang republik yang belum tertangkap masih melakukan perlawanan, meski dilakukan secara tidak terbuka. Misalnya saja yang terjadi pada 6 Mei 1946, sebuah patroli tentara Belanda diserang oleh pemuda pejuang republik (Het Dagblad 8 Mei 1946). Meski Belanda menyatakan tidak mengalami kerugian, peristiwa tersebut memberikan penegasan jika klaim penguasaan wilayah Cibinong-Citeureup oleh Belanda tidak benar.

Perlawanan ini terus berlanjut dan menjadi fakta sejarah jika wilayah Cibinong-Citeureup tidak sepenuhnya dikuasai Belanda. Fakta juga mengatakan jika peristiwa revolusi di Cibinong-Citeureup tidak banyak diketahui masyarakat yang bermukim di kedua wilayah tersebut saat ini. Di balik pesatnya pembangunan Cibinong, terdapat satu monumen perjuangan yang tidak memberi banyak keterangan soal peristiwa revolusi. Sedangkan di Citeureup saat ini hanya ada nama “Jalan Pahlawan”, jalan yang dilalui para pejuang gerilya pada masa revolusi dahulu. Ada banyak yang tidak tercatat sejarah, di antaranya nama seorang pemuda gerilyawan yang tertembak di Cibinong saat revolusi dan berbagai peristiwa gerilya di pinggiran Jakarta.

Perlawanan tersebut menunjukkan bahwa Cibinong dan Citeureup tidak pernah sepenuhnya berada dalam kendali Belanda. Namun, sejarah perlawanan itu kini tidak banyak diketahui oleh masyarakat yang bermukim di kedua wilayah tersebut. Di tengah pesatnya pembangunan Cibinong, berdiri sebuah monumen perjuangan yang belum banyak memberikan keterangan mengenai peristiwa revolusi di wilayah ini. Sementara itu, di Citeureup, jejak perjuangan tersebut tidak tersisa. Hanya sebuah nama “Jalan Pahlawan,” yang mengingatkan pada rute para pejuang gerilya pada masa revolusi. Masih banyak kisah yang luput dari catatan sejarah, termasuk nama seorang pemuda berusia sembilan belas tahun yang tertembak dalam pertempuran di Cibinong. Namanya tidak diketahui, tetapi secarik berita di surat kabar De Nieuwe Nederlander menjadi bukti bahwa ia—dan para pemuda lain yang berjuang di sepanjang jalur Cibinong dan Citeureup—pernah mempertaruhkan nyawa dengan bergerilya di pinggiran Jakarta.