Konten dari Pengguna

Merawat Bahasa, Merawat Jati Diri Bangsa

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rifani Aulia Rahma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suatu sore, saya mendengar percakapan dua remaja di sebuah kafe. Kalimat mereka nyaris tak lagi berbahasa Indonesia utuh, separuh Inggris, separuh singkatan yang hanya dipahami kalangan mereka sendiri. Saya tidak sedang menghakimi. Bahasa memang selalu berubah, dan generasi muda punya hak menciptakan gaya bicaranya sendiri. Namun percakapan itu membuat saya bertanya, masihkah bahasa Indonesia menjadi cermin yang jujur bagi siapa kita sebagai bangsa?

Pepatah lama mengatakan, "bahasa menunjukkan bangsa." Ungkapan ini bukan sekadar nasihat usang peninggalan generasi lampau. Ia adalah pengingat bahwa cara sebuah bangsa berbicara mencerminkan cara bangsa itu berpikir, menilai, dan memandang dunia. Ketika bahasa berubah, sesungguhnya ada sesuatu yang lebih dalam sedang bergeser, yaitu identitas kolektif kita.

Bahasa sebagai Cermin Nilai

Cobalah perhatikan kosakata yang lahir dari bumi Indonesia seperti gotong royong, tepa selira, dan musyawarah mufakat. Kata kata ini sulit diterjemahkan secara utuh ke bahasa lain karena ia bukan sekadar istilah, melainkan konsep hidup yang lahir dari cara masyarakat kita bekerja sama, saling menghargai, dan mengambil keputusan bersama. Ini bukan kebetulan. Bahasa Denmark punya hygge, konsep kenyamanan hangat yang mencerminkan cara hidup masyarakatnya. Bahasa Jepang punya ikigai, tentang alasan untuk hidup. Setiap bangsa menitipkan filosofinya lewat kata.

Artinya, ketika sebuah bahasa memiliki kosakata yang kaya untuk menggambarkan kebersamaan, itu menunjukkan bangsa yang menjunjung tinggi nilai kolektif. Bahasa Indonesia, dengan segala kekayaan istilahnya tentang kekeluargaan dan kebersamaan, adalah bukti hidup dari karakter bangsa ini.

Ketika Bahasa Mulai Tergerus

Tetapi mari kita jujur pada kenyataan hari ini. Bahasa Indonesia yang baik dan benar kian jarang terdengar, tergeser oleh campur kode bahasa asing, bahasa gaul, dan singkatan digital yang lahir dan mati dalam hitungan bulan. Ruang publik, dari nama gedung perkantoran hingga judul konten media sosial, dipenuhi istilah asing, bahkan ketika padanan bahasa Indonesianya tersedia dan sama efektifnya.

Fenomena ini bukan semata soal tata bahasa yang keliru. Ini soal kepercayaan diri kita sebagai bangsa. Ada semacam anggapan tak terucap bahwa bahasa asing lebih keren, lebih modern, lebih meyakinkan. Padahal, bangsa bangsa maju seperti Jepang, Prancis, dan Korea Selatan justru dikenal teguh mempertahankan bahasanya sendiri sebagai identitas, sekalipun mereka terbuka pada dunia global.

Di sisi lain, jangan pula kita menutup mata bahwa bahasa yang hidup memang selalu menyerap dan berubah. Bahasa Indonesia sendiri lahir dari proses penyerapan panjang, dari Sanskerta, Arab, Belanda, hingga Inggris. Persoalannya bukan pada perubahan itu sendiri, melainkan ketika perubahan itu membuat kita lupa akar dan kehilangan kemampuan berbahasa Indonesia yang baik saat dibutuhkan, dalam forum resmi, tulisan ilmiah, atau sekadar surat lamaran kerja.

Bahasa Daerah yang Kian Sunyi

Ancaman ini menjadi lebih serius jika kita melihat ke bahasa bahasa daerah. Indonesia memiliki ratusan bahasa daerah, sebuah kekayaan yang jarang dimiliki bangsa lain di dunia. Namun banyak di antaranya kini nyaris tak lagi dituturkan oleh generasi muda. Setiap bahasa daerah yang punah bukan hanya kehilangan kosakata, ia adalah padamnya satu cara pandang, satu sistem pengetahuan lokal, satu warisan leluhur yang tak akan pernah bisa disusun ulang.

Merawat bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan tidak boleh mengorbankan bahasa daerah sebagai akar keberagaman. Keduanya harus tumbuh berdampingan, sebagaimana semboyan bangsa ini sendiri mengajarkan, berbeda beda tetapi tetap satu.

Generasi Muda dan Ruang Digital

Ironisnya, generasi muda yang sering dituding merusak bahasa justru bisa menjadi kunci penyelamatnya. Ruang digital yang mereka kuasai adalah panggung besar tempat bahasa bisa dirayakan, bukan hanya dilupakan. Konten kreator yang membuat video berbahasa daerah, podcast yang mengulas sastra Indonesia dengan cara segar, atau tantangan menulis puisi di media sosial, semua ini membuktikan bahwa kecintaan pada bahasa bisa hadir dalam bentuk yang relevan dengan zaman.

Yang dibutuhkan bukan larangan untuk berbahasa gaul atau menyerap istilah asing, melainkan kesadaran akan konteks, tahu kapan harus luwes dan kapan harus menjaga kaidah. Inilah yang disebut kecakapan berbahasa yang sesungguhnya.

Penutup: Bahasa adalah Rumah

Bahasa bukan sekadar alat untuk saling memahami. Ia adalah rumah tempat sebuah bangsa menyimpan ingatan, nilai, dan jati dirinya. Ketika kita merawat bahasa, baik bahasa Indonesia maupun bahasa daerah, sesungguhnya kita sedang merawat siapa diri kita sebagai bangsa di tengah dunia yang terus berubah.

Pertanyaannya kini kembali kepada kita semua, khususnya generasi muda yang memegang masa depan bahasa ini di ujung jari mereka, akankah kita membiarkan bahasa hanya menjadi alat komunikasi yang efisien, atau kita pilih merawatnya sebagai cermin jati diri yang tak lekang oleh zaman?

Bahasa boleh berubah. Tetapi jangan sampai kita lupa, dari akar mana ia tumbuh.

Ilustrasi perpustakaan. Sumber: Pixabay (jarmoluk)