Konten dari Pengguna

Catatan Patriot Cilik: Ketika Anak-Anak Belajar Membaca Ruang

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rifat Farhan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Patriot Cilik SD N Soom dan SD Inpres SP 1 Senggi dalam pemetaan partisipatif Patriot Cilik bersama Tim 16 Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro di Kawasan Transmigrasi Senggi, Keerom, Papua. Sumber: Tim 16 Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro
zoom-in-whitePerbesar
Patriot Cilik SD N Soom dan SD Inpres SP 1 Senggi dalam pemetaan partisipatif Patriot Cilik bersama Tim 16 Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro di Kawasan Transmigrasi Senggi, Keerom, Papua. Sumber: Tim 16 Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro

Sebuah peta tidak selalu dimulai dari meja seorang perencana.

Di SD Negeri Soom, Kawasan Transmigrasi Senggi, Kabupaten Keerom, Papua, peta justru berawal dari cara anak-anak melihat lingkungan yang mereka tempati setiap hari. Mereka mengamati apa yang ada di sekitar, mengenali tempat-tempat yang mereka anggap penting, menandainya, lalu mencoba menggambarkan kembali ruang yang mereka kenal.

Sebanyak 20 siswa SD N Soom dan 30 siswa SD Inpres SP 1 Senggi mengikuti kegiatan pemetaan partisipatif bersama Tim Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro. Mereka diajak mengenali berbagai objek di lingkungan sekitar, menentukan tempat yang dianggap penting, kemudian menuangkannya ke dalam peta. Setelah itu, mereka melanjutkannya melalui Gambar Harapan, dengan membayangkan seperti apa lingkungan yang mereka inginkan.

Sekilas, kegiatan ini mungkin terlihat seperti aktivitas menggambar biasa. Namun, ada proses belajar yang lebih jauh di baliknya. Anak-anak mulai memahami bahwa ruang tempat mereka tumbuh bukan sekadar kumpulan rumah, jalan, kebun, sekolah, dan fasilitas. Setiap tempat punya posisi, fungsi, dan cerita yang berbeda bagi orang yang menggunakannya.

Cara Orang Dewasa dan Anak Membaca Lingkungan

Pengalaman kami di Kawasan Transmigrasi Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, pada tahun sebelumnya memberi pelajaran menarik. Ketika pemetaan dilakukan bersama orang dewasa dan anak-anak, keduanya sama-sama mampu menggambarkan lingkungan tempat tinggal mereka. Hanya saja, apa yang mereka perhatikan tidak selalu sama.

Orang dewasa cenderung melihat kawasan dalam skala yang lebih luas. Batas wilayah, status lahan, persoalan agraria, sejarah transmigrasi, hingga potensi ekonomi menjadi bagian dari pembicaraan. Ruang dibaca melalui pengalaman panjang mereka dalam melihat perubahan kawasan.

Anak-anak melihatnya dari jarak yang lebih dekat. Mereka memperhatikan jalan yang dilewati, jembatan, genangan, fasilitas umum, tempat bermain, rumah kosong, sampai tanaman yang mereka temui dalam perjalanan sehari-hari. Hal-hal yang mungkin dianggap kecil oleh orang dewasa justru bisa menjadi bagian penting dari pengalaman ruang bagi anak.

Perbedaan cara melihat ini bukan berarti salah satunya lebih penting. Justru di situlah keduanya bisa saling melengkapi.

Orang dewasa membawa pengetahuan tentang perubahan kawasan. Anak-anak membawa pengalaman tentang bagaimana ruang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi seorang anak, jalan bukan hanya garis yang menghubungkan dua titik. Jalan adalah rute menuju sekolah, tempat bertemu teman, atau bagian dari perjalanan yang mereka lakukan setiap hari. Begitu juga dengan jembatan, kebun, sungai, dan ruang terbuka. Tempat-tempat itu memiliki arti karena mereka bersentuhan langsung dengan kehidupan anak.

Anak-anak tidak perlu mengenal istilah aksesibilitas, konektivitas, atau kualitas ruang untuk menunjukkan persoalan di lingkungannya. Mereka cukup menunjuk tempatnya dan menceritakan apa yang mereka lihat atau alami.

Dari pengalaman tersebut, kami belajar bahwa sebuah kawasan tidak pernah hanya memiliki satu cerita. Ada cerita tentang lahan, ekonomi, batas wilayah, dan pembangunan. Tetapi ada pula cerita tentang bagaimana ruang itu digunakan oleh orang-orang yang hidup di dalamnya.

Ketika Lingkungan Menjadi Ruang Belajar

Cara anak-anak melihat lingkungan menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran di Senggi. Mereka tidak langsung diminta membayangkan masa depan. Mereka terlebih dahulu diajak melihat apa yang memang ada di sekitar seperti sekolah, rumah, jalan, kebun, ruang terbuka, dan berbagai objek lain yang mereka kenal.

Sebelum membayangkan ruang yang lebih baik, kita perlu mengenali ruang yang sedang kita tempati. Ketika seorang anak menggambarkan sebuah jalan, misalnya, yang penting bukan hanya garis yang muncul di atas kertas. Ada pengalaman di balik garis itu. Jalan yang mereka lewati, tempat yang dituju, orang-orang yang ditemui, atau bagian tertentu yang selalu mereka kenali dalam perjalanan.

Di titik inilah anak mulai belajar berpikir secara spasial. Mereka belajar memahami posisi, arah, jarak, dan hubungan antartempat, sekaligus melihat bagaimana manusia berhubungan dengan lingkungannya.

Gagasan ini sejalan dengan kajian Ataol, Krishnamurthy, dan van Wesemael yang meninjau 30 penelitian mengenai partisipasi anak dalam perencanaan dan desain lingkungan. Kajian tersebut menunjukkan bahwa anak dapat dilibatkan dalam berbagai pendekatan partisipatif untuk menghadirkan perspektif mereka dalam memahami dan membentuk lingkungan.

Mengajak anak membaca ruang, karena itu, bukan hanya soal membuat pembelajaran menjadi lebih menarik. Ada pengetahuan yang muncul ketika anak diberi kesempatan untuk menjelaskan lingkungannya dengan bahasa dan pengalaman mereka sendiri.

Peta sebagai Cara Belajar

Di sinilah pemetaan partisipatif memiliki nilai pendidikan.

Anak-anak tidak hanya melihat peta yang sudah dibuat orang dewasa. Mereka mengalami sendiri proses membuatnya. Dari lingkungan nyata, mereka kemudian memindahkannya ke dalam bentuk visual. Mereka belajar memilih apa yang dianggap penting, kemudian menyusunnya menjadi gambaran tentang ruang yang mereka kenal.

Proses seperti ini membuat pembelajaran terasa lebih dekat dengan kehidupan mereka.

Kepala SD Negeri Soom, Sri Muryani, melihat kegiatan tersebut sebagai kesempatan bagi anak-anak untuk belajar di luar kelas dan mengenali lingkungan secara langsung. Lingkungan sekitar tidak lagi hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga menjadi bagian dari proses belajar.

Bagi kawasan transmigrasi, pendekatan semacam ini menjadi menarik. Sekolah dan lingkungan tempat tinggal tidak harus menjadi dua ruang yang terpisah.

Kampung dapat menjadi ruang belajar. Jalan dapat menjadi bahan belajar. Lingkungan dapat menjadi sumber pengetahuan. Dan peta dapat menjadi salah satu cara untuk memahami semuanya.

Patriot Cilik menuangkan gambar harapan tentang kawasan di masa depan. Sumber: Tim 16 Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro

Setelah mengenali ruang yang ada, anak-anak kemudian melangkah ke Gambar Harapan. Mereka diberi kesempatan untuk menuangkan bayangan tentang lingkungan yang mereka inginkan.

Gambar tersebut tentu bukan rancangan pembangunan. Ia tidak menggantikan peta teknis, data pemerintah, ataupun dokumen perencanaan. Namun, proses ini menunjukkan bahwa belajar tentang ruang tidak berhenti pada mengenali apa yang sudah ada. Anak-anak juga dapat diajak membayangkan seperti apa ruang tersebut jika menjadi lebih baik.

Belajar dari Peta Anak

Pada akhirnya, peta yang dibuat anak-anak bukanlah pengganti peta teknis, data pemerintah, ataupun dokumen perencanaan.Nilainya justru terletak pada sesuatu yang sering kali sulit ditemukan dalam dokumen adalah pengalaman langsung dari orang yang menggunakan ruang tersebut.

Perencana membutuhkan data teknis. Pemerintah membutuhkan data administrasi. Masyarakat memiliki pengetahuan lokal. Anak-anak pun memiliki pengetahuan, meskipun bentuknya berbeda. Pengetahuan itu lahir dari berjalan, bermain, bersekolah, dan hidup di ruang yang sama setiap hari.

Karena itu, berbagai pengetahuan tersebut tidak harus dipertentangkan. Semuanya dapat menjadi bagian dari cara yang lebih lengkap untuk memahami sebuah kawasan.

Mungkin selama ini kita terlalu sering mengajarkan anak-anak untuk membaca peta yang dibuat oleh orang dewasa. Padahal, ada hal lain yang juga layak dipelajari yaitu bagaimana melihat kembali sebuah kampung melalui cara anak-anak memandangnya.

Sebab ruang tidak hanya dibentuk oleh garis, koordinat, dan batas wilayah. Ruang juga dibentuk oleh pengalaman orang-orang yang hidup di dalamnya.

Dan sebelum kita terlalu sibuk menentukan seperti apa sebuah kawasan seharusnya menjadi, mungkin kita perlu berhenti sejenak dan melihatnya dari mata mereka yang setiap hari hidup di dalamnya. Termasuk anak-anak.