Mereka Sudah Sejauh Itu, Kenapa Aku Masih Di Sini?

Siswa SMAN 71 Jakarta yang menuangkan pengamatan tentang fenomena sosial dan kehidupan masyarakat melalui tulisan dari sudut pandang generasi muda.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Rifaya Aysel Maharani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Rifaya Aysel Maharani
Pelajar SMAN 71 Jakarta

Pernah suatu malam saya membuka Instagram hanya karena bosan. Awalnya saya hanya ingin melihat-lihat selama beberapa menit, tetapi tanpa terasa, menit berubah menjadi jam.
Saat sedang scrolling, saya melihat teman yang baru saja memenangkan lomba. Ada juga yang baru bergabung dengan organisasi dan mengunggah momen liburan bersama keluarga.
Tentu, saya ikut senang melihat mereka. Namun, setelah beberapa saat, muncul pikiran, “Kok mereka sudah sejauh itu, ya? Sementara aku masih begini-begini saja?”
Mungkin banyak remaja pernah merasakan hal yang sama. Kita membuka media sosial untuk mencari hiburan, tetapi justru menutupnya dengan perasaan kurang percaya diri.
Kita Hanya Melihat Sebagian Cerita
Salah satu alasan media sosial bisa membuat kita merasa tertinggal adalah karena kita sering membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain yang hanya kita lihat dari layar.
Ketika seseorang mengunggah foto setelah memenangkan lomba, kita hanya melihat hasil akhirnya. Kita tidak melihat berapa lama dia berlatih, berapa kali dia gagal, atau rasa lelah yang mungkin dia rasakan selama prosesnya.
Begitu juga ketika seseorang mengunggah foto bersama banyak teman. Kita melihat mereka tertawa dan bersenang-senang, tetapi kita tidak tahu masalah yang mungkin sedang mereka hadapi.
Hal yang sama sebenarnya berlaku pada diri kita. Ketika sedang memiliki masalah, kita tentu tidak selalu ingin membagikannya di media sosial. Kita lebih sering mengunggah hal-hal yang menyenangkan atau membanggakan.
Artinya, kita sering membandingkan kehidupan kita yang lengkap dengan potongan kehidupan orang lain. Tentu saja, perbandingan seperti itu tidak akan terasa adil.
Remaja Memang Mudah Membandingkan Diri
Sebagai remaja, kita masih dalam proses mengenal diri sendiri. Kita mulai memikirkan banyak hal, mulai dari pertemanan, penampilan, prestasi, sampai rencana setelah sekolah.
Karena itu, pencapaian orang lain terkadang membuat kita ikut mempertanyakan diri sendiri.
Ketika teman mendapatkan nilai lebih tinggi, kita merasa kurang pintar. Ketika ada teman yang sering memenangkan lomba, kita merasa tidak memiliki kemampuan. Bahkan ketika melihat orang lain memiliki banyak teman, kita bisa mulai bertanya apakah diri kita cukup disukai.
Padahal, kelebihan orang lain tidak berarti kekurangan kita.
Kita juga sering lupa bahwa setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda. Ada yang pandai dalam akademik, ada yang percaya diri berbicara di depan umum, ada yang berbakat dalam olahraga, seni, atau bidang lainnya.
Masalahnya, kita sering terlalu sibuk melihat pencapaian orang lain sampai lupa menghargai perkembangan diri sendiri.
Tidak Semua Harus Dicapai Sekarang
Sebagai pelajar, saya juga sering melihat teman-teman yang sudah memiliki berbagai pencapaian. Ada yang aktif mengikuti lomba, organisasi, membuat karya, atau sudah mengetahui rencana setelah lulus sekolah.
Melihat mereka terkadang membuat saya merasa seolah-olah semua orang sudah berjalan begitu cepat, sementara saya masih berada di tempat yang sama.
Perasaan itu semakin terasa ketika melihat berbagai pencapaian mereka di media sosial. Melalui unggahan yang mereka bagikan, saya dapat melihat kegiatan dan pengalaman yang mereka jalani. Tanpa sadar, saya mulai membandingkan diri dengan mereka dan berpikir bahwa seharusnya saya juga bisa berada di sana.
Perasaan tersebut pernah saya alami ketika mencoba mendaftar sebagai anggota OSIS. Saya berharap bisa menjadi bagian dari organisasi tersebut dan memberikan kontribusi untuk sekolah. Namun, ternyata saya gagal.
Saya ingat sekali bagaimana rasanya ketika mendengar pengumuman tersebut. Ada rasa marah, kecewa, dan malu terhadap diri sendiri. Di benak saya sempat terlintas, “Apakah aku memang tidak pantas menjadi anggota OSIS?” dan “Kenapa mereka bisa, tetapi aku tidak bisa?”
Perasaan itu mungkin terdengar sederhana, tetapi saat mengalaminya sendiri, rasanya cukup berat. Saya mulai melihat kegagalan tersebut bukan hanya sebagai tidak lolos seleksi OSIS, tetapi seolah-olah sebagai tanda bahwa saya kurang mampu dibandingkan orang lain.
Terlebih lagi, ketika melihat media sosial, saya dapat melihat teman-teman yang berhasil lolos dan mulai menjalani berbagai kegiatan sebagai anggota OSIS. Melihat unggahan mereka tentang kegiatan, rapat, maupun pengalaman selama menjadi bagian dari OSIS terkadang membuat saya kembali merasa tertinggal.
Padahal, kalau dipikir lagi, tidak lolos sebagai anggota OSIS bukan berarti saya tidak memiliki kemampuan. Hanya saja, kesempatan itu memang belum menjadi milik saya.
Ada yang mendaftar dan langsung diterima, sementara yang lain harus mencoba berkali-kali sebelum akhirnya berhasil. Ada yang mendapatkan kesempatan lebih dulu, sementara yang lain harus menunggu lebih lama. Setiap orang memiliki proses yang berbeda untuk mencapai tujuannya.
Belum memiliki banyak pencapaian di usia remaja bukan berarti kita gagal. Kita masih memiliki banyak waktu untuk belajar dan mencoba lagi. Saya percaya bahwa setiap perjalanan yang kita lalui tidak ada yang sia-sia. Dari setiap pengalaman, kita dapat belajar dan menjadikannya sebagai bekal untuk melangkah ke depan.
Saya pun mulai memahami bahwa tidak semua hal harus dicapai sekarang. Kita tidak perlu memaksakan diri untuk meraih semuanya hanya karena melihat orang lain sudah lebih dahulu mendapatkannya.
Kesempatan Lain Bisa Datang
Saya sangat meyakini bahwa kegagalan dalam satu kesempatan bukan berarti perjalanan kita berhenti. Setelah gagal dalam seleksi OSIS, saya tetap berusaha mengikuti kegiatan ekstrakurikuler lain di sekolah.
Pada akhirnya, saya berhasil diterima menjadi salah satu anggota paduan suara.
Setelah diterima sebagai anggota paduan suara, saya berlatih keras bersama teman-teman untuk menghadapi berbagai kejuaraan menyanyi. Hingga akhirnya, tim paduan suara sekolah kami berhasil menjadi juara dalam salah satu kejuaraan menyanyi tingkat internasional.
Saya sangat bersyukur atas pencapaian tersebut. Dari pengalaman itu, saya semakin memahami sebuah peribahasa dalam bahasa Inggris yang berbunyi, “When one door closes, another door opens.”
Ketika satu pintu tertutup, bukan berarti semua pintu juga tertutup.
Saya mungkin gagal mendapatkan satu kesempatan, tetapi ternyata masih ada kesempatan lain yang bisa saya coba.
Media Sosial Bukan Musuh
Pengalaman tersebut juga membuat saya menyadari bahwa media sosial sebenarnya bukanlah musuh. Media sosial tetap memiliki banyak manfaat, seperti membantu kita mendapatkan informasi, mempelajari hal baru, mencari inspirasi, dan berkomunikasi dengan orang lain. Yang terpenting adalah bagaimana kita menggunakannya.
Jika setelah melihat konten tertentu kita justru merasa rendah diri dan terus membandingkan diri dengan orang lain, mungkin kita perlu mengurangi waktu melihatnya. Kita juga bisa memilih akun dan konten yang memberikan manfaat.
Ketika melihat keberhasilan orang lain, daripada bertanya, “Kenapa dia bisa, sedangkan aku tidak?”, lebih baik bertanya, “Apa yang bisa aku pelajari dari dia?”
Dengan begitu, pencapaian orang lain tidak menjadi alasan untuk merasa kurang, tetapi bisa menjadi motivasi untuk terus berkembang.
Kita Tidak Harus Menjadi Seperti Orang Lain
Setiap orang memiliki jalan yang berbeda. Tidak semua remaja harus memiliki prestasi, jumlah teman, atau tujuan hidup yang sama. Tidak semua orang juga harus berhasil pada usia yang sama.
Mungkin sekarang kita belum memiliki pencapaian yang bisa dibagikan di media sosial. Mungkin kita masih bingung menentukan masa depan atau masih mencari tahu apa yang sebenarnya kita sukai. Tidak apa-apa.
Menjadi remaja berarti masih belajar, termasuk belajar mengenal diri sendiri.
Jadi, ketika suatu saat kita kembali membuka media sosial dan mulai merasa tertinggal, mungkin kita perlu berhenti sebentar. Ingat bahwa yang kita lihat hanyalah sebagian kecil dari kehidupan orang lain.
Kita tidak harus menjadi seperti mereka untuk merasa cukup.
Sebab, hidup bukan perlombaan tentang siapa yang paling cepat sampai. Setiap orang memiliki waktunya sendiri untuk tumbuh, dan tidak apa-apa jika langkah kita tidak selalu sama dengan orang lain.
