Konten dari Pengguna

Apakah Benar Obat Hipertensi Menyebabkan Gagal Ginjal?

Rifda Aulia Putri Hapsari

Rifda Aulia Putri Hapsari

Saya Mahasiswi Universitas Islam Negeri Jakarta, Fakultas Ilmu Kesehatan, Prodi Farmasi

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rifda Aulia Putri Hapsari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi obat (sumber: https://pixabay.com/id/photos/pil-obat-obatan-tablet-medis-4897529/)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi obat (sumber: https://pixabay.com/id/photos/pil-obat-obatan-tablet-medis-4897529/)

Hipertensi merupakan kondisi Dimana tekanan darah sistolik dan diastolic meningkat melebihi batar normal yaitu sistolik diatas 140 mmHg dan tekanan diastolic di atas 90mmHg (Muwarni, 2011).Berdasarkan data Kementrian Kesehatan RI tahun 2023, menyatakan bahwa prevelensi hipertensi di Indonesia mencapai 3,1% yang menunjukan bahwa lebih dari sepertiga jumlah penduduk mengalami tekanan darah tinggi. Hipertensi merupakan salahsatu masalah Kesehatan utama di dunia. Kondisi ini dapat memicu berbagai komplikasi, termasuk penyakit jantung, stroke, dan gangguan pada ginjal. Jika tekanan darah terlalu tinggi yang dibiarkan secara terus menerus, maka dapat menyebabkan ginjal harus berkerja lebih keras dan jika berlangsung dalam waktu yang lama dapat menyebabkan kerusakan pada fungsi ginjal sebagai penyaring darah (Gultom & Sudaryo, 2023). Sehingga dapat dikatakan bahwa tekanan darah tinggi menjadi salah satu penyebab utama terjadinya gagal ginjal.

Ginjal merupakan organ yang memiliki peran penting dalam mengatur keseimbangan cairan elektrolit, asam basa, dan hormon. Jika ginjal mengalami kerusakan maka akan menimbulkan gangguan pada keseimbangan elektrolit seperti hiperkalemia, hipokalsemia, asidosis metabolic.dan juga dampak menimbulkan gangguan pada otot, kelainan tulang, hingga kematian (Brunzel,2018). Mengingat pentingnya peran ginjal, perhatian terhadap Kesehatan perlu ditingkatkan apalagi bagi penderita hipertensi yang cenderung mengalami penurunan fungsi ginjal secara perlahan bahkan tanpa gejala yang nyata.

Untuk mencegah kerusakan organ lebih jauh, dokter biasanya memberikan beberapa resep obat yang membantu menurunkan dan menjaga tekanan darah tetap stabil. Ada banyak jenis obat hipertensi, seperti Hidroklorotiazid, Reserpin, Propanolol, Kaptopril dan Nifedipil. Selain itu juga ada Captopril, Furosemide, Hidroklorotiazid dan Amlodipin (Depkes, 2007 dalam Taslim dkk, 2021). Namun, kebanyakan pasien merasa khawatir saat mendapati efek samping seperti lemas, sering buang air kecil, atau hasil laboratorium menunjukkan peningkatan kadar kreatinin. Padahal, hal tersebut tidak selalu berarti ginjal si pasien rusak, bisa juga sebagai respon tubuh terhadap masuknya obat.

Dalam penangan hipertensi secara farmakologi, pasien hipertensi akan diberikan obat-obatan yang terdiri dari golongan ACEI (Angiotensis Converting Enzyme Inhibitors), beta blocker, ARB (Angiotensi Receptor Bocker) dan golongan diuretic. Obat-obatan golongan ini dipilih karena umumnya memiliki efek samping yang ringan dan tidak terlalu bervariasi anatar individu. Beberapa efek samping yang mungkin terjadi yaitu pusing, sulit tidur, sakit kepala, dan batuk (JNC VIII, 2014). Meskipun begitu, menurut Wulandari (2019) Kedua golongan obat ini berkerja dengan cara menurunkan tekanan dalam pembuluh darah ginjal, sehingga mampu memperlambat kerusakan ginjal.

Obat antihipertensi digunakan untuk menurunkan tekanan darah hingga mencapai angka normal atau dalam tingkatan yang masih wajar dan masih dapat ditoleransi dalam tubuh. Tujuan utama dari pengobatan ini adalah untuk menjaga tekanan darah agar tetap stabil dan mencegah timbulnya komplikasi pada penderita hipertensi. Mengingat tingginya angka kerjadian hipertensi di Indonesia diperlukannya peningkatan mutu pelayanan Kesehatan menjadi hal yang sangat penting. Pemilihan terapi yang tepat sangat terhadap keberhasilan pengendalian tekanan darah pasien (Sukun dkk, 2024). Oleh karena itu pentingnya memahami pola penggunaan obat hipertensi menjadi Langkah penting utnuk mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas terapi yang diberikan kepada pasien.

Jadi, banyak disinformasi atau kesalah pahaman bahwa obat hipertensi merusak ginjal tidak benar atau hoaks. Yang benar adalah obat bisa membantu menjaga tekanan darah agar ginjal tetap sehat, selama dikonsumsi sesuai anjuran dan di bawah pengawasan dokter. Memantau fungsi ginjal secara rutin, menjaga pola makan, dan hidup sehat juga bagian penting dari pengelolaan hipertensi.

Selain paham pentingnya mengatur jadwal konsumsi obat hipertensi secara teratur, mereka yag didiagnosis hipertensi juga perlu tahu bahwa perubahan gaya hidup sehat bisa membantu menurunkan tekanan darah, bahkan dalam beberapa kasus mengurangi ketergantungan pada obat sehingga lebih "meringankan" kerja ginjal. Pola makan dengan rendah garam, rutin berolahraga, menjaga berat badan ideal, mengelola stres, serta berhenti merokok atau konsumsi alkohol merupakan langkah-langkah penting dalam pengendalian hipertensi (Hidayati & Kush Adiwijaya, 2008). Kombinasi antara pengobatan medis dan gaya hidup sehat memberikan hasil yang jauh lebih optimal dalam menjaga kesehatan jangka panjang, termasuk fungsi ginjal.

Selain itu, salah satu hal terpenting yaitu dalam hipertensi adalah pemantauan fungsi ginjal secara rutin. Pemeriksaan seperti kadar keratin, laju filtasi glomerulus (GFR), dan kadar albumin dalam urin sangat membantu dalam menilai kinerja ginjak dan mendetekgi gangguan ginjal sejak awal. Deteksi atau diagnose gangguan ginjal yang terlambat dalam menyebabkan gagal ginjal yang membutuhkan terapi dialysis seumur hidup (Biljak dkk, 2016 dalam Susianti, 2019).

Di sisi lain, masih banyak Masyarakat yang mencoba menggabungkan pengobatan medis dengan penggunaan herbal tanda berkonsultasi dengan dokter. Padahal, tidak semua tanaman herbal aman digunakan bersamaan dengan obat antihipertensi, beberapa diantaranya mengandung kadar kalium yang tinggi, yang jika dikomsumsi secara berlebihan dapat membebani kinerja ginjal, terutama bagi pasien yang sudah dibatasi dalam mengonsumsi elektrolit tertentu . Dalam pengelolaan hipertensi, pola makan juga sangat penting termasuk dengan mengurangi konsumsi natrium dan dalam kondisi tertentu perlunya meningkatkan asupan kalium secara seimbang. Menurut Fitri dkk (2018), menyatakan bahwa asupan natrium yang tinggi dan ketidakseimbangan asupan kalium menjadi salah satu factor penyebab hipertensi terutama pada kelompok lanjut usia.

Salah satu tanaman herbal yang aman dan sering digunakan adalah daun sirsak (Annona muricata), yang mengandung senyawa aktif yang berpotensi menurunkan tekanan darah. Rebusan daun sirsak telah diteliti memiliki efek antihipertensi, namun harus tetap digunakan secara berhati-hati. Menurut Mustaqimah & Hakim(2022) menunjukan bahwa kombinasi Annona muricata dan captopril dapat mempengaruhi profile farmakokinetika obat antihipertensi jika dikonsumsi secara bersamaan. Sehingga penggunaan daun sirsak sebagai terapi tambahan sebaiknya tetap berada di bawah pengawasan medis, agar manfaatnya dapat diperoleh tanpa menimbulkan risiko terhapad efektivitas atau keamanan terapi hipertensi yang sedang dijalani pasien.

Daftar Pustaka

Fitri, Y., Rusmikawati, R., Zulfah, S., & Nurbaiti, N. (2018). Asupan Natrium dan Kalium Sebagai Faktor Penyebab Hipertensi Pada Usia Lanjut. AcTion: Aceh Nutrition Journal, 3(2), 158-163.

Gultom, M. D., & Sudaryo, M. K. (2023). Hubungan hipertensi dengan kejadian gagal ginjal kronik di RSUD DR. Djasamen Saragih Kota Pematang Siantar tahun 2020. Jurnal Epidemiologi Kesehatan Komunitas, 8(1), 40-47.

Hidayati, T., & Haripurnomo Kushadiwijaya, S. (2008). Hubungan Antara Hipertensi, Merokok dan Minuman Suplemen Energi dan Kejadian Penyakit Ginjal Kronik. Berita kedokteran masyarakat, 24(2), 90.

James, P.A., Oparil, S., Carter, B.L., Cushman, W.C., Dennison-Himmelfarb, C., Handler, J., Ortiz, E., 2014, Evidence-Based Guidline for the Management of High Blood Pressure in Adults: (JNC8), Jama, 311(5), 507-20.

Kemenkes RI, K. K. R. I. (2023). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2022. In Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. https://www.kemkes.go.id/downloads/resources/download/pusdatin/profilkesehatan-indonesia/Profil-Kesehatan-2021.pdf

Saputri, R., Mustaqimah, M., & Hakim, A. R. (2022). Interaksi Farmakokinetika Kombinasi Captopril Dengan Rebusan Daun Sirsak (Annona Muricata L.) Pada Tikus Putih Jantan (Rattus Norvegicus) Galur Wistar. Jurnal Farmasi Indonesia, 19(2), 339-347.

Sukun, S. B. (2024). PROFIL PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI DI INSTALASI RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT “X” KOTA MALANG PERIODE JANUARI-DESEMBER 2022 (Doctoral dissertation, STIKES Panti Waluya Malang).

Susianti, H. (2019). Memahami interpretasi pemeriksaan laboratorium penyakit ginjal kronis. Universitas Brawijaya Press.

Taslim, Tuty, and Yani Anggela Betris. "Gambaran pemberian obat pada penderita hipertensi Di Puskesmas Rawang." Jurnal Riset Kefarmasian Indonesia 2.2 (2020): 72-79.

Wulandari, T. (2019). Pola Penggunaan Kombinasi Dua Obat Antihipertensi Pada Pasien Hipertensi. Jurnal ILKES (Jurnal Ilmu Kesehatan), 10(1), 77-82.