Konten dari Pengguna

Gak Ngincer Jabatan, Yang Penting Mental Aman: Prinsip Kerja Gen Z

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rifdah Salma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kalau kamu bertanya pada generasi senior di dunia kerja tentang apa target utama karier mereka, jawabannya kemungkinan besar tidak jauh dari kata "promosi", "naik jabatan", atau "jadi manajer sebelum usia 30". Ada ambisi besar untuk memanjat tangga karier setinggi-tingginya.

Namun, kalau pertanyaan yang sama dilemparkan ke anak-anak Gen Z yang baru beberapa tahun mencicipi dunia kerja, jawabannya sering kali bikin geleng-geleng kepala: "Aku kerja biasa aja, yang penting gajian lancar, mental aman, dan Sabtu-Minggu nggak diganggu obrolan kantor."

Obsesi pada gelar jabatan mentereng resmi bergeser. Bagi anak muda masa kini, menduduki posisi tinggi tapi harus dibayar dengan burnout, maag kumat tiap malam, dan kiriman pesan kerjaan di jam 10 malam adalah bentuk kesepakatan yang sangat tidak menguntungkan.

Matematika Sederhana: Tanggung Jawab vs Ketenangan Jiwa

Skeptisisme Gen Z terhadap promosi jabatan bukan tanpa alasan. Banyak dari mereka yang mengamati secara langsung bagaimana kehidupan para atasannya di kantor: gaji memang naik, tapi jam tidur terpotong setengah, akhir pekan harus tetap buka laptop, dan stres berkepanjangan karena dikejar target harian.

Kalkulasi logis pun berlaku. Kenaikan gaji saat naik jabatan sering kali dianggap tidak sebanding dengan lonjakan tanggung jawab dan tingkat stres yang harus ditanggung.

Prinsip mereka sangat tegas: "Kerja sesuai deskripsi pekerjaan saja (jobdesk)." Kerjakan tugas dengan penuh tanggung jawab selama jam kantor berlaku, selesai tepat waktu, lalu pulang untuk menikmati kehidupan pribadi yang sesungguhnya.

Sakralnya Hari Libur dan Boundaries Digital

Hal yang paling diharamkan oleh karyawan Gen Z adalah munculnya notifikasi aplikasi percakapan kantor di hari Sabtu atau Minggu.

Bagi generasi yang sangat mengagungkan work-life balance ini, hari libur adalah hak mutlak yang tidak bisa ditawar. Mematikan notifikasi pesan kerja, memasang status Out of Office, atau menolak membalas email di luar jam kerja bukan dianggap sebagai bentuk ketidakprofesionalan, melainkan cara sehat untuk menjaga batas (boundaries) diri.

Mereka menyadari bahwa pekerjaan tidak akan pernah ada habisnya, tetapi kesehatan mental yang sudah terlanjur hancur butuh waktu dan biaya mahal untuk dipulihkan.

Ilustrasi kerja relax. Foto oleh Elena Mozhvilo dari Unsplash

Perubahan cara pandang ini menandai pergeseran besar dalam budaya kerja modern. Bekerja kini dikembalikan pada fungsi dasarnya: sebuah sarana untuk mencari nafkah demi membiayai hobi, liburan, dan kehidupan pribadi (work to live).

Sukses berkarier tidak lagi selalu diukur dari seberapa panjang gelar atau jabatan yang tertera di profil LinkedIn, melainkan sejauh mana seseorang bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan baik tanpa harus kehilangan kedamaian pikiran dan waktu berkualitas bersama orang-orang tersayang.

Jadi, kalau ada rekan kerjamu yang kelihatan santai dan sama sekali tidak tertarik ikut persaingan naik jabatan di kantor, jangan dipikir mereka tidak punya ambisi. Ambisi mereka cuma beda: ambisi untuk hidup tenang dan bahagia!