Konten dari Pengguna

Kesetaraan Gender: Haruskah Satu Pihak Menanggung Risiko?

Riffa Fauriza

Riffa Fauriza

Mahasiswa - Universitas Pamulang Prodi Ilmu Komunikasi

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Riffa Fauriza tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Pexels / Ratul Saha
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Pexels / Ratul Saha

Perdebatan tentang kesetaraan gender sering muncul di ruang publik, terutama ketika ada situasi yang berkaitan dengan keselamatan. Dalam kondisi tertentu, sebuah peristiwa bisa memicu berbagai usulan yang bertujuan untuk mengurangi risiko di masa depan.

Salah satu yang kerap muncul adalah ide pengaturan berdasarkan gender dengan alasan keselamatan. Sekilas, gagasan ini terlihat sebagai bentuk upaya melindungi. Namun, tidak sedikit yang mempertanyakan apakah pendekatan seperti ini benar-benar adil jika pada akhirnya menempatkan kelompok lain pada posisi yang dianggap lebih berisiko.

Di sinilah perdebatan mulai berkembang. Ada yang melihatnya sebagai langkah antisipasi terhadap risiko, sementara yang lain menganggap hal tersebut justru menciptakan ketimpangan baru. Ketika satu pihak merasa lebih dilindungi, pihak lain bisa saja merasa dijadikan “penanggung risiko”.

Kondisi ini menunjukkan bahwa kesetaraan gender sering kali dipahami secara berbeda. Bagi sebagian orang, kesetaraan berarti perlakuan yang sama dalam segala situasi. Sementara bagi yang lain, kesetaraan lebih tentang keadilan—di mana perlakuan bisa disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan.

Masalahnya, ketika upaya meningkatkan keselamatan justru menimbulkan rasa ketidakadilan, muncul dilema yang tidak sederhana. Apakah solusi yang diberikan benar-benar menciptakan rasa aman untuk semua, atau hanya memindahkan risiko dari satu pihak ke pihak lain?

Di ruang digital, perdebatan seperti ini sering kali berkembang tanpa titik temu. Argumen yang muncul cenderung saling bertolak belakang, tanpa ruang untuk melihat bahwa kedua sisi sebenarnya memiliki dasar pemikiran masing-masing.

Pada akhirnya, kesetaraan mungkin bukan soal memilih antara sama atau berbeda, tetapi bagaimana menciptakan sistem yang tetap adil tanpa mengorbankan siapa pun. Karena rasa aman dan keselamatan seharusnya menjadi hak semua orang, bukan hanya sebagian.